Cadangan devisa India anjlok jadi 528 miliar dolar AS pada Oktober

Seorang penukar uang menunjukkan uang kertas di tempat penukaran uang di New Delhi, India, pada 13 September 2018. (Xinhua/Partha Sarkar)
Cadangan devisa India jatuh ke level terendahnya sejak Juli 2020, menjadi 532,66 miliar dolar AS untuk pekan yang berakhir pada 30 September, menyusul intervensi bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), untuk membendung depresiasi mata uang rupee India, yang pekan ini mencapai titik terendahnya.
Mumbai, India (Xinhua) – Cadangan devisa India kembali mengalami penurunan, anjlok sebesar 4,5 miliar dolar AS menjadi 528,37 miliar dolar AS untuk pekan yang berakhir pada 14 Oktober, menurut data yang dirilis oleh bank sentral negara Asia Selatan itu pada Jumat (21/10) malam waktu setempat.Pada pekan sebelumnya yang berakhir pada 7 Oktober, cadangan devisa secara tak terduga meningkat untuk kali pertama dalam waktu 10 pekan, setelah kenaikan cadangan emas membuat cadangan devisa negara itu naik sebesar 204 juta dolar AS.Cadangan devisa India jatuh ke level terendahnya sejak Juli 2020, menjadi 532,66 miliar dolar AS untuk pekan yang berakhir pada 30 September.Penurunan dalam cadangan devisa itu merupakan hasil dari intervensi bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), untuk membendung depresiasi mata uang rupee India, yang pekan ini mencapai titik terendahnya, menurut para ahli.Pada 14 Oktober, nilai mata uang rupee India ditutup di angka 82,35 per dolar AS, dibandingkan dengan 82,345 pada sesi sebelumnya dan 82,32 pada pekan sebelumnya.Penurunan cadangan devisa tersebut dapat dikaitkan dengan penurunan Aset Mata Uang Asing, komponen utama dari cadangan secara keseluruhan, menurut Suplemen Statistik Mingguan yang dirilis oleh RBI.Aset Mata Uang Asing India berkurang sebesar 2,83 miliar dolar AS menjadi 468,67 miliar dolar AS untuk pekan yang berakhir pada 14 Oktober.
Suasana sebuah pasar di ibu kota India, New Delhi, pada September 2022. (Xinhua/tangkapan layar)
Pertumbuhan PDB India
Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) pada 21 September lalu memangkas proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) India menjadi 7 persen untuk sisa tahun fiskal saat ini (April 2022-Maret 2023), dari proyeksi sebelumnya pada April yang sebesar 7,5 persen.Menyebutnya sebagai "revisi penurunan yang rendah," ADB menyebut "inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dan pengetatan moneter" sebagai alasan pemangkasan proyeksi PDB untuk India.ADB juga menaikkan proyeksi inflasi untuk India menjadi 6,7 persen.ADB mengatakan konsumsi swasta akan terpengaruh oleh inflasi yang lebih tinggi yang mengikis daya beli konsumen kendati kepercayaan konsumen terus meningkat."Inflasi inti yang cenderung lambat menyesuaikan (sticky) akan berdampak negatif terhadap pengeluaran selama dua tahun ke depan jika tidak ada penyesuaian upah," kata ADB dalam laporannya.Menurut bank tersebut, tekanan harga diperkirakan akan berdampak negatif terhadap konsumsi domestik, dan permintaan global yang lesu serta kenaikan harga minyak kemungkinan akan menjadi "hambatan pada angka ekspor bersih (net export)."*1 dolar AS = 15.610 rupiahLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Minyak terus menguat karena ketidakpastian seputar pasokan berlanjut
Indonesia
•
05 Apr 2022

Pemerintah targetkan ‘lifting’ minyak 1 juta barel per hari pada 2030
Indonesia
•
15 Sep 2020

Provinsi Zhejiang di China timur targetkan produksi 1,2 juta lebih NEV pada 2025
Indonesia
•
02 Feb 2023

Kunjungan wisatawan China ke Indonesia tembus rekor tertinggi sejak pandemik COVID-19
Indonesia
•
04 Sep 2024
Berita Terbaru

BMW tarik ratusan ribu unit kendaraan terkait risiko kebakaran akibat ‘starter’
Indonesia
•
13 Feb 2026

Manggis asal Bali siap tambahkan aroma tropis di meja makan masyarakat China saat tahun baru Imlek
Indonesia
•
14 Feb 2026

DFSK sebut Indonesia jadi fondasi penting untuk produksi kendaraan di Asia Tenggara
Indonesia
•
13 Feb 2026

Feature – Terbukti andal, mobil listrik China kian diminati generasi muda Indonesia
Indonesia
•
09 Feb 2026
