Fokus Berita – Perusahaan China perdalam kerja sama dengan ASEAN bangun ekosistem lintas perbatasan lebih tangguh

Foto menunjukkan Aimei Longteng Indonesia Co., Ltd., yang didirikan oleh sebuah perusahaan baja dari Provinsi Jiangsu, resmi mulai beroperasi di Kawasan Industri Batang, Provinsi Jawa Tengah, pada 15 April 2026. (Sumber: Istimewa)

Nanjing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di kantor Kang Dingwu, manajer umum sebuah perusahaan teknologi di China timur, sebuah peta dunia yang ditandai dengan pin berwarna-warni menggambarkan jejak global yang semakin meluas. Hal ini menjadi bukti nyata bagaimana perusahaan-perusahaan China memanfaatkan momentum gelombang baru ekspansi ke luar negeri.

Perusahaan tersebut, sebuah perusahaan manufaktur milik swasta di Jiangsu, mencatatkan nilai ekspor ke negara-negara yang berpartisipasi dalam Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra sebesar 556 juta yuan pada 2025, melonjak 40 persen secara tahunan (year on year/yoy).

*1 yuan = 2.522 rupiah

Kang mengatakan sebagian besar momentum itu didorong oleh permintaan yang tumbuh pesat di seluruh Asia Tenggara, di mana perusahaan-perusahaan China semakin banyak menciptakan ruang pasar baru.

"Kendaraan listrik beroda empat kami, yang dilengkapi kanopi untuk perlindungan dari sinar matahari dan hujan serta dua baris tempat duduk yang juga berfungsi sebagai ruang kargo, terbukti sangat populer di kalangan rumah tangga yang lebih besar di pasar ASEAN," tambah Kang.

Tarif preferensial di dalam Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN, yang dimungkinkan berkat sertifikat asal barang, telah semakin mempertajam daya saing perusahaan China tersebut, sementara prosedur bea cukai yang disederhanakan telah memastikan pengiriman pesanan ke luar negeri tepat waktu.

Meningkatnya perusahaan-perusahaan semacam itu mencerminkan mesin manufaktur yang lebih luas. Di Distrik Xishan, Wuxi, salah satu pusat produksi sepeda listrik utama di China, kendaraan-kendaraan meluncur dari lini perakitan dengan kecepatan 2,4 unit per menit, untuk dikirim ke pasar di seluruh dunia. Data bea cukai menunjukkan pertumbuhan yang stabil dalam pengiriman ke negara-negara ASEAN sepanjang tahun 2025.

Tahun 2026 menandai peringatan lima tahun Kemitraan Strategis Komprehensif China-ASEAN dan peringatan 50 tahun terjalinnya Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia).

Di tengah ketidakpastian global, perusahaan-perusahaan China mempercepat pergeseran fokus mereka ke arah ASEAN, berupaya membangun ekosistem perdagangan dan investasi yang lebih tangguh melalui integrasi regional yang lebih dalam.

Pergeseran tersebut sudah terlihat di lapangan. Baru-baru ini, sebanyak 785 unit peralatan teknik buatan China dikirim dari Pelabuhan Jiangyin ke Indonesia, di mana peralatan itu akan mendukung pembangunan infrastruktur di ibu kota baru Indonesia, Nusantara.

Di sisi lain, Jiangsu Zhongyi Food Co., Ltd. mengalami lonjakan pesanan dari pasar ASEAN setelah uji coba ekspor bebek utuh beku pada akhir 2025, dengan volume pengiriman pada kuartal pertama (Q1) tahun ini melampaui 600 ton, lebih dari empat kali lipat total pengiriman sepanjang tahun lalu.

Para pendatang baru juga mulai menjajaki pasar. Sebanyak 4.565 kilogram roti beku yang diproduksi oleh sebuah perusahaan makanan yang berbasis di Jiangsu baru-baru ini tiba di Singapura, menandai ekspor pertamanya ke pasar ASEAN. "Kami menargetkan kawasan dengan permintaan yang kuat dan peningkatan pola konsumsi yang jelas, dengan harapan dapat membuka ruang pertumbuhan baru," kata Chen Shuang, manajer impor-ekspor perusahaan tersebut.

Data perdagangan menegaskan tren ini. Menurut Bea Cukai Nanjing, total perdagangan luar negeri Jiangsu mencapai 1,59 triliun yuan pada kuartal pertama 2026, naik 17,2 persen (yoy). Perdagangan dengan ASEAN menyumbang 289,99 miliar yuan, meningkat 19,1 persen, dengan produk-produk berteknologi tinggi muncul sebagai pendorong utama pertumbuhan seiring perusahaan-perusahaan melakukan diversifikasi ke pasar baru.

Dukungan kebijakan juga memainkan peran yang menentukan. Jiangsu Dingsheng New Energy Materials Co., Ltd., sebuah perusahaan pengolahan aluminium berteknologi tinggi, telah memperluas ekspor produk aluminium foil miliknya ke Indonesia, Thailand, dan negara-negara lain.

Dalam dua bulan pertama 2026, perusahaan itu memperoleh sertifikat asal barang untuk produk senilai 90 juta yuan, yang menghasilkan penghematan tarif lebih dari 4 juta yuan, menurut manajer urusan bea cukai perusahaan tersebut.

Para pakar mengatakan momentum ini bersifat struktural. Chai Haitao, seorang pakar dari Asosiasi Promosi Investasi China (China Association for Investment Promotion), menyebut bahwa China dan ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama bertahun-tahun, dengan sektor manufaktur, energi baru, dan ekonomi digital muncul sebagai bidang investasi baru.

Xu Ningning, ketua Komite Kerja Sama Industri RCEP, memperkirakan bahwa perdagangan bilateral dapat melampaui 10 triliun yuan pada 2028, dengan perdagangan intraregional di dalam blok RCEP diperkirakan akan melampaui 50 persen dari total tersebut.

Bambang Suryo Aji, Konsul Jenderal Indonesia di Shanghai, menyoroti kerja sama yang semakin mendalam di sektor digital dan teknologi tinggi, mengatakan bahwa Indonesia, sebagai perekonomian digital terbesar di Asia Tenggara, bertujuan untuk memosisikan diri sebagai pusat regional bagi ekosistem digital. Indonesia telah mencapai interoperabilitas dalam pembayaran kode respons cepat (quick response/QR) dengan China per 2025, dengan pembayaran dalam mata uang lokal mencakup 45 persen dari total transaksi.

Para pemimpin bisnis melihat masa depan dengan dua mesin penggerak. Chen Yonglan, ketua China Carbon Neutral Development Group, mengatakan bahwa digitalisasi dan transformasi hijau menjadi pendorong ganda pertumbuhan perdagangan dan investasi.

Chen menyerukan pemanfaatan yang saling melengkapi antarindustri untuk membangun perekonomian berbasis daya komputasi, pusat keuangan hijau, dan platform perdagangan digital di seluruh kawasan tersebut.

Pejabat di Bea Cukai Nanjing menyatakan bahwa sejumlah upaya lebih lanjut akan dilakukan untuk menyederhanakan regulasi dan memanfaatkan keunggulan kebijakan, guna membantu perusahaan mempercepat ekspansi regional mereka serta mempertahankan tren pertumbuhan hubungan ekonomi antara China dan Asia Tenggara.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait