
NASA lakukan investigasi kecelakaan kendaraan udara pertama di luar Bumi

Foto berikut ini adalah foto resmi helikopter Mars yang diunggah di situs web NASA. (Sumber: NASA)
Helikopter Mars Ingenuity tiba di Kawah Jezero Mars pada 18 Februari 2021, dibawa pada bagian perut wahana penjelajah (rover) Perseverance milik NASA.
Los Angeles, AS (Xinhua/Indonesia Window) – Para insinyur NASA telah menyelesaikan investigasi terhadap Helikopter Mars Ingenuity milik badan antariksa Amerika Serikat (AS) tersebut, yang mengalami kerusakan permanen di Planet Merah sejak penerbangan terakhirnya pada Januari tahun ini.Ingenuity merupakan kendaraan udara pertama yang terbang di luar Bumi. Helikopter ini dirancang sebagai demonstrasi teknologi untuk melakukan hingga lima penerbangan uji coba eksperimental selama 30 hari.Ingenuity telah beroperasi selama hampir tiga tahun, melakukan 72 penerbangan, dan terbang lebih dari 30 kali lebih jauh dari yang direncanakan, serta mencatat total durasi penerbangan lebih dari dua jam, kata NASA pada Rabu (11/12).Dalam penerbangan terakhirnya pada 18 Januari 2024, Ingenuity terbang hingga mencapai ketinggian 12 meter, melayang-layang, dan sempat mengabadikan sejumlah gambar. Helikopter itu mulai bergerak turun dan kembali ke permukaan Mars sebelum akhirnya memutus komunikasi.Keesokan harinya, misi tersebut memulai kembali komunikasi, dan foto-foto yang tiba enam hari setelah penerbangan terakhirnya menunjukkan bahwa Ingenuity mengalami kerusakan parah pada bilah rotornya, menurut NASA.Investigasi menyimpulkan bahwa ketidakmampuan sistem navigasi Ingenuity untuk memberikan data yang akurat selama penerbangan kemungkinan besar menyebabkan rentetan peristiwa yang mengakhiri misi tersebut.Helikopter tersebut tiba di Kawah Jezero Mars pada 18 Februari 2021, dibawa pada bagian perut wahana penjelajah (rover) Perseverance milik NASA.Meskipun Penerbangan 72 membuat Ingenuity tidak dapat terbang secara permanen, helikopter ini masih memancarkan data uji cuaca dan avionik ke rover Perseverance sebanyak satu kali dalam sepekan. Informasi cuaca ini dapat membantu para penjelajah Planet Merah di masa mendatang, kata NASA.Temuan ini diharapkan dapat menguntungkan helikopter-helikopter Mars berikutnya, serta wahana antariksa lain yang akan beroperasi di luar Bumi, kata NASA.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Robot pendamping berbasis AI yang dikembangkan perusahaan China tarik perhatian investor
Indonesia
•
15 Jan 2025

Perusahaan telekomunikasi China teken kesepakatan majukan ekosistem media digital Saudi
Indonesia
•
12 Nov 2022

Badan antariksa nasional Taiwan berganti nama menjadi TASA
Indonesia
•
07 Jan 2023

Iran kembangkan ‘drone’ yang mampu serang kota-kota di Israel
Indonesia
•
13 Sep 2022


Berita Terbaru

Ilmuwan peringatkan karhutla bisa rusak permanen permafrost Bumi
Indonesia
•
13 Jun 2026

Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap
Indonesia
•
12 Jun 2026

Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya
Indonesia
•
11 Jun 2026

Feature – Teknologi canggih dukung upaya konservasi panda di China
Indonesia
•
11 Jun 2026
