
Sistem pengindraan jauh buatan China dapatkan data deteksi gletser gunung

Foto yang diabadikan pada 10 Agustus 2022 ini menunjukkan pemandangan wilayah Qilian di Prefektur Otonom Etnis Tibet Haibei di Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Zhang Long)
Data deteksi gletser gunung diperoleh secara efektif dengan sistem pengindraan jauh dari udara buatan China yang menerapkan radar dalam tiga pita frekuensi, yakni P-band, L-band, dan Very High Frequency (VHF), serta melakukan 11 penerbangan, yang tujuh di antaranya melaksanakan pencitraan tomografi dan interferometrik dan empat lainnya menjalankan pencitraan perspektif.
Beijing, China (Xinhua) – Sistem pengindraan jauh dari udara buatan China mendapatkan data deteksi gletser gunung yang efektif melalui eksperimen deteksi gabungan yang sedang dilakukan.Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan Universitas Wuhan melakukan eksperimen ilmiah dari udara (sky-ground) untuk menguji kondisi gletser di Prefektur Otonom Etnis Tibet Haibei di Provinsi Qinghai, China barat laut.Eksperimen itu menerapkan radar dalam tiga pita frekuensi, yakni P-band, L-band, dan Frekuensi Sangat Tinggi (Very High Frequency/VHF), serta melakukan 11 penerbangan, yang tujuh di antaranya melaksanakan pencitraan tomografi dan interferometrik dan empat lainnya menjalankan pencitraan perspektif.Total data valid berukuran 4,6 terabita berhasil didapatkan.Eksperimen ini juga melibatkan pengamatan cahaya tampak (visible light) dan penerbangan LIDAR pada permukaan es, kalibrasi instrumen yang digunakan untuk menganalisis permukaan es, pengukuran ketebalan gletser menggunakan radar penembus tanah (ground-penetrating radar), serta pencitraan awan tiga dimensi dengan jarak visual sangat jauh.Data yang diperoleh menunjukkan bahwa rekonstruksi tiga dimensi dapat merefleksikan tren elevasi permukaan gletser dan garis batas antara es dan atmosfer, serta antara gletser dengan bebatuan dasar. Tim peneliti memanfaatkan data itu untuk menargetkan lokasi anomali listrik yang telah ditempatkan secara sengaja pada kedalaman 80 meter di lubang bor inti es.Eksperimen ini memverifikasikan teknik pengamatan karakteristik gletser yang komprehensif serta menguji kelayakan eksperimen gabungan antara P-band, L-band, dan VHF. Eksperimen ini juga berhasil mendapatkan data efektif, yang akan dibagikan oleh Pusat Data Dataran Tinggi Nasional Tibet China.Wu Yirong, kepala Institut Penelitian Informasi Kedirgantaraan (Aerospace Information Research Institute) yang berada di bawah naungan CAS, mengakui bahwa radar VHF eksperimen tersebut merepresentasikan muatan pendeteksian gletser dari udara pertama yang dikembangkan secara independen oleh institut itu.Eksperimen ini juga menjadi kali pertama bagi pesawat penginderaan jauh domestik MA60 terbang di atas ketinggian 4.500 meter di area pegunungan.Eksperimen ini memiliki nilai signifikansi yang sangat besar bagi pengembangan teknologi deteksi gletser di China dan penelitian ilmiah tentang perubahan global, ujar Gong Jianya, kepala Sekolah Teknik Informasi Penginderaan Jauh di Universitas Wuhan. Dia menyampaikan bahwa eksperimen tersebut akan memberikan referensi penting bagi verifikasi ilmiah satelit radar apertur sintetis P-band sipil.Eksperimen ini dimulai pada 20 Maret dan dijadwalkan akan berakhir pada pertengahan Mei.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan Australia kembangkan biosensor ‘microneedle’ untuk pantau kesegaran ikan secara waktu nyata
Indonesia
•
05 Dec 2025

Tembok-tembok kota dari dinasti tertua di China ditemukan di China tengah
Indonesia
•
15 Mar 2025

Vietnam tetapkan strategi jadi pusat Kecerdasan Buatan di ASEAN pada 2030
Indonesia
•
09 Aug 2021

Wahana antariksa kini dapat dipulihkan di darat dan laut
Indonesia
•
14 Feb 2026


Berita Terbaru

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026

Jika es Antarktika menyusut, seberapa tinggi laut akan naik? Ilmuwan siapkan survei besar
Indonesia
•
08 Sep 2026

‘Power bank’ jadi tenaga eksoskeleton, teknologi ini bantu gerak hingga 35 persen
Indonesia
•
07 Sep 2026
