
WSJ: General Motors PHK lebih dari 1.000 karyawan divisi perangkat lunak

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 30 Mei 2009 ini menunjukkan logo GM di depan kantor pusat General Motors di Detroit, Michigan, Amerika Serikat. (Xinhua/Gu Xinrong)
General Motors melakukan PHK terhadap lebih dari 1.000 karyawan divisi perangkat lunak (software) dan layanan mereka di seluruh dunia, membalikkan sebagian perekrutan besar-besarannya dalam beberapa tahun terakhir.
New York City, AS (Xinhua/Indonesia Window) – General Motors (GM) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan divisi perangkat lunak (software) dan layanan mereka di seluruh dunia, membalikkan sebagian perekrutan besar-besarannya dalam beberapa tahun terakhir, papar laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (19/8) mengutip seorang narasumber yang mengetahui hal tersebut.PHK ini mencakup sekitar 600 orang yang berbasis di sekitar kantor pusat perusahaan tersebut di Detroit, sementara angka total PHK tidak diketahui, menurut laporan itu.GM mempekerjakan ribuan pegawai bergaji tetap (salaried worker) di bidang perangkat lunak dan bidang teknologi lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Kini, produsen-produsen mobil konvensional mulai melirik opsi untuk mengembangkan kendaraan yang lebih pintar yang dapat diperbarui layaknya smartphone, kata laporan tersebut."PHK ini terjadi sekitar dua bulan setelah GM menunjuk dua mantan eksekutif Apple untuk memimpin divisi yang berfokus pada aspek digital dari bisnisnya, seperti kendaraan terhubung (connected vehicle), infotainment, dan sistem asistensi pengemudi canggih (advanced driver-assistance system/ADAS)," sebut laporan WSJ.Pada Juni, GM mempromosikan dua mantan eksekutif Apple, Baris Cetinok dan Dave Richardson, untuk menjalankan bisnis perangkat lunak dan layanannya. Keduanya direkrut tahun lalu di bawah arahan Mike Abbott, mantan eksekutif Apple lainnya yang mengundurkan diri sebagai kepala perangkat lunak GM pada Maret lalu karena alasan kesehatan.PHK ini terjadi setelah Cetinok dan Richardson melakukan tinjauan ulang terhadap divisi perangkat lunak produsen mobil tersebut dan memutuskan untuk merampingkan operasionalnya, demikian menurut seorang narasumber yang mengetahui hal tersebut.Dalam beberapa tahun terakhir, GM dan para produsen mobil konvensional lainnya berlomba-lomba untuk mengejar ketertinggalan mereka dari para pesaing seperti Tesla dan perusahaan rintisan kendaraan listrik yang berbasis di China dengan mengembangkan perangkat lunak yang dapat menambah fitur atau menyempurnakan pengoperasian kendaraan melalui pembaruan nirkabel, ungkap laporan itu.Perusahaan-perusahaan otomotif sedang mengejar pertumbuhan pendapatan dengan membujuk para pemilik mobil mendaftarkan diri untuk pembaruan dan layanan kendaraan, seperti hands-free driving (mengemudi tanpa mengharuskan tangan berada di kemudi) serta fitur-fitur lain yang mengotomatisasi beberapa fungsi pada situasi tertentu, tambah laporan WSJ.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Wawancara – Pakar sebut hubungan China-Inggris dalam investasi dan perdagangan untungkan kedua pihak
Indonesia
•
24 Jul 2023

Pembatasan perdagangan Taiwan terhadap produk China diduga langgar aturan WTO
Indonesia
•
18 Aug 2023

Telkom dan Freeport akan hadirkan 5G Mining, pertama di Asia Tenggara
Indonesia
•
13 Oct 2021

Pariwisata Selandia Baru tunjukkan pemulihan berkelanjutan
Indonesia
•
08 Mar 2024


Berita Terbaru

IPO SpaceX raup 1.348 triliun rupiah, Elon Musk makin dekat jadi triliuner pertama dunia
Indonesia
•
13 Jun 2026

Aset lintas batas Hong Kong tembus Rp53 kuadriliun, lampaui Swiss
Indonesia
•
13 Jun 2026

UKM Singapura paling tidak optimistis ekspansi ke luar negeri
Indonesia
•
12 Jun 2026

ZTE borong 3 penghargaan Selular Awards 2026, perkuat inovasi teknologi jaringan di Indonesia
Indonesia
•
11 Jun 2026
