
Peneliti ungkap faktor di balik pergeseran ke atas garis batas pohon di dunia

Foto dari udara yang diabadikan pada 19 Juli 2023 ini menunjukkan pemandangan Gunung Zibai di wilayah Liuba, Provinsi Shaanxi, China barat laut. (Xinhua/Zhang Lan)
Garis batas pohon pegunungan sensitif terhadap perubahan iklim, dengan pergeseran paling cepat terjadi di wilayah tropis, dengan tingkat pergeseran rata-rata 3,1 meter per tahun.
Beijing, China (Xinhua) – Sekelompok peneliti berhasil mengungkap faktor-faktor yang mendorong garis batas pohon (treeline) di dunia bergeser ke atas, memberikan bukti baru mengenai dampak perubahan iklim terhadap ekosistem global, menurut China Science Daily pada Kamis (21/9).Treeline pegunungan sensitif terhadap perubahan iklim. Namun, cara iklim memengaruhi garis batas pohon pegunungan belum sepenuhnya dipahami, karena bisa juga terdampak oleh aktivitas manusia.Sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Zeng Zhenzhong dari Fakultas Ilmu dan Teknik Lingkungan di Southern University of Science and Technology China, membuat sebuah basis data garis batas pohon pegunungan global dengan mengumpulkan gambar-gambar pengindraan jauh beresolusi tinggi dari sekitar 916.000 kilometer garis batas pohon pegunungan lingkar tertutup di 243 gunung di seluruh dunia.Garis batas pohon pegunungan lingkar tertutup tersebut mengelilingi sebuah gunung dan kecil kemungkinannya terpengaruh oleh aktivitas manusia dan penggunaan lahan.Setelah menganalisis basis data itu, kelompok tersebut menemukan bahwa suhu merupakan faktor pendorong iklim utama terhadap elevasi garis batas pohon di kawasan boreal dan tropis, sedangkan curah hujan menjadi faktor utama di kawasan beriklim sedang.Sekitar 70 persen treeline pegunungan lingkar tertutup telah bergeser ke atas, dengan tingkat pergeseran rata-rata 1,2 meter per tahun selama 10 tahun pertama abad ke-21, menurut studi itu, yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology.Studi tersebut juga menemukan bahwa garis batas pohon bergeser paling cepat di wilayah tropis, dengan tingkat pergeseran rata-rata 3,1 meter per tahun. Sebagai contoh, di Malawi, Papua Nugini, dan Indonesia, beberapa garis batas pohon bergeser ke atas dengan kecepatan 10 meter per tahun.Meskipun pergeseran ke atas berarti semakin banyak pohon yang dapat menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer dan memperluas habitat beberapa spesies hutan, hal itu juga menimbulkan tantangan bagi ekosistem rapuh di dataran tinggi, menurut He Xinyue, penulis pertama makalah tersebut.Tumbuhan dan hewan di dataran tinggi kerap kali sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Ketika garis batas pohon bergeser ke atas, mereka mulai bersaing memperebutkan ruang dan makanan, yang dapat sangat mengancam beberapa spesies endemik, imbuh He.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kosmonot Rusia akan berjalan di luar ruang angkasa pada 19 Januari
Indonesia
•
11 Jan 2022

China umumkan tugas misi antariksa berawak Shenzhou-17
Indonesia
•
25 Oct 2023

Studi sebut penderita Long COVID alami perubahan pada fungsi otak
Indonesia
•
02 May 2023

Setelah 9 tahun dikembangkan, vaksin selesma ini mulai tunjukkan harapan
Indonesia
•
28 Aug 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
