Fokus Berita – Teheran kukuh pertahankan garis merah untuk pembicaraan putaran kedua dengan AS di Jenewa

Foto yang diabadikan pada 27 Januari 2026 ini menunjukkan sebuah baliho raksasa di Teheran, Iran. (Xinhua/Shadati)

Teheran bersedia untuk berkompromi terkait program nuklirnya sebagai imbalan atas keringanan sanksi, namun menegaskan garis merah yang tidak dapat ditawar.

 

Kairo, Mesir (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi bertolak ke Jenewa pada Ahad (15/2) untuk menghadiri putaran kedua pembicaraan tidak langsung Teheran-Washington, meskipun pihak-pihak terkait memaparkan visi yang sangat berbeda mengenai seperti apa kesepakatan yang seharusnya dicapai, menyingkap rapuhnya fondasi dorongan diplomatik yang kembali dihidupkan tersebut.

Araghchi akan memimpin sebuah delegasi ‘diplomatik dan khusus’ untuk menghadiri pertemuan tersebut pada Selasa (17/2). Dia diperkirakan akan bertemu dengan beberapa pejabat, antara lain Menlu Swiss Ignazio Cassis, Menlu Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi, dan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) Rafael Grossi, menurut sebuah pernyataan kementerian.

Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, akan memimpin delegasi Amerika, menurut berbagai laporan media.

Pertemuan itu menyusul putaran pertama di Muscat, Oman, pada 6 Februari lalu yang digambarkan oleh kedua belah pihak sebagai "awal yang baik" namun tidak menghasilkan terobosan nyata.

Dalam pernyataan publik menjelang pertemuan Jenewa, para pejabat Iran menunjukkan sikap keterbukaan bersyarat yang disertai sikap tegas. Berbicara kepada BBC pada Ahad, Wakil Menlu Iran Majid Takht-Ravanchi mengisyaratkan kesediaan Teheran untuk berkompromi terkait program nuklirnya sebagai imbalan atas keringanan sanksi, namun menegaskan garis merah yang tidak dapat ditawar.

"Bola ada di tangan Amerika untuk membuktikan bahwa mereka ingin membuat kesepakatan," ujar Takht-Ravanchi.

Dia mengonfirmasi bahwa Iran dapat mendiskusikan pengayaan uranium yang diperkaya 60 persen sebagai bukti fleksibilitas negara tersebut, tetapi dengan tegas menolak penghentian total pengayaan di tanah Iran.

"Ini tidak lagi menjadi opsi," kata Takht-Ravanchi, menegaskan kembali bahwa program rudal Iran tidak dapat dinegosiasikan.

Hamid Ghanbari, wakil menlu untuk diplomasi ekonomi sekaligus anggota tim negosiasi Iran, mengungkapkan bahwa diskusi sebelumnya di Muscat menjajaki investasi gabungan di proyek-proyek energi dan pertambangan serta potensi pembelian pesawat terbang buatan AS, menurut kantor berita semiresmi Iran, Fars.

Ghanbari menegaskan bahwa kesepakatan apa pun harus memastikan pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri dengan cara yang "nyata dan dapat digunakan".

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa meskipun Teheran sedang mencari "kesepakatan serius", mereka tidak akan menerima penghentian total pengayaan uranium.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, kepala staf angkatan bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, memperingatkan pada Ahad bahwa perang apa pun akan membawa konsekuensi bagi AS.

"Jika Trump ingin berperang dengan Iran, mengapa dia berbicara tentang negosiasi?" kata Mousavi, seraya menambahkan bahwa memasuki sebuah konflik akan "memberinya pelajaran" dan mengakhiri "gertakannya."

Sementara itu, sinyal-sinyal juga beragam dari Washington. Menlu AS Marco Rubio mengatakan bahwa Trump lebih memilih diplomasi dan penyelesaian melalui negosiasi. "Tidak ada yang pernah bisa membuat kesepakatan yang sukses dengan Iran, tetapi kami akan mencobanya," ujar Rubio dalam sebuah konferensi pers di Bratislava, ibu kota Slovakia.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, setelah pertemuannya dengan Trump di Washington, juga mengatakan bahwa Trump "bertekad untuk mengeksplorasi semua kemungkinan guna mencapai kesepakatan, yang diyakininya dapat tercapai sekarang."

Namun, Trump sendiri tetap membuka opsi militer. Dia mengatakan kepada wartawan pada Kamis (12/2) bahwa jika negosiasi dengan Iran gagal, "Kita harus beralih ke tahap kedua. Tahap dua akan sangat sulit bagi mereka."

Pada Jumat (13/2), Trump mengatakan bahwa USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, telah diperintahkan untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak berpeluru kendali yang telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah.

Ketegangan tampaknya berjalan lebih dalam lagi di balik layar. CBS News melaporkan pada Ahad bahwa Trump mengatakan kepada Netanyahu sejak Desember bahwa dirinya akan mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran jika kesepakatan tidak dapat dicapai.

CBS News melaporkan bahwa pejabat AS sejak itu telah memulai diskusi internal mengenai cara mendukung operasi semacam itu, "termasuk penyediaan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat Israel dan masalah sensitif terkait izin terbang dari negara-negara di sepanjang rute potensial."

Sementara itu, Netanyahu telah menetapkan standar maksimal. Berbicara dalam sebuah konferensi publik pada Ahad, dia bersikeras bahwa setiap kesepakatan potensial dengan Iran harus mencakup penghapusan material nuklir, penghentian pengayaan uranium, dan pembatasan rudal balistik.

Netanyahu juga menegaskan kembali keraguannya "tentang kesepakatan apa pun dengan Iran."

Dengan kapal-kapal perang AS yang berkumpul di kawasan tersebut dan kedua belah pihak bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan, banyak yang meyakini bahwa pembicaraan mendatang pada Selasa dapat menguji apakah diplomasi masih dapat menawarkan jalan ke depan, atau hanya menjadi pembuka untuk konfrontasi yang lebih dalam.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait