Hamas sebut tetap berkomitmen pada gencatan senjata meski Israel lakukan "pelanggaran"

Hamas tetap berkomitmen pada

Seorang warga Palestina terlihat di sebuah jalan yang dipenuhi bangunan yang hancur di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 27 Oktober 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Hamas tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata dengan Israel, meskipun Israel telah melanggarnya dengan melancarkan serangan baru yang menewaskan warga sipil di Gaza.

Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Hamas pada Rabu (29/10) mengatakan pihaknya tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata dengan Israel, dan menuding Israel telah melanggarnya.

Dalam pernyataan persnya, Hamas mengatakan serangan terbaru Israel di Gaza menunjukkan "niatnya untuk merusak kesepakatan gencatan senjata dan memaksakan realitas baru dengan kekerasan, di tengah keterlibatan pemerintah Amerika Serikat (AS)."

Pernyataan itu muncul saat Israel dan Hamas saling tuding melakukan pelanggaran gencatan senjata dalam beberapa hari belakangan ini.

Pada Selasa (28/10), Israel mengatakan sisa-sisa jasad yang diserahkan Hamas pada Senin (27/10) malam merupakan bagian tubuh seorang sandera yang jenazahnya telah dievakuasi oleh militer Israel sekitar dua tahun lalu.

Kemudian, sumber Hamas mengatakan Israel menolak masuknya tim dari Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) dan faksi Palestina ke Gaza City timur untuk mencari sisa-sisa jasad tawanan Israel.

Army Radio milik pemerintah Israel kemudian melaporkan bahwa pasukan Israel menembakkan artileri ke Kota Rafah di Gaza selatan setelah Hamas menargetkan tentara Israel dan menembak mati seorang tentara Israel. Hamas membantah terlibat dalam insiden tersebut.

Tak lama kemudian, Israel mulai melancarkan serangan baru di Gaza di bawah instruksi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyusul apa yang disebut Israel sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas.

Serangan dalam semalam tersebut menewaskan 104 warga Palestina, termasuk 46 anak-anak dan 20 perempuan, kata otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Rabu.

Merespons hal tersebut, Hamas mengatakan pihaknya menunda penyerahan jenazah sandera Israel yang dijadwalkan pada Selasa malam, menuding Israel melakukan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.

Pada Rabu, Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata akan tetap berlaku, serta menambahkan bahwa Israel "harus membalas" karena tentaranya tewas. Kemudian, militer Israel mengatakan mereka "telah memulai kembali pemberlakuan gencatan senjata" usai melancarkan gelombang serangan udara.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait