India tertarik teknologi Indonesia untuk gasifikasi batu bara bawah permukaan

India tertarik teknologi Indonesia untuk gasifikasi batu bara bawah permukaan
Ilustrasi. Pemerintah India menyatakan tertarik pada teknologi gasifikasi batu bara bawah permukaan (Underground Coal Gasification/UCG) yang tengah dikembangkan oleh Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Puslitbang Tekmira) pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (Paweł Czerwiński on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Pemerintah India menyatakan tertarik pada teknologi gasifikasi batu bara bawah permukaan (Underground Coal Gasification/UCG) yang tengah dikembangkan oleh Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Puslitbang Tekmira) pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pernyataan dari Kementerian ESDM yang diterima di Jakarta, Senin menyebutkan bahwa Direktur Teknologi Kementerian Batubara India, Peeyush Kumar, telah meminta Tekmira untuk berkolaborasi dengan melakukan pengawasan pengembangan dan uji coba UCG di West Bengal dan Raniganj.

Penerapan teknologi UCG diharapkan akan berkontribusi dalam menambah ketersediaan energi, konservasi sumber daya alam, dan pengurangan biaya energi.

Teknologi ini dinilai cocok diterapkan di Indonesia dan India yang mempunyai kesamaan dalam proporsi cadangan energi fosil, dengan cadangan batu bara jauh lebih besar dibandingkan cadangan minyak dan gas.

Guna menindaklanjuti kerja sama tersebut, Tekmira akan melakukan evaluasi dan membuat tahapan pengembangan UCG setelah Kementerian Batu Bara India mengirimkan data geologi terkait rencana lokasi UCG.

Teknologi

Teknologi UCG diterapkan di bawah permukaan tanah melalui dua sumur bor.

Satu sumur berfungsi sebagai media untuk menginjeksi udara atau oksigen, sedangkan sumur lainnya digunakan sebagai sumur produksi.

Teknologi UCG mengekstrak dan mengkonversikan batu bara di bawah permukaan menjadi synthesis gas (Syngas) secara insitu (di tempat), sehingga tidak memerlukan penggalian batuan penutup dan lapisan batu bara terlebih dahulu.

Karenanya, perusahaan dapat mengurangi dampak lingkungan serta biaya reklamasi dan pasca tambang karena tidak mengubah bentang alam.

Syngas yang dihasilkan dari teknologi UCG dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pembuatan bahan kimia industri petrokimia (amonia, methanol, dan sebagainya) dan pembuatan BBM/BBG sintentis.

UCG juga menghasilkan karbondioksida (CO2) sebagai bahan enhance oil recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi minyak pada sumber migas yang mulai kering.

Selain itu, biaya produksi syngas UCG lebih murah dibandingkan impor gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG).

Teknologi UCG dapat membantu perusahaan batu bara dalam menggunakan batu bara lapisan dalam yang secara ekonomi tidak layak ditambang.

Biaya modal dan operasionalnya juga lebih rendah dibandingkan gasifikasi batu bara di permukaan.

Puslitbang Tekmira telah melakukan uji coba UCG di Sumatera Selatan dan pada tahun 2019 melakukan pra studi kelayakan implementasi UCG di Kalimantan Timur.

Studi tersebut meliputi aspek geologi, hidrologi, hidrogeologi, geoteknik dan keekonomian, hingga nilai cadangan batu bara.

Kajian kelayakan akan dilanjutkan tahun ini dengan membangun delapan sumur pemantauan air tanah, dan diharapkan pada tahun 2023 fasilitas UCG komersial pertama di Indonesia telah beroperasi.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here