Harga kontrak berjangka minyak mentah turun 5 persen seiring prospek kesepakatan AS-Iran

Foto yang diabadikan pada 21 Desember 2025 ini menunjukkan anjungan minyak dan gas lepas pantai di Ladang Minyak Bohai. (Xinhua/Du Penghui)

Harga kontrak berjangka minyak mentah melemah sekitar 5 persen menyusul kemajuan yang dilaporkan dalam perundingan damai antara AS dan Iran.

 

New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Harga kontrak berjangka minyak mentah melemah sekitar 5 persen pada Ahad (24/5) malam saat perdagangan dibuka untuk pekan baru, menyusul kemajuan yang dilaporkan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman pada Juli 2026 sempat turun 5,35 dolar AS, atau 5,53 persen, menjadi 91,25 dolar AS per barel. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman pada Juli turun 5,57 dolar AS, atau 5,38 persen, menjadi 97,97 dolar AS per barel pada level terendahnya.

*1 dolar AS = 17.717 rupiah

Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (23/5) mengumumkan bahwa perundingan damai dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan", dengan menunggu finalisasi antara AS, Iran, dan negara-negara terkait lainnya di Timur Tengah.

Sebuah rancangan kesepakatan yang segera ditandatangani oleh AS dan Iran mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, di mana dalam periode tersebut, Selat Hormuz akan dibuka kembali, Iran dapat menjual minyak secara bebas, dan perundingan akan dilaksanakan mengenai pembatasan program nuklir Iran, lapor Axios mengutip pernyataan pejabat AS pada Sabtu.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa AS siap untuk memulai "pembicaraan yang sangat serius" mengenai program nuklir Iran jika negara itu membuka kembali Selat Hormuz, lapor The New York Times pada Ahad.

Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran pada Ahad menuturkan sebanyak 33 kapal telah melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah berkoordinasi dan memperoleh izin dari pasukannya.

Kendati demikian, Hamad Hussain, ekonom komoditas di Capital Economics, memperingatkan bahwa pasokan energi akan sulit pulih dengan cepat ke tingkat sebelum dimulainya perang di Iran akibat kerusakan fasilitas, terhentinya produksi minyak, serta hambatan yang lebih luas terkait pelayaran melintasi Selat Hormuz.

Harga minyak akan tetap tinggi untuk beberapa waktu dan baru akan mulai menunjukkan tren penurunan seiring dengan meningkatnya keseimbangan pasokan-permintaan yang signifikan dalam pasar minyak, yang kemungkinan besar baru terjadi sekitar pertengahan hingga akhir 2027, tutur Hussain.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait