Feature – Tinggalkan Under Armour, Stephen Curry gandeng Li-Ning! Fans Indonesia langsung heboh

Bintang Golden State Warriors Stephen Curry terlihat mengenakan sepatu Li-Ning seri Dwyane Wade dan Jimmy Butler dalam beberapa kesempatan. (Foto: Instagram Bleacher Reports Kicks)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Betapa gembiranya Alrean Syah (25) saat mengetahui superstar NBA Stephen Curry memilih bermitra dengan produsen peralatan olahraga China, Li-Ning, untuk memperluas merek Curry Brand miliknya. Sebelumnya, selama 13 tahun, Curry berkongsi dengan produsen olahraga Amerika Serikat, Under Armour.

Antusiasme Alrean itu tidak hanya karena dia mengidolakan Curry sebagai pebasket, tetapi juga karena bintang klub Golden State Warriors tersebut bergabung dengan merek yang produknya dia pakai dalam kegiatan olahraganya belakangan ini, dari bulu tangkis sampai basket.

"Senang banget," ujarnya kepada Xinhua dalam wawancaranya via Instagram pada 4 Juni lalu. Kegembiraannya itu langsung dia ungkapkan dalam kalimat "menggelitik" di halaman komentar akun Instagram Li-Ning Sunlight Indo, yang merilis video pengumuman kemitraan Curry dan merek China tersebut.

"Min, sepatu basket kapan masuk ke sini?" tanyanya kepada distributor Li-Ning di Indonesia tersebut. Maklum, selama ini pemuda yang berdomisili di Jakarta itu kesulitan mendapatkan sepatu basket Li-Ning secara langsung di Indonesia. Pasalnya, toko online resmi penjual Li-Ning di Indonesia hanya menjual produk bulu tangkis dan olahraga lari.

Untuk mendapatkan sepatu basket Li-Ning, Alrean biasanya melakukan pemesanan atau pre-order (PO) melalui reseller di sebuah aplikasi marketplace di Indonesia, yang tentunya lebih mahal dari harga aslinya. Selain itu, dia juga harus bersabar menerima pesanannya karena pengiriman dari luar Indonesia dilakukan via laut yang memakan waktu 14-30 hari kerja.

Meski begitu, Alrean rela menunggu karena tahu seberapa bagus kualitas sepatu buatan Li-Ning. Saking bagusnya, dia berhenti membeli merek lain yang lebih terkenal sebagai sepatu basket. "Untuk budget shoes yang pernah saya coba pun, kualitasnya kalau dibandingkan sepatu lain keluaran sekarang, Li-Ning lebih bagus sih," ucapnya.

Dari awalnya memakai sepatu dan raket bulu tangkis buatan Li-Ning, Alrean yang kala itu duduk di bangku perguruan tinggi, mencoba sepatu basket Li-Ning karena harga yang lebih terjangkau bagi kantong mahasiswa seperti dirinya.

Sepatu basket Li-Ning pertama yang dibelinya adalah Wade Shadow 3, sepatu andalan pebasket NBA D'Angelo Russell yang dirancang untuk kelincahan dan kecepatan. Sepatu ini memiliki bantalan Li-ning Boom dan pelat Probar Loc untuk kestabilan maksimum.

Ketagihan dengan kualitas sepatu itu, Alrean mencoba model lain, yakni Lining Speed 8, sepatu performa andalan guard NBA seperti Fred VanVleet. Sepatu ini menonjolkan bobot yang ringan dan material atas yang sangat sejuk (breathable).

Alrean kemudian semakin tertarik dengan seri Wade-All City, lini sepatu outdoor premium terkenal dari sub-brand milik legenda NBA Dwyane Wade, Way of Wade (WOW). Pertama-tama, Alrean mencoba seri All City 12 (di kemudian hari, All City 13 dan 14), yang dikenal tahan banting dengan traksi kuat dan bantalan nyaman.

"Benar-benar se-happy itu saat mencoba All City 12," tutur Alrean, yang kemudian mendorongnya untuk berhenti membeli sepatu basket keluaran merek lainnnya.

Sepatu basket Li-Ning berikutnya yang dia beli adalah Wade 808 5 Ultra, yang sangat populer untuk pemain yang mengutamakan kelincahan (guard) dengan setup bantalan drop-in midsole. Produk teranyar yang dibeli Alrean adalah WOW 10 Low, salah satu sepatu basket terbaik di pasaran dengan pantulan energi (bouncing) ekstrem dari busa full-length Boom dan pelat serat karbon.

Dari pengalaman memakai sepatu basket dengan kualitas sebagus Li-Ning, Alrean pun mencoba memengaruhi beberapa kenalannya. "Tapi ada (teman) yang belum switch karena pertimbangan mereka harus PO, dan mereka tidak tahu ukuran yang sesuai dengan (kaki) mereka," ujarnya, yang juga memperhatikan banyaknya orang di Indonesia yang memakai sepatu basket Li-Ning.

Karena itulah, Alrean berharap distributor Li-Ning di Indonesia mempertimbangkan untuk mulai menjual lini sepatu basketnya di Indonesia, setidaknya melalui toko online resmi. Itu tidak hanya akan memudahkan pembelian, tetapi juga membuat harga lebih murah ketimbang membeli via PO atau membeli langsung di toko Hoops Point, yang harganya lebih mahal daripada via PO.

Alrean pun merujuk pada merek sepatu basket China lainnya, ANTA, yang kebetulan dipakai pebasket favoritnya yang lain, Kyrie Irving. Sepatu basket ANTA dijual secara langsung di toko-toko di Indonesia. "Sebelum masuk dan sesudah masuk (ke Indonesia) tuh (harganya) jadi lumayan terjangkau ya," ujarnya.

Tentu ini akan sejalan dengan visi Stephen Curry yang ingin berekspansi secara global. Dari sisi bisnis, dampaknya dinilai sangat besar. Menurut Adam Zhang, pendiri Key-Solution Sports Consulting, Li-Ning, yang berdiri sejak 1990 dan kini memiliki lebih dari 7.600 toko, akan membangun Curry Brand sebagai sub-brand independen mirip struktur Nike-Jordan, lengkap dengan jalur ritel dan endorsement sendiri.

Menurut Laporan Tahunan 2025, pendapatan global Li-Ning Company Limited mencapai sekitar 29,6 miliar yuan. Menurut analisis DBS yang mengutip data 2024, penjualan internasional hanya sekitar 2 persen dari total pendapatan Li-Ning. Sebagian besar pendapatan masih berasal dari China melalui distributor, toko sendiri, dan e-commerce.

*1 yuan = 2.650 rupiah

Itu berarti bahwa jika mengacu pada total pendapatan 2025, bisnis internasional secara keseluruhan diperkirakan berada di kisaran 500-600 juta yuan per tahun. Indonesia hanya merupakan sebagian dari angka tersebut.

Laporan Euromonitor untuk pasar sportswear Indonesia menunjukkan bahwa pasar masih didominasi Adidas, Nike, dan Skechers. Adidas bahkan hanya memiliki pangsa sekitar 4 persen karena pasar Indonesia sangat terfragmentasi. Nama Li-Ning tidak masuk daftar pemain utama, mengindikasikan bahwa pangsa pasarnya masih relatif kecil dibanding merek-merek besar global.

Meski demikian, kesepakatan jangka panjang antara Stephen Curry dan Li-Ning tahun ini diperkirakan akan meningkatkan penjualan kategori basket di pasar internasional, termasuk Asia Tenggara. Indonesia merupakan salah satu pasar basket terbesar di kawasan, sehingga berpotensi menjadi target ekspansi Li-Ning di masa depan.

Secara proyeksi, lini sepatu basket Curry diperkirakan bisa menembus lebih dari 600.000 pasang per tahun. Dengan harga rata-rata sekitar 1.000 yuan per pasang, potensi pendapatan dari sepatu ini saja bisa mencapai sekitar 600 juta yuan per tahun.

Selain pasar sepatu, kolaborasi ini juga berpotensi berkembang ke kategori lain, seperti golf, dengan memanfaatkan basis penggemar Curry yang mencapai sekitar 150 juta orang secara global, termasuk pasar besar di China.

Kalangan analis menilai kerja sama ini sebagai titik balik penting bagi divisi basket Li-Ning yang sempat melemah pada 2025. Menurut Sinolink Securities, ada ekspektasi pertumbuhan kembali pada 2026, didorong oleh peningkatan citra merek, efisiensi edukasi pasar luar negeri, dan peluang yang lebih besar untuk masuk ke kanal ritel utama di Eropa dan Amerika Utara.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait