
Ilmuwan China biakkan galur babi berkualitas tinggi baru

Ilustrasi. (Marek Piwnicki on Unsplash)
Galur babi baru berkualitas tinggi yang diberi nama babi Lansi, menjadi sebuah pencapaian yang akan membantu mengurangi ketergantungan China pada ras babi asing.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah ilmuwan China berhasil membiakkan galur (strain) babi berkualitas tinggi baru yang diberi nama babi Lansi, sebuah pencapaian yang membantu mengurangi ketergantungan negara itu pada ras babi asing.Galur babi baru, yang dibiakkan oleh tim peneliti yang dipimpin Li Kui dari Institut Genomika Pertanian di Shenzhen di bawah naungan Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS), baru-baru ini telah disetujui oleh komite sumber daya genetik ternak dan unggas nasional Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China.Keberhasilan pembiakan galur babi Lansi tersebut menandai hak kekayaan intelektual independen dari ras babi China, dan menyediakan teknologi penting serta pengalaman berharga untuk pengembangan sejumlah besar ras babi impor di China, kata Li.China merupakan produsen dan konsumen babi terbesar di dunia, dengan produksi dan konsumsi daging babi masing-masing mencapai 44 persen dan 46 persen dari total global. Namun, lebih dari 90 persen babi yang digunakan untuk produksi komersial bergantung pada ras impor, papar Li.Sejak 2010, tim Li telah menggunakan teknologi pembiakan biologis baru seperti pembiakan dengan bantuan penanda molekuler dan pembiakan dengan bantuan genom utuh untuk membudidayakan babi biakan yang efisien dan berkualitas tinggi berdasarkan ras babi impor komersial utama.Tim ini telah membangun populasi pembiakan dengan lebih dari 2.000 ekor babi biakan asli, dan mengembangkan serangkaian sistem basis data dan perangkat lunak analisis pembiakan, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi pembiakan, mempersingkat waktu pembiakan, dan meningkatkan akurasi pembiakan, urai Li.Tim ini telah berhasil membudidayakan tiga galur khusus babi Lansi selama 14 tahun. Menurut lembaga otoritatif pihak ketiga, sifat-sifat ekonomi utama dan ketahanan terhadap penyakit dari galur-galur baru ini telah ditingkatkan secara signifikan dibandingkan dengan varietas asli yang diimpor, menunjukkan prospek pasar yang luas, imbuh Li.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ikan langka ini kembali ditemukan di Kamboja setelah ‘menghilang’ selama hampir 20 tahun
Indonesia
•
25 Oct 2024

Sel surya perovskit terbaru hasilkan efisiensi fotokonversi tinggi sebesar 27,2 persen
Indonesia
•
17 Nov 2025

COVID-19 – Perlindungan vaksin Pfizer berkurang setelah dua dosis
Indonesia
•
28 Nov 2021

China bangun bola transparan bawah tanah terbesar di dunia untuk tangkap ‘partikel hantu’
Indonesia
•
12 Oct 2024


Berita Terbaru

Ilmuwan peringatkan karhutla bisa rusak permanen permafrost Bumi
Indonesia
•
13 Jun 2026

Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap
Indonesia
•
12 Jun 2026

Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya
Indonesia
•
11 Jun 2026

Feature – Teknologi canggih dukung upaya konservasi panda di China
Indonesia
•
11 Jun 2026
