Harga minyak mentah melonjak, pengguna kendaraan di Selandia Baru lakukan ‘panic buying’

Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Auckland, Selandia Baru, pada 30 Juni 2023. (Xinhua/Zhao Gang)

Harga minyak mentah Brent melonjak 18 persen menjadi 110 dolar AS per barel saat perdagangan kembali dibuka pada Senin (9/3/2026), mendorong pengguna kendaraan untuk mengantre di SPBU selama akhir pekan guna mengisi tangki mereka sebelum harga semakin meningkat.

 

Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Para pengguna kendaraan di Selandia Baru berbondong-bondong mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) setelah harga minyak melonjak melampaui 100 dolar AS per barel akibat ketegangan di Timur Tengah, khawatir akan kenaikan tajam harga bahan bakar di dalam negeri.

*1 dolar AS = 16.919 rupiah

Harga minyak mentah Brent melonjak 18 persen menjadi 110 dolar AS per barel saat perdagangan kembali dibuka pada Senin (9/3), mendorong pengguna kendaraan untuk mengantre di SPBU selama akhir pekan guna mengisi tangki mereka sebelum harga semakin meningkat.

Waitomo Group, peritel bahan bakar milik Selandia Baru yang dikenal dengan bahan bakar berbiaya rendah, melaporkan lonjakan permintaan sebesar 15 hingga 20 persen pekan lalu seiring harga Singapore Platts, tolok ukur penting Asia-Pasifik untuk produk minyak olahan, naik sekitar 60 dolar AS per barel.

Ini merupakan salah satu lonjakan terbesar yang pernah dialami perusahaan tersebut dalam 25 tahun terakhir, menurut Chief Executive Waitomo Group Simon Parham dalam komentar yang dilaporkan oleh Radio New Zealand.

Tidak ada risiko kekurangan pasokan di Selandia Baru, dengan persediaan untuk 20 hari dan lebih dari 80 persen pasokan menghindari Selat Hormuz yang sedang bergejolak, imbuh Parham.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait