
FAO: Harga pangan dunia turun selama 12 bulan beruntun

Seorang pelanggan berbelanja bahan makanan di sebuah pasar swalayan di pusat kota Stockholm, Swedia, pada 15 Maret 2023. Harga bahan pangan di Swedia melonjak lebih dari 20 persen selama 12 bulan terakhir, mencatatkan rekor kenaikan tertinggi dalam lebih dari 70 tahun, demikian menurut Badan Statistik Swedia (SCB) pada Rabu (15/3). (Xinhua/Fang Ming)
Indeks Harga Pangan FAO turun 2,1 persen pada Maret, dan kini turun 20,5 persen sejak mencapai titik tertingginya pada tahun lalu usai lonjakan besar akibat konflik Rusia-Ukraina.
Roma, Italia (Xinhua) – Harga pangan dunia turun selama 12 bulan beruntun pada Maret, seperti dilaporkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (7/4).Itu merupakan pertama kalinya indeks tersebut mengalami penurunan selama satu tahun penuh.Indeks Harga Pangan FAO turun 2,1 persen pada Maret, dan kini turun 20,5 persen sejak mencapai titik tertingginya pada tahun lalu usai lonjakan besar akibat konflik Rusia-Ukraina.Biji-bijian dan serealia, komponen terbesar dalam indeks tersebut, turun 5,6 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan turun 18,6 persen selama 12 bulan terakhir.Di antara biji-bijian dan serealia, harga gandum mengalami penurunan terbesar, yakni merosot 7,1 persen saat ekspor dari Ukraina via Laut Hitam meredakan kekhawatiran pasar. Harga jagung turun 4,6 persen karena produksi yang kuat di Amerika Selatan, sementara harga beras turun 3,2 persen, menyusul data prospek panen di India, Vietnam, dan Thailand.Harga minyak nabati turun 3 persen pada Maret dan 47,7 persen lebih rendah dibandingkan pada Maret 2022. Sementara itu, harga produk susu turun 0,8 persen, menyumbang pada penurunan 10,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Harga daging naik tipis 0,8 persen pada Maret, namun masih tercatat turun 5,3 persen selama 12 bulan terakhir.FAO mengatakan bahwa melemahnya permintaan dan adaptasi terhadap hambatan rantai pasokan global, seperti meningkatnya persaingan antarpemasok, menjadi faktor utama yang mendorong harga turun selama setahun terakhir.Pengecualian utama dari tren tersebut adalah harga gula, yang naik 1,5 persen pada Maret, mencapai level tertingginya sejak Oktober 2016.Meskipun harga-harga menurun, para pejabat FAO dalam beberapa bulan terakhir telah berulang kali memperingatkan bahwa isu-isu pasokan bahan bakar dan ketidakpastian pasar lainnya mengancam banyak negara miskin di dunia.Indeks Harga Pangan FAO didasarkan pada harga di seluruh dunia untuk 23 kategori komoditas pangan yang mencakup harga untuk 73 produk berbeda yang dibandingkan dengan tahun dasar.Indeks FAO berikutnya dijadwalkan akan dirilis pada 5 Mei.Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Roma.Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Dua juta jamaah daftar umroh dalam satu bulan
Indonesia
•
08 Nov 2020

Year Ender – Maskot fauna Kalimantan Selatan, bekantan terancam punah
Indonesia
•
01 Jan 2026

WHO: Jumlah penderita kanker naik 60 persen dalam dua dekade
Indonesia
•
04 Feb 2020

Generasi ‘baby boomer’ lebih mungkin derita berbagai penyakit kronis
Indonesia
•
18 Jun 2022


Berita Terbaru

Temu alumni program pelatihan China digelar di Jakarta, perkuat kerja sama Indonesia-China
Indonesia
•
13 Jun 2026

Ikon budaya pop asal China Labubu tampil dalam upacara pembukaan Piala Dunia 2026
Indonesia
•
13 Jun 2026

Main medsos 2 jam sehari bisa tingkatkan risiko depresi pada remaja, studi 10 tahun ungkap faktanya
Indonesia
•
13 Jun 2026

1,8 miliar orang di dunia kurang olahraga, WHO nilai china punya praktik yang efektif
Indonesia
•
12 Jun 2026
