Feature – China dan Indonesia bangun jembatan kemanusiaan lewat konektivitas pendidikan

Para anggota tim THU Robotics dari Universitas Tsinghua melakukan persiapan untuk pertandingan sepak bola robot berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Beijing, ibu kota China, pada 28 Juni 2025. (Xinhua/Zhang Chenlin)

Proyek Kelas Campuran Global China-Indonesia diluncurkan pada 2023, dengan 129 mata kuliah dari China telah dipilih untuk disiarkan serentak kepada mahasiswa Indonesia melalui platform daring, sehingga mewujudkan pembelajaran campuran lintas ruang dan waktu.

 

Jinan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di sebuah ruang kelas pintar untuk mata kuliah Bahasa Inggris Komprehensif di Universitas Normal Qilu, layar-layar cerdas memperbarui data secara waktu nyata, daftar tugas berkedip, dan suara mahasiswa yang berdiskusi dalam kelompok memenuhi ruangan. Pemandangan tersebut disiarkan langsung hingga ribuan kilometer jauhnya ke Universitas Teuku Umar di Indonesia, menghadirkan pengalaman imersif pertama mengikuti perkuliahan di universitas China bagi lebih dari 70 dosen dan mahasiswa Indonesia.

"Apakah ruang kelas Anda benar-benar seperti ini? Kami belum pernah melihat kelas pintar di mana interaksi berlangsung secara waktu nyata, data memberikan umpan balik secara instan, dan tugas-tugas berjalan secara bersamaan!" tulis mahasiswa Indonesia, Sri Hartina, di kolom percakapan publik. Eksplorasi pendidikan pintar yang dilakukan bersama oleh generasi muda kedua negara ini kini menjadi penghubung baru dalam pertukaran budaya dan antarmasyarakat China-Indonesia.

Koneksi lintas negara tersebut bukan sebuah kebetulan. Pada semester musim gugur 2025, mata kuliah Bahasa Inggris Komprehensif Universitas Normal Qilu terpilih sebagai bagian dari proyek ‘Kelas Campuran Global China-Indonesia’ Diluncurkan dalam kerangka Global MOOC and Online Education Alliance, proyek ini bertujuan untuk mempererat kerja sama saling menguntungkan di bidang pendidikan tinggi antara kedua negara melalui model pendidikan daring, sekaligus mendukung inisiatif pendidikan Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI).

"Bisakah Anda menawarkan kelas lain yang secara khusus membahas praktik pendidikan cerdas Anda?" Pertanyaan dari mahasiswa Indonesia usai sesi pertama mendorong terselenggaranya ‘Belt and Road Smart Education Thematic Cloud Classroom’ pada 20 November. Inti sesi ini bukan pengajaran satu arah, melainkan dialog tulus antara generasi muda kedua negara mengenai model pendidikan.

Dalam kelas daring berbasis cloud tersebut, mahasiswa tingkat pertama bernama Li Zihan mengangkat sepotong tembikar hitam ke arah kamera. "Ini adalah tembikar hitam Zhangqiu. Tanah liat yang digunakan berasal dari lapisan aluvial Sungai Kuning," jelasnya. Mahasiswa Indonesia menunjukkan minat besar, mengajukan pertanyaan tentang teknik pembuatan serta makna budayanya.

Ajang perkenalan dan pertukaran budaya yang berlangsung spontan ini menjadi capaian tak terduga dari kelas campuran tersebut. Endah Anisa, seorang dosen di Universitas Teuku Umar, menyampaikan seusai kegiatan, "Hari ini saya tidak hanya melihat kelas daring, sistem pengajaran cerdas, dan perangkat digital, tetapi yang lebih penting lagi, keinginan tulus generasi muda dari kedua negara untuk saling mendengarkan dan memahami. Ini jauh lebih berharga daripada demonstrasi teknologi apa pun."

"Ketika diberi ruang untuk berdialog secara bebas, generasi muda akan membangun 'komunitas' mereka sendiri," tulis Zou Deping, dosen Universitas Normal Qilu, setelah membaca berbagai komentar mahasiswa. Pengamatannya terkonfirmasi dalam interaksi kelas: setelah kelas daring berbasis cloud pertama berakhir, mahasiswa dari kedua negara enggan keluar dan terus bertukar pengalaman belajar serta anekdot budaya di kolom obrolan.

Proyek Kelas Campuran Global China-Indonesia diluncurkan pada 2023 dan memasuki fase kedua pada 2025. Sebanyak 129 mata kuliah dari China telah dipilih, mencakup sejumlah disiplin utama seperti teknik mesin, teknik elektro, dan kedokteran. Proyek ini menerapkan model ‘kelas kembar’, di mana mata kuliah dari universitas-universitas China disiarkan serentak kepada mahasiswa Indonesia melalui platform daring, sehingga mewujudkan pembelajaran campuran lintas ruang dan waktu.

Di China, berbagai perguruan tinggi berpartisipasi aktif dalam kerja sama pendidikan ini. Dua mata kuliah di Universitas Taishan, yaitu Komunikasi Internasional Budaya Gunung Tai dan Keuangan Perusahaan, berhasil terpilih dan dibagikan kepada mahasiswa Indonesia.

Mata kuliah Penulisan Akademik Lanjutan di Universitas Teknologi Kimia Beijing (Beijing University of Chemical Technology/BUCT) telah melayani 614 pendaftar dari 47 negara. Universitas Kedokteran Chongqing, melalui kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Dasar dan Fakultas Bahasa Asing, mendorong globalisasi standar pendidikan kedokteran.

Di tengah pesatnya perkembangan pendidikan digital saat ini, praktik inovatif kelas cerdas China menghadirkan paradigma baru bagi kerja sama pendidikan internasional. Ketika generasi muda saling melihat, memahami, dan menginspirasi melalui layar, pendidikan melampaui perannya sebagai transfer pengetahuan, menjadi jembatan pertukaran budaya dan ikatan antarmasyarakat. Inilah perwujudan visi paling mendalam dari inisiatif pendidikan BRI.

Sejak didirikan pada 2020, Global MOOC and Online Education Alliance, organisasi internasional multilateral di bidang digitalisasi pendidikan tinggi yang diprakarsai China, telah menarik anggota dari 16 negara. Indonesia Cyber Education Institute bergabung pada 2023, menyediakan kerangka kelembagaan bagi kerja sama pendidikan antara kedua negara.

Ke depannya, perguruan tinggi yang berpartisipasi berencana untuk terus mengoptimalkan mutu mata kuliah dan semakin memperdalam inovasi pendidikan. Universitas Taishan menyatakan akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat pengembangan mata kuliah dwibahasa dan menciptakan lebih banyak mata kuliah bermutu tinggi untuk dibagikan secara internasional.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait