
Kelompok bisnis Australia incar hubungan yang lebih erat dengan China

Orang-orang mengunjungi stan Australia di China National Convention Center dalam Pameran Perdagangan Jasa Internasional China (China International Fair for Trade in Services/CIFTIS) 2022 di Beijing, ibu kota China, pada 4 September 2022. (Xinhua/Ren Chao)
Hubungan bisnis Australia-China telah terjalin lama dan memiliki potensi untuk diperluas di berbagai bidang kerja sama, terutama dengan adanya Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) antara ASEAN dan lima negara mitra.
Sydney, Australia (Xinhua) – Australia dan China, yang telah menikmati hubungan bisnis sejak lama, memiliki potensi untuk memperluas bidang kerja sama, demikian disampaikan oleh David Olsson, presiden nasional Dewan Bisnis Australia China (Australia China Business Council/ACBC)."Bekerja sama mengatasi tantangan iklim dapat membuka potensi dalam memperluas perdagangan antara kedua negara dan sangat penting untuk mengembangkan aksi iklim menjadi lebih efektif dan hemat biaya," kata Olsson kepada Xinhua dalam wawancara tertulis baru-baru ini, di saat tahun ini menandai 50 tahun pembentukan hubungan diplomatik China-Australia.Olsson, yang telah bekerja di China dan juga bersama dengan China selama hampir tiga dekade, mengatakan hubungan Australia-China didasari pada sikap saling melengkapi yang kuat dalam perdagangan dan ekonomi, serta hubungan personal, bisnis, dan budaya yang telah berlangsung lama."China merupakan mitra dagang terbesar Australia, dan Australia adalah pemasok sumber daya pertambangan dan mineral yang penting dan andal, pemasok produk pertanian dan makanan yang berkualitas tinggi, serta penyedia berbagai layanan yang dapat membantu China mempertahankan pertumbuhan ekonominya," imbuh Olsson.Berbicara tentang Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), yang terdiri dari 15 negara Asia-Pasifik termasuk 10 negara anggota ASEAN dan lima mitra dagang mereka (China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru), Olsson mengatakan bahwa perjanjian tersebut, bersama dengan target iklim emisi nol bersih dari kedua negara, dapat memberikan dasar yang kuat untuk memajukan diskusi dengan China.Perkembangan ekonomi China sangat luar biasa, dan tidak diragukan lagi bahwa kebangkitan China selama beberapa dekade telah membentuk kembali perekonomian global dan politik dunia, katanya."Tahun-tahun mendatang akan mendatangkan hasil yang besar bagi rakyat China dan dunia," imbuhnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Industri manufaktur Indonesia di level ekspansif saat pandemik
Indonesia
•
14 Jan 2021

Pasar kerja China tetap stabil pada 2022
Indonesia
•
18 Jan 2023

Penjualan NEV China pada Juni 2023 diperkirakan capai rekor tertinggi dalam sejarah
Indonesia
•
05 Jul 2023

Minyak melonjak setelah UE rencanakan gabung AS embargo minyak Rusia
Indonesia
•
22 Mar 2022


Berita Terbaru

Suhu panas hilangkan 573 miliar jam kerja, potensi kerugian tembus 19,37 kuadriliun rupiah
Indonesia
•
06 Nov 2026

Hampir sepertiga penduduk Kanada tertekan secara finansial, kota industri justru yang paling terdampak
Indonesia
•
07 Nov 2026

Kota asal Alibaba perkuat jaringan bisnis di Indonesia, Kamar Dagang Hangzhou resmi dibentuk
Indonesia
•
06 Nov 2026

Investasi China dan Hong Kong di Indonesia tembus 322,9 triliun rupiah, RSM bentuk China Desk
Indonesia
•
05 Nov 2026
