
India: Impor minyak Rusia adalah bagian dari strategi manajemen inflasi

Seorang staf mengisi bahan bakar kendaraan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di New Delhi pada 6 April 2022. (Xinhua/Javed Dar)
Impor minyak Rusia untuk India telah melonjak menjadi antara 12 persen dan 13 persen impor dari semua sumber sejak Februari, dari sekitar 2 persen sebelumnya, kata Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman.
Jakarta (Indonesia Window) – Impor minyak Rusia adalah bagian dari strategi manajemen inflasi India, dan bahwa negara-negara lain juga melakukan hal serupa, kata Menteri Keuangan India mengatakan pada Kamis (8/9).Terlepas dari tekanan Barat, India tidak mengutuk invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 24 Februari, melainkan menyerukan solusi diplomatik untuk krisis dan diakhirinya kekerasan.Rusia selama beberapa dekade telah menjadi pemasok perangkat keras pertahanan asing terbesar India.Pengiriman minyak mentah dari Rusia untuk India telah melonjak menjadi antara 12 persen dan 13 persen impor dari semua sumber sejak Februari, dari sekitar 2 persen sebelumnya, kata Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman.India adalah konsumen dan importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia.Sitharaman mengatakan, Perdana Menteri Narendra Modi pantas mendapatkan kredit untuk menyeimbangkan perdagangan dan hubungan lainnya dengan berbagai negara.“Saya memuji kenegarawanan perdana menteri untuk memastikan secara global bahwa kami memang menjaga hubungan dengan semua negara tetapi belum berhasil mendapatkan bahan bakar Rusia, yang dilakukan Jepang hari ini, yang dilakukan beberapa negara lain,” kata Sitharaman dalam sebuah acara di New Delhi.Para menteri pemerintah India telah berulang kali mengatakan bahwa negara Asia Selatan itu perlu terus membeli energi dari Rusia untuk menjaga inflasi tetap terkendali.Sitharaman mengatakan, manajemen inflasi India adalah "pelaksanaan dari begitu banyak kegiatan, yang sebagian besar berada di luar (bidang) kebijakan moneter."Harga eceran minyak di India pada bulan Juli adalah 6,71 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Meskipun tingkat inflasi tahunan kini telah turun selama tiga bulan, namun angkanya telah melampaui batas toleransi bank sentral sebesar 2 persen hingga 6 persen selama tujuh bulan berturut-turut.Kerja sama
Presiden Vladimir Putin pada Rabu (7/9) menegaskan bahwa Rusia siap bekerja sama dengan negara mana pun, terutama dalam konteks meningkatnya permintaan energi global.Berbicara dalam sesi pleno Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-7, Putin mengatakan, “Dengan memperoleh gas alam dari Rusia selama beberapa dekade, ekonomi negara-negara maju di Eropa memiliki keunggulan kompetitif yang jelas… jika mereka yakin bahwa mereka tidak membutuhkan keuntungan semacam itu, hal ini tidak masalah bagi kami karena permintaan akan sumber daya energi di dunia sangat besar.”Putin menegaskan kembali bahwa Rusia siap bekerja sama dengan negara mana pun yang bersedia, sembari lebih lanjut menekankan bahwa banyak negara tertarik untuk bekerja sama dengan Rusia.Sumber: Reuters; XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ekspor minyak sawit Indonesia meningkat 244 juta USD di bulan Juli
Indonesia
•
21 Sep 2020

Nepal akan cabut larangan impor kendaraan dan produk minuman keras
Indonesia
•
07 Dec 2022

China Energy laporkan rekor produksi listrik untuk H1 2023
Indonesia
•
26 Jul 2023

Bank Dunia pangkas perkiraan PDB Asia Timur 2022 karena perang Ukraina
Indonesia
•
05 Apr 2022


Berita Terbaru

Feature – Pandan Indonesia menyeberangi laut, Hainan ubah harumnya menjadi industri
Indonesia
•
23 Aug 2026

Perang dagang memanas, Kanada balas tarif AS senilai 353,3 triliun rupiah
Indonesia
•
23 Aug 2026

Saham Unitree Robotics melonjak 460,34 persen saat debut pertama di Bursa Shanghai
Indonesia
•
20 Aug 2026

Biodiesel Indonesia dorong harga cpo tetap tinggi, bisa tembus 19,6 juta rupiah per ton
Indonesia
•
20 Aug 2026
