Belajar geologi kini lebih seru dan asyik dengan metode interaktif menggunakan teknologi 3D, AR, dan VR

Model 3D untuk mempelajari batuan dan mineral secara interaktif. (BRIN)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Batuan sering kali terlalu besar atau berat untuk dibawa ke kelas. Namun, mempelajarinya tak harus selalu dilakukan dengan memegang benda asli.

Melalui digitalisasi, koleksi geologi dapat ditampilkan sebagai model tiga dimensi yang bisa diamati dari berbagai sisi dan diperbesar untuk melihat detailnya.

Pendekatan ini dibahas Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Batuan di Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Sukendar Asikin, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Kukuh Prasetiyo, dalam webinar TakSon #24 pada Senin (2/11).

Tri menjelaskan, koleksi geodiversitas—antara lain batuan, mineral, fosil, dan tanah—dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan dengan dukungan teknologi digital. Salah satu caranya adalah memindai koleksi fisik untuk membuat model tiga dimensi.

Model 3D

Model 3D memberi pengalaman pengamatan yang berbeda dari foto. Foto biasanya menampilkan objek dari satu sisi, sedangkan model digital memungkinkan pengguna memutar dan mengamati objek dari berbagai arah, hingga 360 derajat.

Pengguna juga dapat menggeser dan memperbesar tampilan untuk memperhatikan bentuk serta tekstur.

“Kalau gambar, kita hanya mengamati dari satu sisi. Ketika menggunakan model tiga dimensi, kita bisa mengamati secara 360 derajat,” kata Tri.

Model tersebut dapat digunakan dalam presentasi, situs jejaring, sistem pengelolaan konten atau Content Management System (CMS), serta sistem pengelolaan pembelajaran atau Learning Management System (LMS). Dengan begitu, koleksi dapat diperkenalkan lewat berbagai media pembelajaran digital.

AR dan VR, apa bedanya?

Dalam pemaparannya, Tri juga membedakan augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).

AR menambahkan objek digital ke lingkungan nyata, sedangkan VR membawa pengguna ke dalam lingkungan digital. Keduanya dapat digunakan untuk menghadirkan materi pembelajaran dengan cara yang lebih interaktif.

Teknologi ini berpotensi membantu ketika koleksi terlalu besar atau berat untuk dipindahkan ke ruang kelas. Objek digital dapat menjadi bahan pengamatan tanpa perlu membawa koleksi fisik.

Pengalaman belajar yang menarik juga bergantung pada cara materi disusun.

Tri menekankan penggunaan unsur multimedia secara tepat, seperti teks, gambar, audio, video, dan animasi.

Dalam pemaparannya, dia menyebut lima prinsip: menggabungkan kata dan gambar, menghilangkan unsur yang tidak relevan, memberi penanda pada informasi penting, menempatkan teks dekat dengan gambar terkait, serta menyajikan materi kompleks secara bertahap.

“Orang belajar lebih baik dengan kata-kata plus gambar daripada kata-kata saja,” tekan Tri.

Penyajian visual dan verbal yang saling mendukung dapat membantu pengguna memahami objek yang sedang dipelajari. Sebaliknya, unsur yang tidak berkaitan berisiko mengalihkan perhatian dari informasi utama.

Akses belajar mandiri

Model digital juga dapat mendukung pembelajaran mandiri. Melalui perangkat yang akrab digunakan sehari-hari, seperti ponsel pintar, pengguna dapat mengakses informasi koleksi ilmiah ketika membutuhkannya.

Bagi pelajar dan masyarakat umum, pengalaman ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal geologi dan kekayaan geodiversitas.

Digitalisasi membuat koleksi lebih mudah diakses melalui media pembelajaran, sekaligus menawarkan cara baru untuk mengamati objek yang sulit dibawa ke kelas. Agar manfaatnya terasa, konten tetap perlu disusun dengan jelas, relevan, dan bertahap.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait