
Ekonomi makin tak menentu, permintaan emas dunia pecahkan rekor

Pelanggan memilih aksesori emas di sebuah toko emas yang ada di Kota Qionghai, Provinsi Hainan, China selatan, pada 29 Januari 2026. (Xinhua/Meng Zhongde)
Permintaan emas global melonjak ke rekor tertinggi 5.002 ton pada 2025 di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang masih berlanjut.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Permintaan emas global melonjak ke rekor tertinggi 5.002 ton pada 2025 di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang masih berlanjut, demikian menurut Dewan Emas Dunia (World Gold Council) dalam sebuah laporan pada Kamis (29/1).
Ketidakpastian ini mendorong investasi besar-besaran dalam emas, meningkatkan total nilai investasi emas menjadi 555 miliar dolar AS, yang belum pernah terjadi sebelumnya, naik 45 persen dari setahun sebelumnya, menurut laporan tren permintaan emas tahunan dewan tersebut.
*1 dolar AS = 16.723 rupiah
Dewan yang berkantor pusat di London itu mengatakan meningkatnya persepsi risiko terus menjadi faktor utama yang mendorong minat investor. "2025 mencatatkan lonjakan permintaan emas dan harga yang meroket. Konsumen dan investor sama-sama membeli dan menyimpan emas dalam lingkungan dengan risiko ekonomi dan geopolitik menjadi kenormalan baru," kata Louise Street, analis pasar senior di dewan tersebut.
Permintaan investasi global mencapai tonggak sejarah sebesar 2.175 ton pada 2025, kata dewan tersebut, menjadikannya pendorong utama di balik tahun pemecahan rekor emas. "Investor berlomba-lomba mengakses emas melalui semua jalur yang tersedia," ujar Street.
Meskipun harga naik, permintaan konsumen tetap relatif kuat. Konsumsi perhiasan turun 18 persen secara tahunan (year on year/yoy), bahkan ketika harga emas naik 67 persen, yang mencerminkan masa adanya kesediaan pembeli untuk membeli pada level harga yang tinggi, ungkapnya.
Bank-bank sentral juga menjadi pembeli yang signifikan, dengan menambah 863 ton emas pada 2025, mendekati batas atas kisaran proyeksi dewan tersebut. Street menuturkan bank-bank sentral tetap berkomitmen untuk memperkuat cadangan.
Ke depannya, dia mengatakan ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik yang masih berlangsung dapat terus meningkatkan permintaan emas pada 2026, yang memperkuat peran emas sebagai aset lindung nilai (safe-haven).
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Desa wisata terbaik di Turkiye yang diakui PBB bidik sektor ekowisata
Indonesia
•
28 Nov 2024

Laos siap sambut layanan penumpang lintas perbatasan Jalur Kereta China-Laos
Indonesia
•
29 Mar 2023

Provinsi Zhejiang di China timur targetkan produksi 1,2 juta lebih NEV pada 2025
Indonesia
•
02 Feb 2023

Harga minyak melonjak hampir 5 persen, ditopang kebijakan Arab Saudi
Indonesia
•
07 Dec 2021


Berita Terbaru

Feature – Kesepian jadi peluang bisnis, pasar mainan AI China tumbuh pesat, tembus 2,32 triliun rupiah
Indonesia
•
01 Nov 2026

Malaysia rugi 35,7 triliun rupiah akibat karhutla, 1.600 kematian dikaitkan dengan asap lintas batas
Indonesia
•
30 Oct 2026

Perubahan iklim ancam pangan Asia Tenggara, produksi padi turun 5 persen, jagung 6 persen
Indonesia
•
30 Oct 2026

Fokus Berita – SANY Indonesia Finance bidik pelanggan konstruksi dan tambang, siapkan perluasan jaringan di Tanah Air
Indonesia
•
30 Oct 2026
