
Ilmuwan China amati plasma Matahari untuk cegah kerusakan akibat cuaca luar angkasa

Sebuah roket Long March-2D yang mengangkut satelit eksplorasi surya pertama China lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan di Provinsi Shanxi, China utara, pada 14 Oktober 2021. (Xinhua/Zheng Bin)
Diagram velositas tiga dimensi (3D) dari dua jenis plasma di atmosfer Matahari menunjukkan pita-pita gelap yang tersuspensi di korona jauh lebih dingin dan padat dibandingkan materi sekitarnya, berbentuk garis-garis gelap panjang dengan latar belakang yang terang.
Nanjing, China (Xinhua) – Menggunakan data pencitraan spektral dari Xihe, satelit eksplorasi surya pertama China, sekelompok fisikawan China membuat diagram velositas tiga dimensi (3D) dari dua jenis plasma di atmosfer Matahari.Pita-pita gelap yang tersuspensi di korona jauh lebih dingin dan padat dibandingkan materi sekitarnya, sehingga menunjukkan garis-garis gelap panjang dengan latar belakang yang terang. Saat muncul di tepi permukaan Matahari, pita-pita itu menampilkan struktur terang yang disebut prominensa.Xihe, sebuah teleskop antariksa yang beroperasi di orbit sinkron Matahari, sedang melakukan eksplorasi luar angkasa dengan pencitraan spektral Hα surya di segala bidang Matahari (all-sun plane). Xihe dapat memindai seluruh heliosfer dalam waktu 46 detik, sehingga didapatkan informasi spektral di titik mana pun di Matahari dan memungkinkan pemetaan dinamika pita gelap.Menggunakan observasi Xihe, para peneliti dari Universitas Nanjing mendemonstrasikan perluasan, pelepasan, kemunduran, rotasi, dan pemisahan garis gelap dan prominensa Matahari, ungkap sebuah rilis berita dari Administrasi Luar Angkasa Nasional China (China National Space Administration/CNSA) pada Senin (5/2).Garis-garis gelap yang menyembur, jika menyebar ke arah Bumi, dapat memicu badai geomagnetik, yang menyebabkan kerusakan serius pada peralatan di ruang angkasa dekat-Bumi (near-Earth space).Pengukuran akurat terhadap medan-medan velositas 3D plasma tersebut sangat penting untuk peringatan dini dan prakiraan cuaca luar angkasa yang membawa bencana, imbuh para peneliti.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Rusia uji vaksin Sputnik V untuk remaja 14-18 tahun
Indonesia
•
19 Feb 2021

Penelitian: Golongan darah tertentu mungkin lebih rentan terhadap belasan penyakit
Indonesia
•
06 Nov 2021

Kapal penjelajah bertenaga nuklir baru Rusia akan mulai uji coba di laut pada Agustus 2024
Indonesia
•
23 Jun 2024

COVID-19 – Sputnik V diklaim lebih kuat terhadap Omicron daripada Pfizer
Indonesia
•
26 May 2022


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
