
Gelombang panas perburuk kualitas udara, ‘penalti iklim’ bagi ratusan juta manusia

Sejumlah kendaraan dan orang melintas di sebuah jalan di tengah kabut asap saat kualitas udara memburuk di New Delhi, ibu kota India, pada 9 November 2021. (Xinhua/Partha Sarkar)
‘Penalti iklim’ ini secara spesifik merujuk pada efek amplifikasi perubahan iklim terhadap produksi ozon di tingkat darat, yang berdampak negatif pada udara yang dihirup manusia. Kawasan dengan proyeksi penalti iklim terkuat, terutama di Asia, adalah rumah bagi kurang lebih seperempat populasi dunia.
Jenewa, Swiss (Xinhua) – Gelombang panas yang parah dan panjang serta kebakaran hutan yang semakin sering terjadi dapat berujung pada kualitas udara yang lebih buruk lagi, menjadi "penalti iklim" tambahan bagi ratusan juta orang, demikian peringatan yang dikeluarkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) pada Rabu (7/9).Menurut Buletin Kualitas Udara dan Iklim tahunan yang dirilis WMO pada Rabu (7/9), kenaikan frekuensi, intensitas, dan durasi gelombang panas yang telah diantisipasi serta kenaikan terkait jumlah insiden kebakaran hutan pada abad ini berpotensi memperburuk kualitas udara, mengancam kesehatan manusia dan ekosistem."Karena pemanasan global, kebakaran hutan dan polusi udara yang ditimbulkannya diperkirakan akan meningkat, bahkan dalam skenario emisi rendah. Selain dampak kesehatan pada manusia, kondisi ini juga akan memengaruhi ekosistem karena polutan mengendap dari atmosfer ke permukaan Bumi," tutur Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas."Kita telah melihatnya dalam fenomena gelombang panas di Eropa dan China pada tahun ini ketika kondisi atmosfer tinggi stabil, sinar matahari dan kecepatan angin yang rendah menjadi kondusif bagi level polusi yang tinggi," imbuhnya."Ini menjadi gambaran masa depan karena kami memprediksi frekuensi, intensitas, dan durasi gelombang panas semakin meningkat, yang dapat berujung pada kualitas udara yang lebih buruk lagi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai 'penalti iklim'," lanjutnya.‘Penalti iklim’ ini secara spesifik merujuk pada efek amplifikasi perubahan iklim terhadap produksi ozon di tingkat darat, yang berdampak negatif pada udara yang dihirup manusia. Kawasan dengan proyeksi penalti iklim terkuat, terutama di Asia, adalah rumah bagi kurang lebih seperempat populasi dunia.Perubahan iklim dapat memperburuk terjadinya polusi ozon permukaan, yang berakibat pada semakin buruknya dampak kesehatan bagi ratusan juta manusia.
Foto yang diabadikan pada 26 September 2022 ini menunjukkan properti yang terbakar di Hemet, Riverside County, California, Amerika Serikat. (Xinhua)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Prof. Saiful Mujani: Mathla’ul Anwar harus tetap Inklusif
Indonesia
•
13 Mar 2021

Siswa Malaysia raih penghargaan internasional untuk penemuan pakan ternak berkelanjutan
Indonesia
•
03 Oct 2021

SIT Insantama soroti pemulihan ekonomi dalam program kompetisi tahunan
Indonesia
•
25 Feb 2023

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza bertambah jadi 22.722 orang
Indonesia
•
07 Jan 2024


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
