
PBB peringatkan situasi Tepi Barat makin memburuk, warga Palestina kian terjepit

Pasukan Israel menyerbu Desa Umm al-Kheir di daerah Masafer Yatta, sebelah selatan Hebron, Tepi Barat, dalam sebuah acara yang diadakan untuk memprotes kekerasan pemukim Israel pada 28 Juli 2026. (Xinhua/Mamoun Wazwaz)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Meningkatnya penderitaan warga Palestina di Tepi Barat akibat aktivitas militer dan pemukim Israel yang semakin intensif sangat mengkhawatirkan, kata seorang juru bicara (jubir) PBB pada Selasa (18/8).
"Dapat saya katakan bahwa kami sangat khawatir dengan terus memburuknya situasi keamanan dan kemanusiaan bagi warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki," ujar Stephane Dujarric, jubir utama Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Dujarric mengatakan bahwa meningkatnya kekerasan, meluasnya keberadaan pemukim, pembatasan ketat terhadap pergerakan dan akses bagi warga Palestina, serta menyusutnya peluang ekonomi telah menjadi hal yang lumrah di Tepi Barat.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan bahwa pasukan Israel pada Senin (17/8) menginstruksikan sekitar 10 keluarga Palestina di lingkungan Jabal An Nasr di Tulkarm, Tepi Barat bagian utara, untuk meninggalkan rumah mereka selama tujuh jam karena aktivitas militer di dekat kamp pengungsi Palestina Nur Shams, yang letaknya berdekatan.
"Buldoser militer Israel menggali sebagian jalan, merusak jaringan air dan saluran pembuangan, serta melakukan pekerjaan penggalian di tanah Palestina sebelum mundur," kata OCHA. "Para keluarga dilaporkan kembali ke rumah mereka, dan petugas pemerintah kota memperbaiki infrastruktur yang rusak setelah pasukan keamanan Israel mundur."
Di Gaza, OCHA mengatakan para mitranya juga khawatir tentang dampak aktivitas militer yang terus berlangsung terhadap warga sipil.
Kantor tersebut mengatakan para mitranya melaporkan serangan udara, penembakan artileri, tembakan senjata api, dan tembakan dari angkatan laut, terutama di sebelah barat apa yang disebut Garis Kuning, tempat sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza terkungkung di wilayah yang luasnya kurang dari separuh Jalur Gaza.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB pada Senin memperingatkan bahwa kapasitas pertanian Gaza telah hancur. Penilaian baru menemukan bahwa hanya 3 persen lahan pertanian yang masih dapat diakses dan tidak rusak, yang semakin melemahkan produksi pangan setempat dan penghidupan para petani.
Meskipun aktivitas militer dan pembatasan terus berlangsung, PBB dan para mitranya terus menyalurkan bantuan, mendukung layanan penting, dan memfasilitasi operasi kemanusiaan yang krusial di mana pun memungkinkan, kata OCHA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

IMO keluarkan peringatan keras: Serangan di Laut Merah ancam pelaut dan perdagangan dunia
Indonesia
•
24 Jul 2026

Nasib 350.000 warga Haiti di AS terancam, putusan hakim buka jalan bagi deportasi
Indonesia
•
06 Aug 2026

AI hingga media sosial dimanfaatkan teroris, PBB dorong strategi pencegahan berbasis masyarakat
Indonesia
•
14 Feb 2026

COVID-19 - Rusia terima permintaan 1 miliar dosis vaksin dari 20 negara
Indonesia
•
12 Aug 2020


Berita Terbaru

Rekor kelam pekerja kemanusiaan: 907 tewas, terluka, atau diculik pada 2025
Indonesia
•
20 Aug 2026

40.000 warga Palestina terjebak jam malam Israel di Tepi Barat, akses kebutuhan harian dibatasi
Indonesia
•
20 Aug 2026

Trump deklarasikan “perang ekonomi” terhadap Iran, ancaman besar menanti negara yang membantu
Indonesia
•
20 Aug 2026

UEA klaim dua rudal Iran meluncur ke wilayahnya, Teheran membantah
Indonesia
•
19 Aug 2026
