Feature – Batik peranakan jadi simbol keberagaman budaya di Indonesia selama ratusan tahun

Sebuah batik motif peranakan dipamerkan di Museum Batik Pekalongan dalam sebuah pameran bertema Imlek yang berlangsung pada 11 Februari hingga 10 Maret 2026 di Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. (Sumber: Museum Batik Pekalongan)

Motif batik peranakan biasanya memasukkan makhluk mitologi yang diyakini masyarakat China, seperti burung fenghuang dan naga, serta ornamen bunga khas seperti peoni.

 

Pekalongan, Jawa Tengah (Xinhua/Indonesia Window) – Pengaruh kebudayaan China dalam wastra Indonesia, khususnya pada batik peranakan, diyakini telah berlangsung selama ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Indonesia resmi berdiri. Abad berganti, batik peranakan kini menjadi salah satu bukti paling jelas dari sejarah panjang keberagaman budaya di Indonesia.

Museum Batik Pekalongan menjadi lokasi yang paling tepat untuk menelusuri jejak sejarah batik peranakan di Indonesia. Museum ini memiliki sekitar 50 koleksi batik dengan motif yang dipengaruhi budaya masyarakat China, mulai dari kain panjang, sarung, hingga kain persegi yang dipakai sebagai alas meja altar sembahyang, yang dalam bahasa Hokkien dikenal sebagai tokwi.

Sejak tahun lalu, museum ini rutin menggelar pameran koleksi batik peranakan setiap memasuki perayaan Tahun Baru Imlek. Tahun ini, pameran tersebut kembali menampilkan sejumlah koleksi batik peranakan yang kebanyakan telah berusia tua.

"Pameran batik peranakan ini menjadi cara kami menunjukkan akulturasi yang kuat antara beragam kebudayaan, khususnya di Kota Pekalongan, yang kehidupannya tidak hanya dipengaruhi budaya lokal Jawa, tetapi juga budaya China serta Arab," ujar Nurhayati Sinaga, kepala Museum Batik Pekalongan, kepada Xinhua pada 29 Januari lalu.

Pameran tahun ini berlangsung mulai 11 Februari hingga 10 Maret dengan menggandeng sebuah kelenteng bersejarah di Kota Pekalongan yang telah berusia ratusan tahun. Ruang pameran tidak hanya menampilkan kain batik panjang, tetapi juga sebuah meja sembahyang milik kelenteng tersebut yang dihias dengan tokwi berbentuk persegi dan bermotif khas batik peranakan.

Eksistensi batik peranakan di Indonesia

William Kwan, peneliti sekaligus pemerhati wastra yang telah lama aktif menelusuri sejarah batik di Indonesia, memperkirakan eksistensi batik peranakan sudah ada sejak abad ke-19. Pada saat itu, batik peranakan kemungkinan diproduksi sebagai produk substitusi untuk impor kain bermotif asal India.

Mengingat mayoritas pemakainya pada masa itu adalah masyarakat keturunan China di pesisir utara Jawa, motif batiknya pun disesuaikan. Sejumlah ornamen yang identik dengan kebudayaan masyarakat China kemudian muncul, salah satunya adalah fenghuang atau burung feniks. Selain itu, kehadiran kolonial Belanda kala itu juga turut berkontribusi terhadap perjalanan batik peranakan, yang terlihat pada jenis batik encim.

"Batik peranakan ini menjadi semacam artefak budaya Indonesia yang menggambarkan adanya akulturasi antara kebudayaan China dan Indonesia," sebutnya kepada Xinhua pada Rabu (11/2).

William menjelaskan ada tiga aspek penting untuk mengidentifikasi batik peranakan, yakni dari sisi motif, warna, dan pemakainya. Motif batik peranakan biasanya memasukkan makhluk mitologi yang diyakini masyarakat China, seperti burung fenghuang dan naga, serta ornamen bunga khas seperti peoni.

Dari sisi warna, batik peranakan biasanya berwarna cerah, yang membuatnya berbeda dengan batik dari Yogyakarta dan Solo yang umumnya berwarna cokelat, hitam, dan putih. Namun demikian, William menyebut pengaruh motif dan warna dari budaya China pada batik peranakan biasanya disesuaikan dengan selera lokal.

Setelah ratusan tahun, William mengungkapkan tantangan bagi batik peranakan saat ini adalah persoalan regenerasi, mengingat kian minimnya minat generasi muda yang tertarik melanjutkan industri batik. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait