
Laporan PBB: Anak-Anak Lebanon berjuang lawan kelaparan, trauma, dan ketertinggalan pembelajaran

Orang-orang terlihat di antara reruntuhan bangunan yang hancur di Adaisseh, Lebanon, pada 26 Februari 2025. (Xinhua/Taher Abu Hamdan)
Dampak negatif berkepanjangan dari konflik Israel-Lebanon membuat anak-anak Lebanon merasakan kecemasan atau kegelisahan, serta tertekan dan sedih.
Beirut, Lebanon (Xinhua/Indonesia Window) – Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada Jumat (28/2) merilis laporan tentang dampak negatif berkepanjangan dari konflik Israel-Lebanon bagi anak-anak Lebanon bahkan setelah gencatan senjata, dan menyerukan agar bantuan segera diberikan untuk membantu mereka membangun kembali kehidupan.Dalam survei yang dilakukan oleh UNICEF bulan lalu, 72 persen wali anak mengatakan anak-anak mereka cemas atau gelisah selama perang, dan 62 persen mengatakan mereka tertekan atau sedih, yang "mewakili lonjakan dari data sebelum perang yang dihimpun pada 2023."Menurut laporan tersebut, di kegubernuran Baalbek-Hermel dan Bekaa yang padat penduduk, serangan udara yang berulang kali dilancarkan berdampak buruk terhadap gizi dan kesehatan anak-anak.Di Baalbek-Hermel, 51 persen anak di bawah usia 2 tahun mengalami kemiskinan pangan yang parah. Di Bekaa, angkanya mencapai 45 persen, meningkat secara dramatis dari 28 persen pada 2023, menurut laporan itu.Laporan itu juga menunjukkan situasi pendidikan yang menantang di Lebanon.Terlepas dari gencatan senjata, tingkat kehadiran di sekolah masih rendah. Berdasarkan survei bulan lalu, lebih dari 25 persen anak masih tidak bersekolah, dibandingkan dengan 65 persen selama konflik.Sementara itu, hambatan keuangan membuat banyak anak tidak dapat bersekolah. Dua pertiga keluarga dengan anak yang putus sekolah melaporkan bahwa tingginya biaya sekolah, transportasi, dan perlengkapan menjadi alasan utama, meningkat dua kali lipat sejak 2023.Laporan itu menambahkan bahwa gedung-gedung sekolah hancur atau rusak berat selama perang, dan ratusan lainnya digunakan sebagai tempat penampungan bagi sekitar 1,3 juta orang yang mengungsi akibat konflik.
Warga kembali ke rumah mereka di Wazzani, Lebanon, pada 19 Februari 2025. (Xinhua/Taher Abu Hamdan)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China perbaiki akses ke layanan kesehatan dasar di tingkat akar rumput
Indonesia
•
06 Dec 2023

Muara Sungai Yangtze saksikan perbaikan ekologi
Indonesia
•
21 Nov 2022

Situs pemakaman era Romawi ditemukan di Jalur Gaza utara
Indonesia
•
13 Dec 2022

Telaah - Sekolah: Di mana seharusnya anak tumbuh dan berkembang (1 dari 2 tulisan)
Indonesia
•
27 Jun 2019


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
