Dubes UAE harapkan Indonesia objektif soal situasi Timur Tengah, tegaskan konflik di Teluk bukan soal agama

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, memaparkan perkembangan terbaru situasi di Timur Tengah, dalam pertemuan dengan para wartawan di Jakarta, Selasa (8/4/2026). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)

UEA meminta publik Indonesia untuk bersikap objektif dalam menilai situasi di Timur Tengah, di mana negara-negara Muslim justru menjadi pihak yang paling terdampak, meskipun tidak memulai eskalasi konflik.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas menyusul gelombang serangan misil dan drone yang melibatkan sejumlah negara.

Dalam perkembangan terbaru, Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, menegaskan pentingnya pendekatan diplomasi sekaligus meminta publik Indonesia untuk bersikap objektif dalam menilai situasi di Timur Tengah.

Dalam pertemuan dengan para wartawan di Jakarta, Selasa, Dubes UEA menyampaikan bahwa eskalasi konflik tidak boleh dipahami secara emosional atau disederhanakan sebagai konflik berbasis agama. Sebaliknya, situasi ini disebut sebagai persoalan keamanan dan kedaulatan negara.

Dubes Salem Al Dhaheri memaparkan data terbaru terkait serangan yang terjadi di kawasan Teluk dan sekitarnya. Sistem pertahanan udara disebut telah mencegat ribuan proyektil yang mengarah ke sejumlah negara, yakni UEA (hampir 2.800 serangan misil), Arab Saudi (sekitar 1.300 serangan), Kuwait (lebih dari 1.000 serangan), Bahrain (sekitar 750 serangan), Qatar (lebih dari 700 serangan), Yordania (sekitar 285 serangan), dan Oman (sekitar 30 serangan).

Meskipun sebagian besar berhasil diintersepsi, serpihan misil tetap jatuh ke area permukiman dan infrastruktur vital, termasuk bandara dan fasilitas energi. Dampaknya, korban jiwa sipil dan kerusakan fisik tidak dapat dihindari.

Dalam pernyataannya, Dubes Al Dhaheri menolak narasi yang menyebut konflik ini sebagai perang agama.

“Ini adalah masalah keamanan, kedaulatan, dan hukum internasional, bukan agama. Upaya membingkai konflik ini sebagai perang agama sangat menyesatkan,” tegasnya, seraya mengatakan bahwa eskalasi yang terjadi harus dilihat dalam kerangka geopolitik, bukan sentimen keagamaan.

Dubes Salem Al Dhaheri juga menyoroti distribusi target serangan, dengan laporan resmi menyebutkan 85 persen serangan Iran diarahkan ke negara-negara Muslim di kawasan Teluk dan Yordania, sementara hanya 15 persen mengarah ke Israel.

Fakta ini, menurut UEA, menunjukkan bahwa negara-negara Muslim justru menjadi pihak yang paling terdampak, meskipun tidak memulai eskalasi konflik.

Dalam konteks Indonesia, UEA menaruh harapan besar pada Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. NU dinilai memiliki kekuatan moral dan jaringan dialog yang dapat berkontribusi dalam meredakan ketegangan global.

UEA berharap peran masyarakat sipil Indonesia, khususnya melalui NU, dapat memperkuat jalur komunikasi damai di tengah masa gencatan senjata yang tengah berlangsung.

Laporan: Redaksi

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait