Feature – Masjid ICMG Brunswick satukan Muslim berbagai bangsa di Australia

Suasana salat Jumat di Masjid ICMG Brunswick, Melbourne, Australia, pada 28 Mei 2025. (Indonesia Window/Daday Hidayat)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Di sebuah sudut kawasan Brunswick, Melbourne, berdiri sebuah bangunan yang dari luar tampak bersahaja. Tidak ada kubah menjulang yang mendominasi langit kota, tidak pula arsitektur megah yang segera menarik perhatian para pejalan kaki.

Namun, ketika pintunya terbuka, ruang sederhana itu memperlihatkan wajah lain Australia—wajah Islam yang hidup dalam keberagaman.

Masjid itu bernama ‘Islamic Community Milli Görüş (ICMG) Brunswick’.

Menjelang waktu salat, satu per satu jamaah berdatangan. Ada yang berbicara dalam bahasa Turkiye, sebagian bercakap dalam bahasa Arab, Urdu, Inggris, atau Indonesia. Di antara mereka tampak mahasiswa, pekerja, keluarga muda, hingga anak-anak yang berlarian menuju ruang belajar Al-Qur'an.

Mereka datang dari bangsa yang berbeda, membawa bahasa dan budaya yang beragam. Namun, ketika azan berkumandang, seluruh perbedaan itu seolah melebur dalam barisan-barisan dengan arah yang sama.

Barangkali, inilah gambaran yang paling dekat dengan firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Hujurat ayat 13. Terjemahannya:

‘Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal...’

Ayat itu menemukan maknanya bukan hanya dalam kitab suci, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di sebuah masjid sederhana di Melbourne.

Dari komunitas Turkiye

Masjid ICMG Brunswick lahir dari perjalanan panjang komunitas Muslim Turkiye di Australia.

Gelombang migrasi besar masyarakat Turkiye mulai berlangsung setelah ‘Perjanjian Australia–Turki pada 1967’, yang membuka peluang lebih luas bagi warga Turki untuk menetap di Australia.

Banyak keluarga kemudian memilih Melbourne sebagai tempat membangun kehidupan baru. Bersamaan dengan tumbuhnya komunitas itu, lahirlah kebutuhan akan ruang ibadah, pusat pendidikan, dan tempat berkumpul bagi sesama Muslim.

Menurut keterangan komunitasnya, Masjid ICMG mulai hadir sebagai ruang ibadah sederhana pada 1991. Seiring waktu, masjid ini berkembang mengikuti pertumbuhan jamaah dan menjadi salah satu pusat kegiatan ke-Islam-an di kawasan Brunswick.

Meski dibangun dan dikelola oleh komunitas Muslim Turkiye melalui organisasi ‘Islamic Community Milli Görüş’, pintu masjid ini tidak pernah hanya terbuka bagi satu etnis.

Justru sebaliknya.

Seiring berkembangnya masyarakat Muslim Australia yang semakin beragam, Masjid ICMG tumbuh menjadi ruang bersama bagi siapa pun yang datang untuk beribadah.

Di sinilah Islam memperlihatkan wajahnya yang universal.

Rumah kedua

Bagi banyak warga negara Indonesia yang tinggal di Brunswick dan sekitarnya, Masjid ICMG memiliki arti yang melampaui fungsi sebuah rumah ibadah.

Brunswick sendiri merupakan salah satu kawasan yang cukup diminati keluarga Indonesia. Letaknya relatif dekat dengan pusat Kota Melbourne, memiliki akses transportasi yang baik, lingkungan yang nyaman, serta berdekatan dengan sekolah, pusat perbelanjaan, dan berbagai fasilitas umum.

Banyak mahasiswa Indonesia yang datang bersama pasangan dan anak memilih menetap di kawasan ini selama menjalani studi.

Di tengah rutinitas kuliah, bekerja, dan mengurus keluarga di negeri orang, keberadaan masjid yang mudah dijangkau menghadirkan sesuatu yang sulit diukur dengan angka: rasa tenang.

Di tempat inilah mereka kembali mendengar sapaan berbahasa Indonesia, bertemu sesama perantau, berbagi cerita tentang kehidupan di Australia, sekaligus menunaikan ibadah berjamaah.

Masjid menjadi ruang yang mempertemukan mereka dengan sesuatu yang terasa akrab—sepotong suasana rumah yang terbawa hingga ke negeri berjuluk ‘Down Under’.

Suasana di Masjid ICMG menunjukkan bagaimana Islam bertumbuh di Australia.

Di dalam satu saf dapat berdiri berdampingan seorang Muslim Turkiye, mahasiswa Indonesia, pekerja asal Pakistan, keluarga dari Bangladesh, jamaah keturunan Bosnia, hingga warga Australia yang baru-baru saja memeluk Islam.

Mereka mungkin tidak memahami bahasa satu sama lain. Tradisi budaya mereka pun berbeda.

Namun, mereka dipersatukan oleh keyakinan yang sama.

Perbedaan itu tidak dihapuskan, melainkan diterima sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Dalam konteks masyarakat Australia yang multikultural, masjid seperti ICMG menjadi ruang yang memperlihatkan bahwa keberagaman bukan hambatan bagi persaudaraan, melainkan fondasi untuk saling mengenal, sebagaimana pesan Al-Qur'an.

Jejak panjang Islam di Australia

Perjalanan Islam di Australia sendiri jauh lebih tua daripada yang banyak dibayangkan.

Sebelum gelombang migrasi modern berlangsung, jejak kaum Muslim telah hadir melalui para pelaut dari Nusantara yang berlayar ke pesisir utara Australia, disusul para penunggang unta asal Afghanistan yang berperan penting membuka jalur transportasi di pedalaman benua itu pada abad ke-19.

Memasuki paruh kedua abad ke-20, migrasi dari Turkiye, Lebanon, Bosnia, Asia Selatan, Afrika, dan berbagai kawasan lain semakin memperkaya lanskap Islam Australia.

Islam kemudian tumbuh bukan sebagai identitas satu bangsa, melainkan sebagai mosaik yang tersusun dari banyak latar belakang budaya.

Keberagaman itu masih terlihat hingga hari ini.

Data Sensus Australia 2021 mencatat lebih dari 813.000 Muslim, atau sekitar 3,2 persen dari total penduduk Australia. Angka tersebut terus mencerminkan pertumbuhan komunitas Muslim sebagai bagian dari masyarakat multikultural negeri kanguru.

Namun, kehidupan Islam tidak hanya tergambar dalam statistik.

Ia hadir dalam salat Jumat yang ramai oleh jamaah dari berbagai bangsa, dalam kelas-kelas pendidikan anak, kegiatan sosial lintas komunitas, dialog antaragama, dan ruang-ruang perjumpaan yang tumbuh di masjid-masjid seperti ICMG Brunswick.

Bagi warga Indonesia, Masjid ICMG mungkin tidak pernah dimaksudkan sebagai ‘masjid Indonesia’. Ia lahir dari ikhtiar komunitas Muslim Turkiye membangun tempat ibadah bagi generasi mereka.

Namun, justru karena Islam membawa misi ‘rahmatan lil 'alamin’, rumah ibadah itu berkembang menjadi milik umat yang lebih luas.

Di bawah atap yang sama, orang-orang dari berbagai bangsa menemukan ruang untuk saling mengenal, saling menguatkan, dan merasakan bahwa mereka tidak sendirian di negeri yang jauh dari kampung halaman.

Di Masjid ICMG Brunswick, persaudaraan itu tidak hadir sebagai slogan. Ia hidup dalam keseharian—di setiap saf salat dan di setiap jabat tangan saat perjumpaan, yang menjadikan Australia sebagai rumah bersama bagi umat Islam dari berbagai penjuru dunia.

Penulis: Daday Hidayat, Lc. (warga negara Indonesia; pernah tinggal di Brunswick Australia)

Bagikan

Komentar

Berita Terkait