Fokus Berita - Ilmuwan dunia pun terjerat godaan Epstein

Foto yang diabadikan dari puncak Monumen Washington pada 17 November 2025 ini menunjukkan gedung Capitol AS di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Hu Yousong)
Epstein menginvestasikan jutaan dolar AS dalam berbagai proyek ilmiah dan memiliki daftar hampir 30 ilmuwan papan atas.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) - Hubungan antara mendiang pemodal Amerika Serikat (AS) Jeffrey Epstein dan komunitas ilmiah ternyata "lebih dalam daripada yang diketahui sebelumnya" serta "belum pernah terjadi sebelumnya" dalam skala luasnya, demikian menurut laporan terbaru jurnal Nature.
Mengutip dokumen yang baru dirilis oleh Departemen Kehakiman AS, laporan Nature tersebut mengungkapkan bahwa Epstein menginvestasikan jutaan dolar AS dalam berbagai proyek ilmiah dan "memiliki daftar hampir 30 ilmuwan papan atas". Dokumen tersebut menunjukkan bahwa para peneliti berkonsultasi dengan pelaku kejahatan seksual itu mengenai publikasi, visa, serta krisis hubungan masyarakat, dan bahkan mengizinkannya terlibat secara mendalam dalam pekerjaan penelitian mereka.
Meskipun Epstein telah divonis bersalah atas kejahatan seksual pada 2008, sejumlah ilmuwan tetap menjalin hubungan dengannya dan menerima dana darinya. Sebagai contoh, Epstein menyumbangkan 800.000 dolar AS kepada Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebuah langkah yang pada akhirnya berujung pada pengunduran diri dua ilmuwan dan penangguhan terhadap seorang ilmuwan lainnya.
*1 dolar AS = 16.838 rupiah
Meski penyebutan para peneliti dalam berkas-berkas tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran atau keterlibatan dalam aktivitas kriminal Epstein, rincian itu menyoroti betapa dalamnya keterlibatan Epstein di bidang-bidang ilmiah yang didanainya, demikian menurut Nature.
Batch terbaru berkas-berkas tersebut mengungkap rincian baru mengenai interaksi antara Epstein dan sejumlah ilmuwan.
Lawrence Krauss, seorang fisikawan teoretis yang organisasi penyebaran ilmu pengetahuannya menerima dana sebesar 250.000 dolar AS dari Epstein, disebut menerima saran via surel dari pemodal tersebut untuk memberikan pernyataan "tidak berkomentar" saat Krauss menanggapi pertanyaan media terkait penyelidikan dugaan pelecehan seksual yang berujung pada pemecatannya dari Arizona State University di Tempe.
Seorang fisikawan teoretis Harvard, Lisa Randall, terungkap pernah mengunjungi pulau pribadi Epstein di Karibia pada 2014 dan bertukar surel yang bernada gurauan mengenai status tahanan rumah Epstein.
Pada 2013, Nathan Wolfe, yang saat itu merupakan ahli virologi di Universitas Stanford, mengusulkan agar Epstein mendanai sebuah studi perilaku seksual mahasiswa sarjana untuk menguji "hipotesis virus berahi kami".
Salah satu koneksi akademik terdekat Epstein adalah ahli biologi matematika Martin Nowak. Nowak, yang bergabung dengan Harvard pada 2003, mendirikan Program for Evolutionary Dynamics (PED) dengan pendanaan sebesar 6,5 juta dolar AS dari Epstein. Pemodal tersebut tidak hanya bertindak sebagai penyumbang, tetapi juga terlibat secara mendalam dalam pusat riset yang memodelkan evolusi menggunakan matematika itu. Harvard menutup PED pada 2021 dan menjatuhkan sanksi terhadap Nowak, yang kemudian dicabut pada 2023.
Sejumlah surel menunjukkan bahwa Corina Tarnita, yang kini menjadi profesor di Universitas Princeton, menjalin kontak dengan Epstein hanya enam bulan setelah vonisnya dijatuhkan. Mahasiswa doktoral (PhD) Nowak tersebut mengirimkan ucapan ulang tahun kepada sang pemodal pada 2010 dan 2011 serta berterima kasih atas bantuannya dalam memperoleh visa.
Dokumen-dokumen tersebut juga mengungkapkan bahwa Epstein terlibat secara mendalam dalam pekerjaan para peneliti.
Dia secara rutin mendiskusikan sains dengan Nowak dan Tarnita, serta mengusulkan topik-topik penelitian seperti "evolusi komersial" dan "prakehidupan". Pada 2010, Nowak bahkan membagikan salinan naskah sebuah makalah yang telah diterima Nature kepada Epstein sebelum dipublikasikan, dan Epstein memberikan saran mengenai cara menghadapi kritik terhadap makalah tersebut.
Rincian yang baru terungkap itu memicu kekhawatiran di kalangan akademisi. Jesse Kass, seorang matematikawan di University of California, Santa Cruz, kepada Nature menyatakan bahwa "belum pernah terjadi sebelumnya" keterlibatan seorang penyandang dana secara langsung dalam penelitian hingga level seperti itu.
Dia menambahkan bahwa harus "ada diskusi serius (di kalangan akademisi) mengenai apa yang salah dan bagaimana mencegah hal serupa terjadi lagi" dalam kerja sama dengan penyandang dana swasta.
Departemen Kehakiman AS mulai merilis batch dokumen terbaru ini pada 30 Januari. Dengan total lebih dari 3 juta halaman, ini merupakan batch dokumen terbesar yang dipublikasikan oleh Departemen Kehakiman AS sejak Kongres mengesahkan Undang-Undang Transparansi Arsip Epstein (Epstein Files Transparency Act) akhir tahun lalu.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Putin larang penggunaan pakaian buatan luar negeri untuk militer Rusia mulai 2026
Indonesia
•
13 Aug 2025

AS jatuhkan sanksi pada para pemimpin Iran karena berupaya redam protes domestik
Indonesia
•
07 Oct 2022

Rusia dan Kuba sepakat perkuat hubungan bilateral
Indonesia
•
16 Jun 2023

Hujan deras di India dan Sri Lanka tewaskan 41 orang
Indonesia
•
12 Nov 2021
Berita Terbaru

Kongres AS bantah klaim Trump soal militer Rusia dan China di Greenland
Indonesia
•
10 Feb 2026

Sekjen PBB sebut semua permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki tidak punya validitas hukum
Indonesia
•
10 Feb 2026

Pejabat Palestina sebut Trump berupaya jadikan "Dewan Perdamaian" alternatif PBB
Indonesia
•
09 Feb 2026

Israel perdalam kendali atas Tepi Barat dengan perluas permukiman ilegal
Indonesia
•
09 Feb 2026
