Festival kurma Al-Ula menebarkan manisnya di kota kuno Saudi

Festival kurma Al-Ula menebarkan manisnya di kota kuno Saudi
Ilustrasi. (Levi Meir Clancy on Unsplash)

Bekasi, Jawa Barat (Indonesia Window) – Edisi kedua dari Festival Kurma Al-Ula sedang berlangsung selama tiga pekan di kota kuno Al-Fusan yang berhadapan langsung dengan Elephant Rock yang terkenal, menurut laporan Arab News, Sabtu (23/10).

Banyak yang tahu bahwa Al-Ula (sekitar 1.000 kilometer arah barat ibu kota Riyadh) adalah labirin sejarah dan medan gurun yang mempesona, namun sedikit yang tahu jika di antara lekukan medan gurun tersembunyi itu tumbuh lebih dari 2,3 juta pohon palem yang menghasilkan 90.000 ton kurma setiap tahun.

Pasar kurma Al-Ula baru-baru ini mengalami peningkatan permintaan, dan festival ini memfasilitasi pertumbuhan panen lokal ke pasar internasional dengan menghubungkan petani lokal dengan pengunjung dan investor internasional.

Felix Riess, konsultan strategi yang mengunjungi Al-Ula dari Jerman, mengatakan, “Ini adalah tempat yang indah dan bersejarah, sangat bagus untuk melihat cita-cita Al-Ula. Ini adalah upaya yang sangat bersejarah, sesuatu yang ditujukan untuk mengingat sejarah sambil membangun untuk masa depan, ini adalah perpaduan yang hebat.”

Festival ini dimulai dengan hari lelang pertama musim ini pada Jumat pagi (22/10). Saat matahari terbit, para petani menurunkan hasil panen mereka dari truk dan menuju lokasi lelang.

Kerumunan orang berkumpul untuk mengambil bagian dalam pelelangan kurma, yang terjadi tiga kali selama festival. Tawaran berbeda tergantung pada kualitas dan ukuran tanaman.

Lelang kurma jelas merupakan tempat yang bagus bagi pembeli dan penjual untuk terhubung, dan juga menjadi pengalaman yang menarik bagi keluarga dan wisatawan untuk menyaksikannya.

“Apa yang kami lihat hari ini adalah pengalaman yang benar-benar otentik tentang bagaimana pedagang grosir lokal mendapatkan kurma dari tempat terkenal di Al-Ula. Ini sangat keren dan saya belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya dan kami menikmatinya,” kata Riess kepada Arab News.

Christian Keller, konsultan strategi Jerman lainnya, menambahkan, “Selalu menyenangkan melihat kombinasi dunia lama dan dunia baru. Orang-orang datang ke Al-Ula dan melihat penduduk yang masih menghargai dan melanjutkan apa yang telah mereka lakukan bertahun-tahun sebelumnya, dan sekarang Anda membawa orang-orang baru seperti wisatawan dan pengunjung, mereka dapat mengalaminya. Menikmati budaya yang dihidupkan.”

Festival ini juga memiliki tujuan lain selain berbagi budaya.

Gubernur Komisi Kerajaan untuk Kegubernuran Al-Ula, Badr bin Abdullah bin Farhan, mempromosikan peran penting yang dimainkan pertanian dalam pembangunan ekonomi kawasan sesuai Visi 2030.

Festival ini menciptakan pusat kawasan untuk bertukar keahlian, dan menumbuhkan kolaborasi yang sebagian akan mendiversifikasi ekonomi dan menciptakan lebih banyak peluang kerja bagi kaum muda di sektor pariwisata, perhotelan, dan budaya.

Al-Ula adalah sejarah yang potensial untuk digali. Pengunjung memiliki kesempatan untuk merasakan keindahan dan tradisi daerah tersebut, mulai dari festival, ekosistem padang pasir hingga kota tua di dekatnya.

Kota tua adalah harta karun yang dipenuhi dengan kerajinan tangan bersejarah dan buatan tangan hingga cenderamata untuk dibawa pulang bagi orang-orang terkasih.

Laporan: Raihana Radhwa

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here