Fokus Berita – Gemuruh konflik di kejauhan, perang Israel-Iran tambah derita rakyat Palestina

Warga Palestina berjalan di antara puing-puing di tengah badai debu yang melanda Gaza City selatan pada 14 Februari 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Warga Palestina tetap menjadi kelompok paling rentan, terjepit di antara gemuruh konflik di Timur Tengah dan beban berat blokade yang seakan tak pernah terangkat. 

 

Ramallah/Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Perang antara Israel dan Iran semakin memperdalam kecemasan warga Palestina, yang sehari-harinya sudah hidup di tengah bayang-bayang konflik, kelangkaan sumber daya, dan pemeriksaan keamanan harian.

Di Tepi Barat, langit kembali dipenuhi ketegangan ketika ratusan rudal dan drone meluncur menuju Israel. Tak lama setelah Israel melancarkan serangan ke Iran, otoritas pendudukan menutup sejumlah pos pemeriksaan di sekitar Nablus, menunda perjalanan para pekerja dan membatasi pergerakan.

Mohammed Nubani (52), seorang sopir taksi dan ayah dari tujuh anak, mengatakan kepada Xinhua bahwa penutupan tersebut "menggandakan tekanan pada masyarakat yang sudah menghadapi kondisi ekonomi sulit."

Di Hebron, pedagang bernama Mohammed al-Ja'bari mengamati semakin banyaknya pos pemeriksaan keliling pada malam hari di pintu-pintu masuk kota. "Banyak keluarga membatalkan kegiatan harian dan membatasi pembelian kebutuhan pokok karena khawatir terjebak di jalan," ujarnya.

Di Gaza, eskalasi terjadi dalam bentuk yang lebih senyap, tetapi tak kalah berat. Pada Sabtu (28/2) malam waktu setempat, otoritas Israel mengumumkan bahwa seluruh perlintasan, termasuk Rafah, akan tetap ditutup "hingga pemberitahuan lebih lanjut" dengan alasan keamanan. Bagi dua juta penduduk wilayah tersebut, yang telah lama tercekik oleh blokade bertahun-tahun, pengumuman itu menjadi lilitan baru dalam jerat yang tak kunjung terlepas.

Di kamp pengungsi Shati, pemilik toko kelontong Abu Khaled Darwish melihat para pelanggan berdatangan dengan tatapan cemas. "Orang-orang membeli lebih banyak dari biasanya karena khawatir terjadi kelangkaan, terutama seiring berjalannya Ramadan," katanya. Rak-rak toko dengan cepat menjadi kosong, sementara harga gula, minyak, beras, dan sayuran melonjak tajam. Berbagai isu beredar bahwa sejumlah pedagang menimbun barang untuk meraup keuntungan dengan memanfaatkan ketakutan warga.

Om Alaa Nassar, seorang ibu rumah tangga dari Deir al-Balah, mengantre untuk membeli tepung sementara anak-anaknya tetap di rumah. "Kami mendengar tentang roket dan perang di luar negeri, tetapi pertempuran kami di sini adalah melawan harga tinggi dan kekurangan pangan," tuturnya dengan raut kelelahan yang terlihat jelas pada wajahnya. "Kami khawatir penutupan ini akan terus berlanjut sehingga kami tidak memiliki tepung atau gas. Kami berusaha membeli seperlunya, tetapi harga berubah setiap hari, dan bantuan tidak menjangkau semua keluarga yang membutuhkan."

Analis politik yang berbasis di Gaza, Wissam Afifa, menyampaikan penilaian yang serius. "Setiap perang terbuka dengan Iran dapat mengalihkan prioritas pemerintahan Amerika Serikat dan memengaruhi perhatian internasional terhadap Gaza dan Tepi Barat," ujarnya, seraya memperingatkan bahwa Israel mungkin memanfaatkan situasi tersebut untuk memperketat keamanan atau menunda kewajiban politiknya.

Di kawasan yang bersiap menghadapi ancaman dari jauh, warga Palestina tetap menjadi kelompok paling rentan, terjepit di antara gemuruh konflik di kejauhan dan beban berat blokade yang seakan tak pernah terangkat. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait