
Ilmuwan temukan kunci untuk perangi ‘kanker’ tanaman jeruk

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 19 Juni 2024 ini menunjukkan para petani memuat jeruk yang baru saja dipanen ke dalam sebuah truk di Desa Chenjiawan, Xietan, wilayah Zigui, Provinsi Hubei, China tengah. (Xinhua/Zheng Jiayu)
Citrus greening disease disebarkan oleh serangga kecil dan telah merusak ratusan ribu hektare tanaman jeruk di lebih dari 50 negara, menyebabkan kerugian sebesar miliaran dolar setiap tahunnya bagi para petani. Setelah terinfeksi, pohon jeruk biasanya mati dalam beberapa tahun.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan telah menemukan mekanisme pertahanan alami pertama yang diketahui terhadap citrus greening disease, penyakit tanaman mematikan yang telah menghancurkan berbagai perkebunan jeruk di seluruh dunia.Terobosan yang dipimpin oleh tim peneliti dari Institut Mikrobiologi Akademi Ilmu Pengetahuan China (Institute of Microbiology of the Chinese Academy of Sciences/IMCAS) ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science.Citrus greening disease, yang juga dikenal sebagai huanglongbing (HLB), sering disebut sebagai ‘kanker tanaman jeruk’ karena secara perlahan membunuh pohon dan belum ditemukan obatnya. Penyakit ini disebarkan oleh serangga kecil dan telah merusak ratusan ribu hektare tanaman jeruk di lebih dari 50 negara, menyebabkan kerugian sebesar miliaran dolar setiap tahunnya bagi para petani. Setelah terinfeksi, pohon jeruk biasanya mati dalam beberapa tahun.Tim peneliti menemukan bahwa beberapa tanaman yang masih berkaitan dengan jeruk, seperti tanaman daun kari dan tanaman lada Sichuan, secara alami memiliki ketahanan terhadap penyakit ini. Mereka menemukan bahwa tanaman-tanaman tersebut menghasilkan protein khusus yang membantu melawan bakteri HLB. Dengan mempelajari protein ini, para ilmuwan berhasil memodifikasi pohon jeruk agar menjadi lebih tahan terhadap infeksi.Tim peneliti juga menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk merancang fragmen protein kecil, yang disebut peptida, yang dapat menghalangi penyakit tersebut. Dalam pengujian, salah satu peptida yang dinamai APP3-14 mampu mengurangi tingkat infeksi hingga 80 persen dalam satu musim tanam."Penemuan ini memberi kami dua alat yang sangat kuat," kata Ye Jian, seorang profesor di IMCAS. "Pertama, kami dapat mengembangkan tindakan ramah lingkungan untuk melindungi pohon-pohon jeruk. Kedua, metode ini dapat membantu melawan penyakit tanaman lain yang sulit dikendalikan."Temuan-temuan ini membawa harapan baru bagi para petani jeruk yang selama ini berjuang melawan HLB dan berpotensi menghasilkan solusi serupa untuk penyakit tanaman lainnya, seperti jamur karat jagung dan infeksi pohon zaitun, imbuhnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Iran pamerkan manuver sistem pertahanan udara buatan dalam negeri
Indonesia
•
01 Mar 2023

Satelit China deteksi lebih dari 100 suar cahaya putih Matahari
Indonesia
•
08 May 2024

Indonesia butuh 200 peneliti nuklir untuk dukung PLTN 2032
Indonesia
•
10 Mar 2026

NASA tunjuk tiga perusahaan untuk bangun pangkalan bulan, empat misi diluncurkan hingga 2028
Indonesia
•
01 Jul 2026


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
