Sebuah studi baru temukan perbedaan dampak ‘long COVID’ pada remaja dan anak-anak

Sejumlah murid sekolah dasar berjalan pulang dari sekolah mereka di Plano, Texas, Amerika Serikat, pada 31 Agustus 2022. (Xinhua/Xin Jin)
Dampak infeksi COVID-19 bergejala jangka panjang, atau ‘long COVID’, pada remaja usia 12 hingga 17 tahun berbeda dengan dampaknya pada anak-anak lebih muda yang berusia 6 hingga 11 tahun.
Los Angeles, AS (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru telah menemukan bahwa dampak infeksi COVID-19 bergejala jangka panjang, atau ‘long COVID’, pada remaja usia 12 hingga 17 tahun berbeda dengan dampaknya pada anak-anak lebih muda yang berusia 6 hingga 11 tahun.Remaja kemungkinan besar mengalami rasa tidak berenergi atau kelelahan, sementara anak-anak kemungkinan besar melaporkan sakit kepala, ungkap studi tersebut, yang didukung oleh Institut Kesehatan Nasional (National Institutes of Health/NIH) Amerika Serikat (AS) dan telah diterbitkan di jurnal JAMA pada Rabu (21/8).Studi itu melibatkan 3.860 anak-anak dan remaja dengan riwayat infeksi SARS-CoV-2 di lebih dari 60 lokasi di seluruh AS antara Maret 2022 hingga Desember 2023.Para peneliti mengidentifikasi 18 gejala berkepanjangan yang lebih sering ditemui pada anak usia sekolah, termasuk sakit kepala, diikuti oleh masalah memori atau fokus, sulit tidur, dan sakit perut. Pada remaja, 17 gejala lebih sering ditemui, termasuk kelelahan di siang hari, kantuk atau energi yang rendah; nyeri tubuh, otot, atau persendian; sakit kepala; serta kesulitan mengingat atau memusatkan perhatian."Sebagian besar penelitian melakukan karakterisasi gejala long COVID dengan fokus pada orang dewasa, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman bahwa long COVID pada anak-anak jarang terjadi atau bahwa gejala long COVID pada anak-anak sama dengan gejala pada orang dewasa," kata David Goff, selaku direktur Divisi Ilmu Kardiovaskular di Institut Jantung, Paru-paru, dan Darah Nasional NIH."Karena gejalanya dapat bervariasi dari satu anak ke anak lain atau muncul dalam pola yang berbeda, tanpa karakterisasi gejala yang tepat di seluruh kelompok usia, akan sulit untuk mengetahui cara mengoptimalkan perawatan untuk anak-anak dan remaja yang terdampak," kata David Goff.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Stasiun luar angkasa China capai regenerasi sumber daya oksigen 100 persen
Indonesia
•
19 Apr 2023

Ilmuwan temukan cara baru gunakan sel untuk cegah kanker
Indonesia
•
17 Mar 2025

China catat peningkatan kualitas air pada H1 2023
Indonesia
•
22 Jul 2023

WHO: Kematian akibat TBC di dunia menurun 14 persen pada 2015-2019
Indonesia
•
17 Oct 2020
Berita Terbaru

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026

Satelit BeiDou sediakan layanan komunikasi darurat tanpa cakupan seluler
Indonesia
•
07 Feb 2026

24.000 kematian di AS terkait dengan polusi asap karhutla
Indonesia
•
07 Feb 2026

Jumlah warga Australia pengidap demensia ‘onset’ dini akan meningkat 40 persen pada 2054
Indonesia
•
06 Feb 2026
