
Feature – Kawan atau lawan? Menengok lika-liku masyarakat Indonesia ‘berteman’ dengan AI

Sejumlah orang mempelajari model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) DeepSeek di sebuah pameran bertema teknologi AI di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China timur, pada 4 Mei 2025. (Xinhua/Long Wei)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Menatap layar ponsel pintar hari ini terasa jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Tanpa disadari, kita telah melangkah masuk ke era di mana kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bukan lagi sekadar bumbu film fiksi ilmiah. Mulai dari algoritma media sosial yang menebak isi pikiran kita, asisten virtual pembantu rutinitas, hingga generator teks dan gambar otomatis, AI kini telah menyusup pelan dan menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan modern kita.
Otimisme tinggi di ranah digital
Bagaimana masyarakat Indonesia memandang fenomena ini? Alih-alih takut digantikan oleh robot, mayoritas masyarakat Tanah Air justru menunjukkan tingkat penerimaan yang sangat terbuka dan adaptif terhadap kehadiran AI. Optimisme ini tentu didukung oleh fondasi digital Indonesia yang kian kokoh dari tahun ke tahun.
Berdasarkan laporan terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet di Indonesia kini telah menembus angka 81,72 persen. Ini berarti ada sekitar 235 juta jiwa penduduk Indonesia yang kini aktif berselancar di dunia maya.
Kemudahan akses internet ini berbanding lurus dengan kegemaran masyarakat dalam bersosialisasi secara digital. Laporan tahunan We Are Social mengungkapkan bahwa jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia telah menyentuh angka 180 juta pengguna, atau setara dengan 62,9 persen dari total populasi.
Dengan ekosistem digital yang begitu masif, tidak heran jika adopsi teknologi baru seperti AI melesat tanpa hambatan. Bahkan, laporan yang sama menyebutkan bahwa lebih dari sepertiga warganet Indonesia sudah rutin menggunakan platform AI seperti DeepSeek, Google Gemini, dan ChatGPT setiap bulannya untuk berbagai kebutuhan.
Penggunaan AI tidak lagi terbatas di ruang laboratorium komputer perusahaan raksasa, melainkan sudah membumi di tangan masyarakat awam dari berbagai latar belakang usia dan profesi.
‘Berteman’ dengan Ai
Untuk melihat lebih dekat bagaimana teknologi ini bekerja di dunia nyata, mari kita dengarkan penuturan langsung dari tiga generasi berbeda yang berhasil ‘menjinakkan’ AI demi mempermudah hidup mereka.
Di usia yang hampir menginjak kepala lima, Arief (47) membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk melek teknologi. Sebagai karyawan swasta yang aktif di jejaring sosial, dirinya sempat merasa kesulitan menyusun kata-kata atau mencari ide konten yang menarik.
"Awalnya saya sempat minder melihat posting-an anak-anak muda yang kreatif sekali. Tapi, sejak tahu ada aplikasi AI untuk membuat tulisan, saya tinggal ketik poin-poin yang saya mau, dan tring! Keluar draf takarir (caption) yang rapi, lengkap dengan tagarnya," ujar Arief saat ditemui Xinhua di sebuah warung kopi di Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada Ahad (17/5).
Bagi Arief, AI telah memangkas waktu berpikirnya dan dapat membuat konten menarik. Manfaat yang dirasakannya sangat nyata. Dia bisa tetap menjaga interaksi sosial di dunia maya dengan percaya diri tanpa perlu pusing memikirkan tata bahasa yang kaku.
Beralih ke selatan Jakarta, Laela (45), yang bekerja sebagai karyawan administratif di sebuah universitas swasta kenamaan, merasakan beban kerjanya jauh lebih ringan berkat AI. Setiap hari, mejanya dihujani ratusan surat elektronik (email) dan dokumen kantor yang menuntut respons cepat.
"Dulu, membalas email resmi dari pimpinan, dosen, atau pihak luar itu bisa memakan waktu seharian karena harus menyusun kalimat formal yang tepat. Sekarang, saya pakai AI untuk membuat draf balasan atau menyusun laporan bulanan. Tugas administratif yang tadinya menumpuk berjam-jam, kini selesai dalam hitungan menit," ungkap Laela di kantornya pada Senin (18/5).
Bagi Laela, AI adalah asisten pribadi gratis yang membuatnya bisa lebih fokus pada tugas-tugas strategis lain yang membutuhkan keputusan manusiawi.
Sementara itu, bagi generasi Z seperti Alka (21), AI sudah seperti asupan harian. Mahasiswa jurusan geologi ini kerap memanfaatkan AI untuk membantunya menyelesaikan berbagai tugas kuliah yang menumpuk. Namun, Alka menegaskan dirinya tidak menggunakan AI untuk berbuat curang.
"Saya tidak menyuruh AI untuk langsung membuatkan tugas jadi, ya. Itu namanya curang. Saya menggunakannya sebagai teman diskusi atau brainstorming. Kalau saya mentok cari ide atau bingung merangkum materi berbahasa asing yang rumit, saya minta bantuan AI untuk membedah poin-poin pentingnya," jelas Alka di rumahnya yang berlokasi di Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, AI sangat membantu mempercepat proses belajarnya, terutama saat perpustakaan kampus sudah tutup dan dosen sulit dihubungi.
Dampak Negatif dan Tantangan ke Depan
Seperti halnya teknologi baru lainnya, kehadiran AI di Indonesia layaknya pisau bermata dua. Di satu sisi, manfaat positifnya sangat jelas, yakni mendongkrak produktivitas kerja, menghemat waktu operasional, mengatasi keterbatasan bahasa, dan membuka ruang kreativitas baru tanpa batas bagi semua kalangan.
Namun, di sisi lain, teknologi AI juga memiliki sejumlah dampak negatif yang wajib diwaspadai. Dalam sejumlah kasus, AI kerap disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu (hoax) berbasis visual deepfake atau artikel manipulatif buatan mesin. Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan penyebaran disinformasi berbasis AI ini sebagai risiko serius bagi stabilitas dan ketahanan nasional.
Lebih lanjut, ketergantungan yang berlebih terhadap AI dapat menumpulkan daya analisis dan berpikir kritis manusia. Menurut Buldan Thontowi Ph.D, akademisi dan peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada bidang Psikologi Sosial, penggunaan AI yang sering untuk tugas-tugas kognitif berdampak negatif.
"Dalam eksperimen, kelompok yang menggunakan AI untuk menulis esai ternyata paling lemah saat menjelaskan esai mereka dibandingkan dengan kelompok yang menulis secara mandiri," ujarnya. Hal ini menciptakan "utang kognitif", ketika kita terlalu sering menggunakan AI tanpa melatih kemampuan berpikir, kita menjadi manusia yang kosong pikiran, imbuh Buldan.
Selain itu, dia mengungkapkan teknologi AI saat ini memiliki masalah bias budaya. "Data AI berasal dari sumber tertentu, sering kali Barat, sehingga ketika orang dari negara Muslim atau Indonesia bertanya tentang hubungan atau masalah seksual, AI mungkin menggunakan referensi Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai setempat," paparnya.
Dari semua kelompok masyarakat, remaja lebih rentan terpapar dampak negatif AI. "Kelompok yang paling rentan adalah remaja dengan harga diri rendah yang mudah menerima informasi tanpa sikap kritis," kata Buldan dalam wawancara via telepon dengan Xinhua pada Jumat (22/5).
Oleh karena itu, dia mengungkapkan literasi digital menjadi faktor penting yang dapat melindungi remaja dari dampak negatif AI. "Jika anak muda memiliki sikap kritis terhadap informasi yang dihasilkan oleh AI dan menyadari bahwa respons AI berasal dari model bahasa besar yang mungkin tidak mencerminkan masyarakat mereka, mereka akan lebih terlindungi," ujarnya.
Dalam hal ini, peran orang tua juga sangat penting, di mana mereka harus terlibat saat anak-anak berinteraksi dengan AI atau media, serta memberikan nilai-nilai alternatif dan perspektif kritis, urai Buldan.
Harapan ke depannya, perkembangan AI di Indonesia tidak hanya berfokus pada seberapa canggih teknologi tersebut diadopsi, melainkan pada penguatan literasi digital masyarakat. Regulasi yang bijak dari pemerintah serta kesadaran etika dari penggunanya akan menjadi kunci, agar AI tetap berada di jalurnya sebagai alat yang memberdayakan manusia, bukan justru memperdayanya.
"Secara umum, penggunaan AI yang sehat bagi individu tentu yang dapat mendongkrak produktivitas dan bukan sebaliknya, juga tidak sampai mengganggu aspek hubungan sosial," pungkas Buldan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

RD Kongo ‘siaga penuh’ terkait penyakit misterius
Indonesia
•
09 Dec 2024

Laboratorium eksplorasi luar angkasa dalam China bidik talenta terbaik dunia
Indonesia
•
31 Jan 2023

Aksi kekerasan senjata di AS capai tonggak sejarah suram dalam 3 tahun beruntun
Indonesia
•
23 Nov 2022

Dewan Keamanan PBB adopsi resolusi serukan jeda dan koridor kemanusiaan di Gaza
Indonesia
•
17 Nov 2023


Berita Terbaru

Beban kesehatan mental global naik dua kali lipat sejak 1990
Indonesia
•
23 May 2026

Jumlah kasus hantavirus yang dilaporkan naik jadi 12, kasus kematian 3
Indonesia
•
23 May 2026

Menjadi simbol peradaban, acara budaya teh China digelar di Jakarta
Indonesia
•
22 May 2026

Kemenag RI apresiasi rumah singgah janda dhuafa oleh lembaga amil zakat SIP
Indonesia
•
21 May 2026
