Indonesia-Imperial College London bahas kerja sama uji klinis tahap III vaksin saRNA

Indonesia-Imperial College London bahas kerja sama uji klinis tahap III vaksin saRNA
Ilustrasi. Pemerintah Indonesia dan Imperial College London (ICL) terus membahas kemungkinan dilakukannya uji klinis tahap ketiga vaksin saRNA di tanah air. (Arek Socha from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Pemerintah Indonesia dan Imperial College London (ICL) terus membahas kemungkinan dilakukannya uji klinis tahap ketiga vaksin saRNA di tanah air, kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pembahasan tersebut dilakukan saat kunjungan Menlu Retno dan delegasi Indonesia ke London, Inggris pada awal pekan ini.

Menlu menerangkan, vaksin  saRNA  memiliki  arti  penting  karena  memungkinkan pengembangan  unit  manufaktur  modular  atau  pop  up  yang  dapat memastikan akses cepat ke vaksin di manapun di dunia.

Vaksin saRNA memiliki kelebihan yang signifikan dibandingkan platform vaksin asam nukleat lainnya dengan menghasilkan tingkat ekspresi protein yang lebih tinggi secara eksponensial dari pada RNA (mRNA) atau DNA.

Sifat saRNA yang memperkuat diri (self-amplifying) berarti bahwa dosis yang diperlukan jauh lebih rendah untuk menginduksi kekebalan pelindung, sehingga memberikan keuntungan yang signifikan pada biaya dan kecepatan produksi.

Menlu melanjutkan bahwa dalam kunjungan tersebut, Kementerian Kesehatan RI menandatangani LoI (Letter of Intent) dengan ILC dan VacEquity Global Health Ltd. (VGH) mengenai berbagai potensi kerja sama strategis di masa mendatang.

Kerja sama tersebut mencakup penelitian, pendidikan dan inovasi terkait  pengembangan platform vaksin self-amplifying RNA (saRNA); pencegahan dan  pengendalian penyakit  menular; teknologi  kesehatan; dan peningkatan SDM di bidang kesehatan.

“Selama  berada  di  London,  kita  juga  melakukan  pertemuan  dengan beberapa  peneliti dan pelajar  Indonesia  di  bidang  kedokteran  khususnya dalam pengembangan alat diagnostik, efek terapeutik, dan vaksin COVID-19,” ujar Menlu Retno.

Efek terapeutik mengacu pada respons setelah perawatan dalam bentuk apa pun, yang hasilnya dinilai bermanfaat atau menguntungkan.

Menlu Retno menegaskan bahwa pertemuan di London tersebut sangat bermanfaat bagi upaya Indonesia dalam memperkuat health security (keamanan kesehatan) dan kemandirian nasional dalam menghadapi  penyakit menular di masa depan.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here