
PM Qatar peringatkan gencatan senjata Gaza akan gagal tanpa langkah cepat menuju kesepakatan damai permanen

Orang-orang berjalan di antara puing-puing bangunan di daerah Zeitoun, sebelah tenggara Gaza City, pada 27 November 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Gencatan senjata permanen memerlukan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza serta pemulihan stabilitas dan kebebasan bergerak bagi warga Palestina.
Doha, Qatar (Xinhua/Indonesia Window) – Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani pada Sabtu (6/12) memperingatkan bahwa gencatan senjata di Gaza telah mencapai "momen kritis" dan berisiko gagal tanpa kemajuan segera menuju kesepakatan damai permanen.Berbicara di Forum Doha (Doha Forum), sang PM mengatakan gencatan senjata permanen memerlukan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza serta pemulihan stabilitas dan kebebasan bergerak bagi warga Palestina.Peringatan ini menyoroti rapuhnya kesepakatan yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, Turkiye, dan Amerika Serikat (AS), yang mulai berlaku pada 10 Oktober. Meskipun gencatan senjata awalnya menghentikan pertempuran, pelaksanaan fase keduanya terhenti pada beberapa poin penting, termasuk pelucutan senjata Hamas.Di bawah rencana yang disetujui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada November, Israel akan menarik diri dari posisinya sementara Gaza akan dikelola oleh badan pemerintahan transisi yang dikenal sebagai ‘Dewan Perdamaian’ (Board of Peace). Rencana ini juga mengamanatkan pengerahan sebuah pasukan stabilisasi internasional.Namun, susunan dewan tersebut masih belum pasti. Meski secara teoritis Presiden AS Donald Trump akan memimpin dewan tersebut, identitas para anggota lainnya belum diumumkan. Selain itu, sejumlah laporan menunjukkan bahwa negara-negara Arab dan Muslim menyatakan keraguan terhadap pasukan stabilisasi tersebut, khawatir hal itu dapat menyebabkan keterlibatan dalam pertempuran dengan militan Palestina.Menteri Luar Negeri (Menlu) Turkiye Hakan Fidan mengatakan kepada forum itu bahwa tujuan utama saat ini "seharusnya memisahkan warga Palestina dari Israel."Menlu Mesir Badr Abdelatty menekankan seruan tersebut, mengusulkan agar pasukan itu ditempatkan sepanjang "Garis Kuning" (Yellow Line) untuk memverifikasi dan memantau penghentian permusuhan.Forum Doha yang berlangsung selama dua hari ini dibuka pada Sabtu dengan mengusung tema ‘Keadilan dalam Aksi’ (Justice in Action), yang mempertemukan para pembuat kebijakan untuk membahas gencatan senjata yang genting karena Israel dan Hamas terus saling menuduh melanggar ketentuan-ketentuannya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Taiwan targetkan 15,1 persen pasokan listrik dari energi terbarukan pada 2025
Indonesia
•
24 Jul 2022

KTT NATO ditutup di tengah perpecahan dan penentangan
Indonesia
•
14 Jul 2023

China larang penangkapan ikan di Sungai Yangtze selama 10 tahun
Indonesia
•
24 Mar 2024

Iran desak Washington kembali ke perjanjian nuklir 2015
Indonesia
•
07 Feb 2021


Berita Terbaru

Trump rencanakan perpanjangan blokade terhadap Iran
Indonesia
•
30 Apr 2026

Analisis – Akankah aliansi oposisi baru Israel ‘Together’ patahkan dominasi Netanyahu dalam politik Israel?
Indonesia
•
30 Apr 2026

Partai Demokrat ingin cegah Trump serang Kuba, Senat AS tak setuju
Indonesia
•
30 Apr 2026

Deplu AS akan terbitkan paspor dalam jumlah terbatas yang tampilkan potret Trump
Indonesia
•
30 Apr 2026
