
Ilmuwan China usulkan metode penanggalan inovatif untuk sedimen fluvial yang kompleks

Foto dari udara yang diabadikan pada 18 Juli 2020 ini memperlihatkan pemandangan lahan basah Sungai Buh di Danau Qinghai di Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Yang Tao)
Penanggalan sedimen fluvial yang inovatif membantu memahami hubungan antara area permukiman manusia, perubahan iklim, dan frekuensi bencana banjir dalam skala waktu yang panjang, khususnya di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.
Lanzhou, China (Xinhua) – Para ilmuwan China telah mengusulkan metode penanggalan yang inovatif terkait sedimen fluvial yang kompleks, memberikan perspektif baru untuk memahami Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dalam berbagai rentang waktu, demikian menurut Universitas Lanzhou.Metode baru itu membantu memahami hubungan antara area permukiman manusia, perubahan iklim, dan frekuensi bencana banjir dalam skala waktu yang panjang, khususnya di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, tutur Li Guoqiang, seorang profesor di College of Earth and Environmental Sciences di Universitas Lanzhou.Dijuluki ‘menara air Asia’, Dataran Tinggi Qinghai-Tibet menyediakan pasokan air untuk sejumlah sungai di kawasan Asia. Bencana banjir di dataran tinggi tersebut makin meningkat secara drastis dalam beberapa dekade terakhir di tengah pemanasan global.Tim gabungan yang terdiri dari para ilmuwan dari Universitas Lanzhou, Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), dan beberapa institusi lainnya, menetapkan metode baru pendaran terstimulasi optik (optical stimulated luminescence/OSL) untuk penanggalan sedimen fluvial kompleks dengan menggunakan beragam teknik, seperti analisis karakteristik pendaran, pemodelan dan perhitungan usia, perbandingan usia kuarsa OSL, serta usia penanggalan radiokarbon, menurut Li.Metode baru itu telah diverifikasi efektif melalui penanggalan sedimen fluvial di situs arkeologi Shalongka di bagian timur laut Dataran Tinggi Qinghai-Tibet. Metode itu juga memberikan dasar ilmiah untuk memprediksi dan mengatasi perubahan iklim, imbuh Li.Hasil studi tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Quaternary Science Review.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China kembangkan robot 4D dengan persepsi sentuhan
Indonesia
•
01 Oct 2021

Tim ilmuwan China tingkatkan resolusi simulasi iklim-laut global jadi 1 kilometer
Indonesia
•
18 May 2025

Populasi global ibis jambul tembus 9.000 ekor
Indonesia
•
08 Dec 2022

Wahanaa antariksa China Shenzhou-15 sukses ‘docking’ dengan kombinasi stasiun luar angkasa
Indonesia
•
30 Nov 2022


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
