Feature – Kaum muda China bangun karier, koneksi, dan harapan di Indonesia

Chai Yinhui (kedua dari kanan) mengajar bahasa Mandarin kepada anak-anak di sebuah gubuk beratap seng sederhana di tepi pantai di Jakarta Utara pada 9 Mei 2026 (Xinhua/Ceng Yunpeng)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Di sepanjang garis pantai yang berlumpur di Kalibaru, sebuah kampung nelayan di Jakarta Utara, perahu-perahu berkarat bergoyang perlahan di samping sebuah ruang kelas darurat beratap seng. Setiap akhir pekan, puluhan anak Indonesia berkumpul di sana untuk belajar bahasa Mandarin dari para sukarelawan asal China.

Bagi guru sukarelawan asal China, Chai Yinhui, yang juga merupakan pemilik perusahaan logistik pangan PT Serba Agro Tani International, ruang kelas ini lebih dari sekadar proyek amal. Ini menjadi salah satu contoh bagaimana semakin banyak kaum muda China di Indonesia yang tidak hanya berfokus pada kelangsungan bisnis semata, tetapi juga berupaya membangun ikatan yang lebih mendalam dengan masyarakat setempat.

Mulai dari para pengusaha dan guru hingga profesional di bidang hukum, banyak kaum muda China di Indonesia, yang datang di tengah ketidakpastian serta mengatasi berbagai rintangan dan hambatan budaya, telah memilih untuk membangun pijakan hidup mereka di sana sambil memupuk pertukaran antarmasyarakat di antara kedua negara.

Bagi banyak pendatang baru, tantangan terbesarnya bukanlah urusan bisnis itu sendiri, melainkan beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali asing.

Yi Yan, seorang pengusaha asal China yang tiba di Indonesia pada 2014, mengatakan bahwa awalnya dia datang sebagai tenaga teknis di sebuah perusahaan farmasi sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia dan merintis bisnisnya sendiri.

Usaha pertamanya, sebuah perusahaan perdagangan yang menjual produk tenaga surya dan bahan bangunan, sama sekali tidak berjalan mulus. Kendala bahasa, prosedur administratif yang rumit, dan budaya kerja yang asing dengan cepat menjadi hambatan.

"Segalanya harus dimulai dari nol," kenang Yi, yang kini berusia 30-an. "Bagaimana cara mendaftarkan perusahaan, merekrut karyawan lokal, dan berkomunikasi dengan departemen pemerintah, semuanya merupakan hal baru."

Tidak lama setelah dia beralih ke bisnis layanan bahasa dan mendirikan IF Language School pada 2019, pandemi COVID-19 kembali memberikan pukulan berat. Kegiatan pengajaran tatap muka nyaris terhenti sepenuhnya, dan operasional perusahaannya hampir lumpuh total.

Bagi Lai Yanmin, yang kini menjabat sebagai kepala perwakilan sebuah firma hukum China di Indonesia bernama Topwe Law Firm, kesulitan muncul dalam bentuk lain: menjembatani perbedaan besar dalam budaya bisnis dan sistem hukum.

Dia menuturkan bahwa para pengacara Indonesia sering kali kesulitan memahami proses pengambilan keputusan perusahaan-perusahaan China, sementara perusahaan-perusahaan China merasa sulit beradaptasi dengan peraturan dan kebiasaan lokal di Indonesia.

"Dalam kerja sama lintas perbatasan, kesalahpahaman dapat dengan mudah terjadi jika kedua pihak tidak saling memahami sepenuhnya," ujar Lai.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, kaum muda China ini secara bertahap menemukan cara untuk meniti karier mereka di Indonesia.

Lai, yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi, memutuskan untuk meniti karier di bidang hukum setelah lulus pada 2017. Di awal kariernya, dia menerjemahkan sebuah dokumen berisi 650.000 kata mengenai hukum ketenagakerjaan Indonesia. Tugas yang menantang ini tidak hanya memperdalam pemahamannya tentang sistem hukum negara kepulauan tersebut, tetapi juga membantu para investor China menavigasi pasar Indonesia dengan lebih baik.

Kemampuan bahasa dan pemahamannya terhadap kedua budaya tersebut pada akhirnya mengubah dia menjadi jembatan penghubung antara perusahaan-perusahaan China dan para mitra di Indonesia.

Sementara itu, Yi mengubah kesulitan menjadi peluang. Selama pandemi, ketika aktivitas bisnis sedang melambat, dia mulai membuat berbagai video berbahasa Mandarin yang menjelaskan mengenai kebijakan-kebijakan Indonesia dan kehidupan sehari-hari bagi komunitas China di perantauan.

Salah satu videonya yang memuat informasi seputar regulasi perjalanan di Indonesia meraup jutaan penayangan dan membantu banyak warga China yang terjebak selama pandemi.

Pengalaman tersebut kemudian membantunya mengembangkan bisnis layanan bahasa seiring dengan semakin banyaknya perusahaan China yang merambah ke pasar Asia Tenggara pascapandemi. Sekolahnya kini telah memberikan layanan pelatihan bahasa kepada hampir 20.000 peserta didik.

Selain mengajar bahasa Mandarin di desa nelayan Kalibaru, Chai masih bepergian bolak-balik setiap hari dari pusat kota Jakarta ke berbagai komunitas, berupaya memperkuat rantai pasok pangan sekaligus memperluas basis pelanggannya.

Bagi kaum muda China yang tinggal di negara ini, Indonesia bukan lagi sekadar tempat untuk bekerja. Melalui ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan keterlibatan yang erat dengan masyarakat setempat, mereka sedang membangun kehidupan mereka sendiri sekaligus memperdalam ikatan budaya antara kedua negara.

Selesai

Oleh penulis Xinhua: Li Jiacong

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait