Fokus Berita - Dalam Budaya Sunda, para leluhur mengingatkan satwa sebagai tetangga

Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia DEA, Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad, berbicara tentang satwa sebagai tetangga pada Lokakara Ekoliterasi Konservasi di Gedung Fisip Unpad Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (28/7). (Foto: Istimewa)

Satwa harus dipahami bukan sebagai obyek undang undang, melainkan bagian dari kehidupan bersama atau bahkan sebagai tetangga.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Dalam Budaya Sunda, para leluhur sudah mewanti-wanti soal konservasi dalam beragam cerita, bahasa, pantangan, ritual, pengelolaan tata ruang, mekanisme musyawarah, sanksi sosial sampai pengetahuan tentang musim.

“Dan konservasi sebenarnya membutuhkan hubungan emosional. Satwa harus dipahami bukan sebagai obyek undang undang, melainkan bagian dari kehidupan bersama atau bahkan sebagai tetangga,” kata Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia DEA.

Prof. Ganjar Kurnia yang merupakan Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad meyampaikan hal tersebut dihadapan peserta Lokakara Ekoliterasi Konservasi yang diikuti para guru SMP dan SMA Se Sumedang dan aktivis kepramukaan Saka Wanabakti Kota Bandung, di Gedung Fisip Unpad Jatinangor, Selasa (28/7).

“Semuanya diletakan dalam konteks hubungan emosional diri dengan alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus berjangka panjang, demi anak cucu,” katanya.

Misalnya secara terminologi, konservasi, dalam pendekatan ilmiah tradisional, adalah satwa langka dan harus dilindungi, namun dalam pendekatan budaya Sunda, lanjut Ganjar,  justru dijelaskan satwa itu sebagai tetangga.

Terkait gaya komunikasi kampanye konservasi, lanjut mantan Rektor Unpad itu, sering disebutkan penyampaian informasi satu arah.

Dalam pendekatan Budaya Sunda, kampanye dilakukan melalui cerita rakyat dan bahasa lokal. Maka jangan heran dalam pandangan ekologis tradisional Sunda dikenal gunung kaian (gunung ditanami pohon) yang berfungsi resapan.

Gawir awian, yakni lereng ditanami bambu agar tidak longsor, kemudian cisunyu rumateun (mata air dijaga) sebagai sumber kehidupan dan walungan rawateun (sungai dirawat).

Budaya Sunda juga mengajarkan fondasi sosial seperti silih asah, asuh dan asih. Konteksnya tidak hanya untuk sesama manusia namun juga bagi alam dan satwa.

Saling belajar ekologi dan kecakapan, menjadi teladan dan saling melindungi, kemudian membangun empati terhadap makhluk hidup.

Bahkan budaya Sunda juga memberikan gambaran luas dalam hal membangun jembatan empati melalui bahasa dari pengetahuan sampai muncul tindakan.

Misalnya mengubah sudut pandang, bahwa satwa liar bukan tamu di hutan, justru merekalah pemilik hutan. Dihadirkan pula rasa kehilangan tentang burung, mata air dan  pepohonan untuk memahami konservasi menjadi sejarah di kampung sendiri.

Dikembangkan pula slogan kedekatan manusia dengan alam. Leuweung hirup, urang hurip (hutan hidup, manusia memperoleh kehidupan). Ada juga miara cai, miara hirup (memelihara air, memelihara kehidupan).

Begitu juga soal motivasi utama bahwa konservasi merupakan kepatuhan hukum dan ancaman denda, tetapi dalam khasanah Budaya Sunda diarahkan pada tanggung jawab moral dan amanah antar generasi.

Pengetahuan ilmiah ternyata tidak cukup mengubah perilaku. Buktinya pemahaman atas fakta hukum dan data biologis ternyata tidak menghentikan perburuan, jual beli satwa liar atau bahkan perusakan koridor satwa dan habitat.

Padahal pemahaman atas data ilmiah dan hukum soal satwa seharusnya berujung pada perubahan perilaku yakni tidak berburu, membeli satwa liar/langka, Sebaliknya, justru harus melindungi satwa langka, menjaga mata air dan pohon.

 

Defisit Aksi Nyata

 “Sayangnya sejauh ini kita ternyata surplus pada level mengetahui (nyaho), tetapi defisit metodologi untuk mencapai ngajadi (mendarah daging, menjadi ada tindakan),” kata Prof. Ganjar

Jadi harusnya jika faham konservasi berarti tidak membeli satwa langka, tidak berburu dan justru harus melindunginya.

“Alam bukanlah komoditas diluar manusia. Manusia anehnya malah seringkali merasa tidak kehilangan apa apa soal mata air yang kini tiada, pohon di sekitar kita yang lenyap tanpa tahu nama dan cirinya lagi,” jelas Ganjar Kurnia yang juga sebagai Kahar Pramuka Unpad.

Dia meminta semua pihak  kembali melakukan perubahan perilaku demi kehidupan yang lebih baik, dan biasakan mengamati berbagai jenis satwa dan mata air secara langsung tanpa beban teori yang rumit.

“Kemudian memahami ekologisnya misalnya antara burung dan penyebaran biji di hutan. Setelah itu tumbuhkan sifat merasakan dengan adanya keterikatan emosional atas kondisi di sekitar. Lalu timbulan sikap aksi nyata menjaga alam sekitar dan akhirnya mewariskan semuanya kepada anak cucu,” katanya.

 

Peran Pramuka

Dalam lokakarya yang dibuka Pembina Pramuka Unpad, Prof. Dr. Rahman Mulyawan M.Si tersebut, Kepala Pusat Ungulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Unpad, Dr Susanti Withaningsih, sebagai pembicara pertama, menilai peran pramuka semestinya terlihat jelas sebagai agen perubahan yang paling dekat dengan alam dan komunitas.

“Dinisilah harapan konservasi Indonesia bersemayam, “ ujarnya.

Pramuka seharusnya menjadi agen konservasi lapangan dan dapat tampil sebagai jembatan sains dan komunitas, katanya, seraya menambahkan, maksudnya, pramuka menerjemahkan data ilmiah konservasi menjadi aksi nyata di lapangan yang mudah difahami dan dilakukan masyarakat lokal.

“Bahkan pramuka dapat berperan melakukan patroli dan pelaporan. Misalnya patrol habitat, pelaporan perburuan dan pemantauan satwa berbasis citizen science,” dia menambahkan.

Ini akan memperluas jangkauan pengawasan. Terakhir, pramuka sepantasnya mampu mengedukasi warga. “Jaringan pramuka yang tersebar di seluruh Indonesia adalah asset strategis untuk edukasi konservasi berbasis komunitas,”ungkap ahli burung Elang Jawa ini.

Langkahnya mudah dari teori ke aksi tersebut. Secara individu, tolak produk dari satwa liar, laporkan perdagangan illegal. Dukung organisasi konservasi lokal dengan tindakan nyata bukan hanya simpati.

Secara komunitas, bangun kesadaran kolektif. Integrasikan kearifan lokal dalam pengelolaan SDA sehari hari.

Dia mengingatkan, setiap spesies yang punah adalah kehilangan permanen karena tidak ada teknologi yang bisa mengembalikan apa yang sudah hilang.

Generasi sekarang adalah generasi penentu, apakah harimau Sumatera, badak Jawa dan orangutan masih akan ada untuk generasi berikutnya, atau hanya tersisa dalam buku sejarah saja,” ujar Susanti lagi.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait