
Gula di otak dapat kurangi efektivitas obat antijamur

Ilustrasi. (CDC on Unsplash)
Cryptococcus neoformans, jamur yang menginfeksi otak manusia, merupakan penyebab utama penyakit meningitis jamur dan merenggut sekitar 180.000 nyawa per tahun.
Beijing, China (Xinhua) – Para peneliti di China baru-baru ini mengungkapkan bahwa glukosa di otak dapat menimbulkan toleransi antijamur terhadap jenis jamur tertentu. Hal ini memberikan kontribusi pada pengobatan meningitis jamur.Cryptococcus neoformans, jamur yang menginfeksi otak manusia, merupakan penyebab utama penyakit meningitis jamur dan merenggut sekitar 180.000 nyawa per tahun. Saat ini, satu-satunya obat fungisida yang tersedia untuk melawan penyakit tersebut adalah amfoterisin B.Meskipun amfoterisin B memiliki aktivitas bakterisidal in vitro yang sangat baik terhadap jamur C. neoformans, terdapat insiden kegagalan pengobatan yang tinggi dan infeksi berulang pada penderita meningitis kriptokokus dengan penyebab yang belum diketahui.Guna mengatasi masalah ini, para peneliti dari Institut Mikrobiologi di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) melakukan metode penapisan high-throughput screen (HTS) dan memvalidasi jaringan otak dari tikus dan cairan serebrospinal manusia, untuk mengeksplorasi efek ratusan metabolit terhadap interaksi antara C. neoformans dan amfoterisin B.Hasilnya, mereka mengidentifikasi bahwa glukosa di otak dapat menimbulkan toleransi antijamur melalui protein C. neoformans, Mig1, yang merupakan pengatur represi glukosa.Para peneliti itu menemukan bahwa pada tikus, Mig1 menghambat sintesis ergosterol, komponen membran sel jamur, yang merupakan target amfoterisin B, dan juga meningkatkan produksi inositolfosforilceramida, komponen lain dari membran sel jamur, yang berkompetisi dengan amfoterisin B untuk mendapatkan ergosterol, sehingga membatasi keefektifan obat tersebut.Para peneliti kemudian menemukan bahwa penggunaan inhibitor inositolfosforilceramida bersamaan dengan amfoterisin B dapat meningkatkan kemanjuran pengobatan terhadap meningitis kriptokokus pada tikus.Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Microbiology.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

75 persen pemasok suku cadang mobil listrik Tesla berasal dari Taiwan
Indonesia
•
24 Mar 2021

China targetkan pengembangan pusat data yang lebih ramah lingkungan
Indonesia
•
27 Jul 2024

Peneliti temukan spesies mawar China yang sangat terancam punah di China barat daya
Indonesia
•
13 May 2024

Wahana luar angkasa UEA kirim gambar Mars
Indonesia
•
15 Feb 2021


Berita Terbaru

Saat manusia mulai ‘jatuh hati’ pada AI, China perketat aturan bot pendamping
Indonesia
•
16 Jul 2026

Otot yang lemah bisa tingkatkan risiko diabetes hingga 3,5 kali lipat
Indonesia
•
16 Jul 2026

Anjing laut punya ‘kekuatan super’ mendengar di darat dan bawah air
Indonesia
•
16 Jul 2026

Perangkat bionik ini bikin otak tak sekadar mendengar, tapi juga memahami suara
Indonesia
•
15 Jul 2026
