Biodiesel Indonesia dorong harga cpo tetap tinggi, bisa tembus 19,6 juta rupiah per ton

Kendaraan pengangkut kelapa sawit yang diproduksi oleh Guangxi Hepu County Huilaibao Machinery Manufacturing Co., Ltd., beroperasi di perkebunan kelapa sawit di Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Kuala Lumpur, Malaysia (Xinhua/Indonesia Window) – Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Malaysia diperkirakan akan tetap tinggi sepanjang sisa tahun 2026 hingga awal 2027, seiring dengan meningkatnya permintaan biodiesel dan risiko gangguan pasokan yang dipicu El Nino sehingga memperketat pasar minyak nabati global, menurut sejumlah lembaga riset.

BMI Country Risk and Industry Research menaikkan perkiraan harga rata-rata tahun 2026 untuk kontrak berjangka CPO bulan terdekat yang diperdagangkan di Bursa Malaysia menjadi 4.453 ringgit per ton, naik dari sebelumnya 4.300 ringgit, dengan mempertimbangkan faktor menyusutnya surplus produksi global akibat pertumbuhan konsumsi yang melampaui pasokan.

*1 Ringgit Malaysia = 4.393 rupiah

"Kami memperkirakan produksi CPO global akan mencapai 81,4 juta ton pada musim 2026/2027, sebuah penurunan tipis sebesar 20.000 ton dibandingkan musim 2025/2026," ungkap BMI dalam sebuah catatan pada Rabu (19/8).

Konsumsi global diperkirakan akan meningkat 2,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 79,9 juta ton, sehingga mengurangi surplus produksi dari 3,6 juta ton pada musim 2025/2026.

BMI memperkirakan harga akan tetap kuat hingga kuartal pertama 2027 sebelum perlahan melandai seiring meredanya risiko El Nino.

Lembaga riset itu juga memproyeksikan harga CPO mencapai rata-rata 4.543 ringgit per ton pada 2027, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan tahun 2026, yang didukung berlanjutnya tren harga tinggi dari kuartal kedua serta permintaan struktural baru imbas perluasan mandat biodiesel.

Sementara itu, Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Council/MPOC) juga memperkirakan harga CPO akan tetap kuat di atas level 4.600 ringgit per ton pada September, didukung faktor fundamental pasokan yang semakin ketat serta gangguan geopolitik yang terus berlanjut terhadap arus perdagangan global.

MPOC menyatakan kontrak berjangka CPO untuk tahun 2027 di Bursa Malaysia Derivatives diperdagangkan di atas 5.000 ringgit per ton pada pertengahan Agustus, yang mencerminkan kekhawatiran pasar mengenai potensi dampak El Nino.

Permintaan CPO Indonesia juga berpotensi menguat seiring berakhirnya masa transisi tiga bulan untuk menghabiskan sisa stok biodiesel B40 pada September, kata lembaga itu.

"Meski demikian, risiko penurunan harga masih ada," ujar MPOC, seraya menyebutkan faktor-faktor seperti meredanya hambatan logistik di Laut Hitam, masuknya pasokan minyak bunga matahari dari panen baru ke pasar ekspor, serta potensi penurunan harga energi jika ketegangan geopolitik mereda. Faktor-faktor tersebut dapat memicu koreksi harga-harga minyak nabati, tambah MPOC.

Lembaga riset Malaysia lainnya, Kenanga Research, juga memperkirakan harga minyak nabati, termasuk minyak kelapa sawit, akan tetap kuat hingga paruh kedua 2026 dan berlanjut hingga memasuki 2027, didukung permintaan biodiesel yang lebih tinggi serta risiko fenomena El Nino yang parah.

Lembaga riset itu mempertahankan proyeksinya untuk harga CPO pada 2026 di angka 4.400 ringgit per ton dan proyeksi pada 2027 di angka 4.450 ringgit per ton.     

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait