
Feature – Gaharu, si wangi yang abadi jadi peluang bisnis bernilai fantastis

Zaky Al-Habsyi, pengusaha gaharu dan pemilik toko Al Amanah (kiri), dalam wawancara khusus dengan Indonesia Window, di Bogor, Jawa Barat, Kamis (23 April 2026). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)
Perdagangan gaharu di Al Amanah cukup ramai karena ada beragam jenis gaharu dari seluruh Tanah Air, mulai dari kelas super hingga “kelas tiga”, mencakup gaharu dengan wangi alami maupun yang buatan.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Berasal dari pohon yang ‘sakit’ karena terinfeksi jamur, lalu dipanen justru saat pohon kering meranggas, dan dipatah menjadi kepingan-kepingan kayu yang tampak tak ada nilainya lagi.
Justru dari kisah yang tak ‘menarik’ itu, lahir komoditas mewah nan mahal, yang bahkan dijuluki, ‘emas hijau’ atau ‘diamond in the forest’. Inilah gaharu yang terkenal sebagai kayu yang harum.
Wangi gaharu berasal dari pohon gaharu atau agarwood (Aquilaria malaccensis) yang terinfeksi jamur patogen (terutama Fusarium sp.). Sebagai pertahanan diri dari organisme invasif tersebut, pohon gaharu memproduksi resin aromatik, yang mengubah kayu sehat menjadi gubal gaharu bernilai tinggi.
Infeksi ini menciptakan warna gelap, aroma wangi, dan meningkatkan berat jenis kayu. Proses ini bisa terjadi secara alami atau melalui inokulasi buatan.
Indonesia merupakan produsen dan pengekspor gaharu terbesar di dunia, memasok sekitar 70 persen kebutuhan pasar internasional, terutama negara-negara Arab. Wangi gaharu Indonesia dikenal karena kompleks, unik, dan beragam.
“Wewangian bagian dari budaya masyarakat Arab, menjadi simbol status sosial dan penghormatan kepada para tamu,” tutur Zaky Al-Habsyi, pengusaha gaharu saat dijumpai baru-baru ini, di toko Al Amanah miliknya, di daerah Puncak Bogor, Jawa Barat.
Dia menguraikan, gaharu masuk dalam prosesi jamuan tradisional masyarakat Arab. Minuman kopi (gahwa/qohwah) dan kurma akan mengawali hidangan, lalu tuan rumah akan membakar kayu gaharu dalam tungku kecil genggam. Tak lama, asap tipis membumbung bersama dengan keluarnya aroma harum dari kayu gaharu. Seketika, ruangan akan semerbak, juga pakaian yang dikenakan para tamu. Inilah bentuk penghormatan dari tradisi membakar gaharu.
Selain menjadi tradisi, wewangian termasuk dalam syariat Islam yang menganjurkan agar kaum lelaki memakai minyak wangi saat beribadah, dan menjaga aroma harum di mana saja karena disukai malaikat.
Ajaran Islam dan tradisi wewangian tersebut membuat perdagangan gaharu didominasi pasar Timur Tengah.
“Para pembeli gaharu saya hampir semua dari negara Arab, terutama Arab Saudi. Apalagi toko saya berada di daerah Puncak Bogor, yang memang terkenal di kalangan orang-orang Arab sebagai tujuan wisata yang sejuk,” ujar Zaky, yang meneruskan bisnis gaharu keluarga, yang telah dirintis sejak 40 tahun silam.
Perdagangan gaharu di Al Amanah juga cukup ramai karena dia menawarkan beragam jenis gaharu dari seluruh wilayah Tanah Air, mulai dari kelas super hingga “kelas tiga”, mencakup gaharu dengan wangi alami maupun yang buatan dengan cara disuntik dengan biang minyak gaharu.

“Hampir semua daerah di Indonesia punya jenis gaharu. Totalnya, ada lebih dari 20 jenis gaharu dengan grade yang berbeda-beda. Ada gaharu Sumatra, Banten, Sulawesi, dan Pulau Seram dari Maluku,” ucapnya, seraya menambahkan, gaharu yang kini banyak digandrungi adalah yang berasal dari Malino di Kalimantan Utara dan Merauke (Papua).
Secara garis besar, lanjut Zaky, grade gaharu ditentukan dari dua aspek, yakni wangi yang dikeluarkan saat dibakar dan durasi pembakaran kayu hingga menjadi arang.
“Aroma memang soal selera, tapi kebanyakan orang Arab suka dengan aroma dari dua gaharu ini. Grade gaharu yang bagus pembakarannya lama – bisa sampai 10 menit, dan wanginya bertahan. Ini karena kandungan minyaknya banyak,” ucapnya.
Di Al Amanah, ‘emas hijau’ ini dibandrol dengan harga mulai dari 60 juta rupiah hingga 100 juta rupiah per kilogram. Di pasaran yang lebih luas, harga gaharu ada yang bisa mencapai miliaran rupiah.
“Soal harga gaharu ini sebenarnya tidak ada yang paten karena ada kalanya jika pembeli sudah cocok dan sangat suka dengan harumnya, mereka tidak segan-segan menawar dengan harga tinggi,” ungkap Zaky.
Bahan yang melimpah dan terus menerus tersedia di alam, dengan harga yang fantastis, serta permintaan dari pangsa pasar yang cenderung stabil, membuat bisnis gaharu cukup menggiurkan.
“Tapi, untuk terjun ke bisnis gaharu butuh pengalaman tahunan. Nggak bisa satu-dua tahun, karena kita perlu belajar untuk mengenal jenis dan kualitas gaharu dari macam-macam daerah, juga membangun saling percaya dan menjaga hubungan baik dengan pembeli dan pemasok,” kata Zaky.
Di tengah krisis geopolitik di kawasan Arab saat ini, dia mengakui penjualan gaharu di tokonya agak menurun.
“Kita kesulitan untuk mengirim barang ke negara-negara Arab. Selain itu, jumlah kunjungan warga Arab ke Indonesia juga menurun karena terdampak perang,” jelasnya.
Syukurnya, stok kayu gaharu miliknya tidak akan pernah kadaluarsa.
“Kayu gaharu semakin lama semakin kering, dan ini bagus karena minyaknya akan semakin keluar. Artinya, makin lama disimpan, gaharu akan semakin tinggi harganya,” ujar Zaky.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Menteri Uganda: Uganda akan dapat manfaat dari kerja sama BRICS sebagai negara mitra
Indonesia
•
14 Jan 2025

ADB setujui pinjaman senilai 300 juta dolar AS untuk Bangladesh
Indonesia
•
14 Jul 2023

ADB pangkas pertumbuhan negara berkembang Asia karena risiko Omicron
Indonesia
•
14 Dec 2021

Kajian Ilmiah – Kaum Muslimin diharapkan paham ilmu agama sebelum berbisnis
Indonesia
•
30 Sep 2024


Berita Terbaru

Trump ancam Inggris dengan "tarif besar" jika tak cabut pajak layanan digital
Indonesia
•
25 Apr 2026

Meta berencana pangkas 10 persen karyawan, Microsoft luncurkan program pensiun sukarela
Indonesia
•
25 Apr 2026

Realisasi investasi asal China di Indonesia naik 22 persen pada Q1 2026
Indonesia
•
25 Apr 2026

Rusia butuh 644 pesawat baru per 2030 untuk penuhi permintaan sektor penerbangan
Indonesia
•
25 Apr 2026
