Feature – Tradisi mudik gerakkan ekonomi di Indonesia dan China

Para penumpang bersiap berangkat pulang kampung dengan kereta menjelang Idul Fitri di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, pada 15 Maret 2026. (Xinhua/B. Nugraha)

Pergerakan masyarakat saat arus mudik Lebaran 2026 mencapai 147,55 juta orang.

 

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fitri, jutaan warga menempuh perjalanan pulang ke kampung halaman dengan membawa kerinduan dan harapan akan pertemuan dengan keluarga dan sanak saudara. Dalam semangat mudik Lebaran, tercipta fenomena sosial yang memiliki dampak ke berbagai sektor.

Berdasarkan mobile positioning data yang terhitung pada 13-29 Maret 2026, Menteri Perhubungan Republik Indonesia Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa pergerakan masyarakat saat arus mudik Lebaran 2026 mencapai 147,55 juta orang.

Mudik Lebaran sebagai tradisi sosial tahunan sekaligus mobilitas manusia tidak hanya ada di Indonesia. Fenomena jutaan manusia bergerak serentak melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman pun terjadi di China.

Sekitar sebulan sebelumnya, ratusan juta hingga miliaran penduduk melakukan tradisi pulang ke kampung halaman untuk merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarga. Arus perjalanan saat liburan Imlek, yang juga dikenal sebagai chunyun, mencapai 5,08 miliar perjalanan penumpang antardaerah dalam 20 hari pertama, demikian menurut Kementerian Transportasi China pada 22 Februari tahun ini.

Lantas apa yang mendorong ratusan juta hingga miliaran orang tersebut rela menempuh perjalanan yang pada umumnya jauh dan terkadang tidak mudah karena menguras tenaga dan biaya itu?

Tradisi sosial dan nilai kekeluargaan

Mudik Lebaran dan chunyun di China sebagai tradisi sosial tahunan menunjukkan kuatnya nilai kekeluargaan dalam masyarakat Indonesia dan China. Pada momen khusus seperti Hari Raya Idul Fitri dan Tahun Baru Imlek, masyarakat di Indonesia dan China seakan memiliki kewajiban moral untuk pulang ke kampung halaman dengan tujuan silaturahmi dan berkumpul dengan keluarga.

Hal itulah yang mendorong Samsul Maarif (42), perantau yang bermukim di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, melakukan perjalanan mudik ke Serang, Provinsi Banten, dan ke Lampung. Bapak tiga anak itu menghabiskan waktu selama empat hari di Serang, yang merupakan daerah asal istrinya, dan lima hari di rumah orang tuanya di Lampung. Secara total, Samsul menempuh perjalanan Depok-Serang-Lampung via darat dan laut selama kurang lebih 11 jam.

"Setiap menjelang Idul Fitri, saya selalu mengagendakan untuk mudik, terutama karena kedua orang tua masih hidup. Saya menjadikan momen tahunan ini untuk menjalin silaturahmi dengan orang tua karena di momen lain di luar Idul Fitri cukup sulit untuk berkunjung," ujar Samsul kepada Xinhua.

Hubungan yang biasanya terpisah karena jarak dan kesibukan pekerjaan, pada momen libur Lebaran dan Imlek itu menjadi kesempatan untuk berinteraksi tatap muka dengan orang tua dan sanak saudara. Bagi para perantau, mudik dan chunyun bukan sekadar perjalanan ragawi, melainkan juga perjalanan ritual dan spiritual untuk merawat nilai-nilai kekeluargaan dan memperkuat ikatan kekerabatan, dengan mengesampingkan pertimbangan ekonomi maupun kenyamanan dalam perjalanan.

Samsul mengakui bahwa perjalanan mudik Lebaran tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga biaya. Selain ongkos perjalanan yang sebagian besar menggunakan transportasi umum, seperti taksi daring, bus antarkota, dan kapal feri, dia juga harus merogoh kocek dalam-dalam untuk pos pengeluaran THR, atau semacam angpau, bagi keponakan-keponakan, serta untuk membeli berbagai macam oleh-oleh, seperti makanan khas Lampung.

Penggerak ekonomi skala nasional

Mudik Lebaran di Indonesia dan chunyun Imlek di China bukan hanya tradisi sosial, melainkan juga menjadi motor penggerak ekonomi berskala nasional. Terjadi lonjakan mobilitas manusia yang menciptakan efek berganda (multiplier effect) pada sejumlah sektor, seperti transportasi dan logistik, energi, konsumsi rumah tangga baik daring (online) dan luring (offline), serta sektor pariwisata.

Ratusan juta pemudik menciptakan perputaran uang yang sangat besar, yang akan dinikmati para pengelola objek pariwisata, pedagang makanan dan minuman, penjual oleh-oleh khas daerah, serta tempat kuliner di berbagai daerah. Pegiat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah juga menikmati peningkatan omzet berkat kedatangan para pemudik.

Arif Budiyanto, pemilik kafe Yuwonos Coffee dan usaha pengolahan biji kopi (roastery) Java Sugesti yang berbasis di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, mengaku menikmati berkah dari ritual mudik tahunan tersebut. Pria berusia 40 tahun itu menyebut terjadi lonjakan omzet yang signifikan pada dua usaha yang dikelolanya selama periode libur Lebaran.

"Selama libur Lebaran terjadi peningkatan omzet, terutama ketika pemudik sudah banyak tiba di kampung. Menu minuman dengan base kopi mengalami kenaikan omzet mencapai 100 persen. Pada hari biasa, dua kafe Yuwonos Coffee mendapatkan rata-rata order 50 cup kopi, sedangkan pada saat libur Lebaran, pesanan mencapai lebih dari 100 cup kopi per hari," ungkap Arif kepada Xinhua.

"Untuk roastery terjadi peningkatan pembelian kopi kemasan dan jasa penyangraian (roasting) kopi. Omzet meningkat hingga 200 persen. Pada hari biasa, kuantitas normal jasa roasting sekitar 5 hingga 8 kg per hari, sedangkan menjelang Lebaran hingga H+7 Lebaran, rata-rata 15 hingga 20 kg per hari," imbuhnya.

Sementara itu di China, selama periode 15 hingga 22 Februari lalu, yang mencakup delapan dari sembilan hari libur Imlek, Shanghai mencatatkan pengeluaran gabungan daring maupun luring sebesar 60,35 miliar yuan, naik 12,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumsi luring bahkan tumbuh lebih cepat dengan kenaikan sebesar 15,4 persen, menandakan bahwa masyarakat kembali merayakan sebagian besar kegiatan perayaan tahun baru itu secara langsung.

*1 yuan = 2.515 rupiah

Meskipun sifatnya sementara, hanya dalam hitungan hari, mudik Lebaran di Indonesia dan chunyun saat Imlek di China terbukti mampu menghidupkan pasar, menggeliatkan usaha kecil di daerah, dan menggerakkan ekonomi lokal maupun nasional.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait