
Feature – Warga Indonesia di China rasakan kedekatan dengan budaya Qingming

Foto yang diabadikan pada 5 April 2026 ini menunjukkan para murid di Provinsi Hebei, China utara, menghadiri upacara penghormatan kepada para mendiang pahlawan nasional yang digelar saat Festival Qingming di China. (Xinhua)
Budaya Qingming adalah tradisi bersih-bersih makam yang mencerminkan filosofi China tentang menghormati mereka yang telah wafat dan merenungkan makna hidup.
Tianjin, China (Xinhua/Indonesia Window) – Menjelang Festival Qingming atau Hari Bersih-Bersih Makam di China, Lim Jessica Kalyani, seorang mahasiswi asal Indonesia yang belajar di Universitas Tianjin, salah satu universitas ternama di China, mengikuti ritual bersih-bersih makam keluarganya melalui panggilan video.
"Qingming bukan hanya soal ritual penghormatan, melainkan ikatan batin yang tulus untuk mengungkapkan rasa rindu," kata mahasiswi asal Indonesia berusia 20 tahun itu.
Dia pernah melihat beberapa keluarga di China berziarah ke makam dengan membawa bunga, buah-buahan, dan persembahan sederhana, kemudian membersihkan batu nisan dengan hati-hati dan berbicara dengan lembut, seolah-olah sedang berbincang dengan orang-orang terkasih mereka yang telah tiada.
"Kasih sayang yang tulus itu sangat menyentuh hati saya dan membuat saya merasakan betapa dalamnya masyarakat China menghargai asal-usul mereka," ujar Jessica.
Qingming, yang jatuh pada 5 April tahun ini, merupakan periode matahari (solar term) sekaligus festival tradisional dengan sejarah lebih dari 2.500 tahun. Perayaan ini diperingati secara luas di seluruh China dengan ritual bersih-bersih makam dan mengenang keluarga.
Hong Chang, seorang profesor di Universitas Studi Luar Negeri Tianjin, menjelaskan bahwa tradisi bersih-bersih makam mencerminkan filosofi China tentang "menghormati mereka yang telah wafat dan merenungkan makna hidup". Memberikan penghormatan kepada leluhur melambangkan ikatan keluarga yang mendalam dan mendorong refleksi mengenai makna hidup.
Athena Aileen Lengkong (21), yang berasal dari Surabaya, Provinsi Jawa timur, mengatakan bahwa Indonesia memiliki keberagaman agama yang tinggi, dan banyak keluarga berdoa serta menabur bunga di makam sesuai dengan kepercayaan agama masing-masing.
"Dalam keluarga saya yang menganut Katolik, orang-orang terkasih biasanya dikremasi, dan abunya dilarung di laut, karena kampung halaman saya merupakan kota pelabuhan. Pada peringatan satu tahun kematian mereka, kami berkumpul di pelabuhan, menaiki perahu ke laut, dan menaburkan bunga ke air sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Pada tahun-tahun berikutnya, kami biasanya memilih tanggal peringatan kematian orang terkasih yang paling baru sebagai hari bersama untuk melaksanakan ritual ini guna menghormati semua orang, termasuk para leluhur kami."
Wang Yi, seorang lektor kepala di Universitas Tianjin, menyebutkan bahwa Qingming bukan hanya tentang penghormatan pribadi kepada mereka yang telah tiada, melainkan juga merupakan momen khidmat untuk peringatan publik dan mengenang kembali memori bangsa.
Inklusivitas festival Qingming inilah yang diapresiasi oleh Athena. "Orang-orang memanfaatkan hari ini untuk memberikan penghormatan kepada siapa pun yang mereka sayangi atau anggap penting dalam hidup mereka maupun sejarah keluarga. Hal ini termasuk membersihkan makam para pahlawan nasional, yang menurut saya merupakan ungkapan indah dari rasa syukur kolektif."
Wang mengatakan bahwa bahasa dan adat istiadat mungkin berbeda, tetapi ketika orang-orang mengungkapkan duka dengan cara membersihkan makam dan mempersembahkan bunga, sebuah koneksi spiritual yang melebihi kata-kata muncul secara perlahan. Hal ini memungkinkan berbagai budaya untuk bertemu dan saling memahami melalui emosi manusia yang sama, memperdalam apresiasi dan toleransi terhadap peradaban yang beragam.
Selain bersih-bersih makam, Qingming juga merupakan waktu untuk piknik musim semi, menanam pohon dedalu, dan menabur benih. Ma Zhiyao, seorang pakar budaya rakyat China, mengatakan bahwa Qingming bukanlah festival kesedihan. Festival ini mengandung ungkapan duka cita kepada para leluhur dan kegembiraan merangkul alam dan kehidupan.
Festival ini tiba bersamaan dengan angin musim semi yang hangat dan vitalitas baru. Orang-orang menikmati sinar matahari dan meregangkan tubuh mereka, merasakan siklus pembaruan tanpa akhir. Hong mengatakan bahwa tradisi piknik musim semi yang sudah lama dilakukan tersebut mencerminkan bagaimana masyarakat China mengaitkan keberlangsungan hidup dengan ritme alam, mewakili filosofi hidup yang menghargai kelahiran kembali.
Jessica juga mengikuti kebiasaan setempat dengan melakukan piknik musim semi dan mencicipi qingtuan (bola nasi hijau) untuk merasakan makna budaya Qingming.
"Yang membuat Qingming menyentuh hati saya adalah bagaimana perayaan ini mengubah kenangan menjadi hubungan yang aktif dan berkelanjutan. Masyarakat China masih mempertahankan kebiasaan untuk dekat dengan alam, merayakan kehidupan dengan cara yang positif sambil menghargai masa lalu," kata Jessica.
Wang menuturkan bahwa Qingming merupakan bukti keberlanjutan dan ketahanan peradaban China. Dari zaman kuno hingga sekarang, adat istiadat Qingming telah berevolusi, tetapi semangat intinya tetap tidak berubah. Baik melalui kegiatan bersih-bersih makam, piknik musim semi, atau peringatan ramah lingkungan (green memorial) dan penghormatan daring yang kini banyak dilakukan, bentuknya mungkin berubah seiring waktu, tetapi akar budayanya tetap bertahan. Kemampuan untuk memperbarui sambil melestarikan, dan untuk melindungi sambil beradaptasi, adalah manifestasi penting dari vitalitas peradaban China yang abadi.
Jessica percaya bahwa Qingming melampaui budaya karena menyentuh emosi manusia yang paling universal, yakni kerinduan akan orang yang telah berpulang, penghormatan terhadap kehidupan, dan pencarian asal-usul.
"Tidak peduli dari negara mana Anda berasal atau bahasa apa yang Anda gunakan, ketika Anda berdiri di depan makam leluhur atau mengenang orang yang Anda cintai dalam diam, perasaan itu tidak membutuhkan terjemahan," kata Jessica.
Athena yakin bahwa inti budaya Qingming bukan hanya tradisi China, melainkan juga perayaan cinta yang melampaui rasa kehilangan, sesuatu yang dapat dirasakan oleh setiap manusia.
"Tema kehidupan dan kematian, ikatan keluarga, dan alam yang diwujudkan dalam Qingming adalah tema yang dimiliki bersama oleh seluruh umat manusia. Ketika orang asing memahami konotasi budaya dari pemujaan leluhur, ritual bersih-bersih makam, dan pandangan terhadap alam selama Qingming, mereka dapat lebih menyadari takdir bersama umat manusia, sehingga memperkuat kerja sama dan pemahaman global, serta menumbuhkan akar yang lebih kuat dalam kesamaan takdir manusia," tutur Wang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Badan-badan PBB sebut situasi di Gaza Utara "apokaliptik"
Indonesia
•
03 Nov 2024

Bangkok bersiap hadapi peningkatan polusi udara
Indonesia
•
16 Jan 2024

Masuknya Poros Tengah Beijing dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO sajikan keindahan kepada dunia
Indonesia
•
30 Jul 2024

Parkur di tengah puing-puing di Gaza Palestina
Indonesia
•
22 Aug 2022


Berita Terbaru

Feature – Mau anak lebih cerdas, ajari bahasa ibu sejak dini
Indonesia
•
06 Apr 2026

Universitas Tadulako Palu terima hibah 4.000 buku dari penerbit China
Indonesia
•
06 Apr 2026

Opini – Taiwan wujudkan visi WHO berantas Hepatitis C yang ancam kesehatan masyarakat
Indonesia
•
02 Apr 2026

Langgar aturan akses bagi anak-anak, Australia selidiki 5 raksasa medsos
Indonesia
•
31 Mar 2026
