
Beda etnis, beda risiko penyakit pembuluh darah otak

Penyakit pembuluh darah kecil otak bervariasi secara signifikan dalam populasi
Penyakit pembuluh darah kecil otak (cerebral small vessel disease/CSVD), sebuah kondisi umum yang memengaruhi pembuluh darah terkecil pada otak dan menjadi faktor utama penurunan kognitif dan strok, bervariasi secara signifikan dalam populasi.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi terhadap lebih dari 2 juta orang dewasa di seluruh dunia telah mengungkap perbedaan etnis yang mencolok dalam perubahan otak yang memicu strok dan demensia, menantang pendekatan pencegahan yang seragam untuk semua kasus.
Analisis yang meninjau 159 studi berbasis MRI itu menemukan bahwa penyakit pembuluh darah kecil otak (cerebral small vessel disease/CSVD), sebuah kondisi umum yang memengaruhi pembuluh darah terkecil pada otak dan menjadi faktor utama penurunan kognitif dan strok, bervariasi secara signifikan dalam populasi, menurut pernyataan dari Center for Healthy Brain Ageing (CHeBA) di Universitas New South Wales, Australia, pada Selasa (10/2).
"Kami menemukan bahwa pola kerusakan pembuluh darah otak berbeda secara signifikan antarkelompok etnis," kata mahasiswa doktoral dari CHeBA, Nikita Keshena Husein, penulis utama studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia itu.
Partisipan dari Asia menunjukkan tingkat mikropendarahan otak tertinggi, yang meningkatkan risiko strok hemoragik. Kelompok kulit putih menunjukkan risiko metabolik yang lebih besar, seperti kolesterol tinggi, tekanan darah yang lebih tinggi, dan indeks massa tubuh yang lebih tinggi, sementara partisipan kulit hitam dan Hispanik memiliki tingkat diabetes yang lebih tinggi, ujar Husein.
Di kawasan Asia, kelompok partisipan asal China menunjukkan beban kerusakan materi atau jaringan putih (white matter) dan mikropendarahan yang paling tinggi, partisipan Jepang memiliki lebih banyak lakuna, dan kelompok Korea menunjukkan hubungan yang kuat antara tekanan darah dan penyakit materi putih tahap awal, tambahnya.
Lektor kepala Wen Wei, penulis utama sekaligus ketua Neuroimaging Group di CHeBA, mengatakan bahwa "genetika, lingkungan, dan kesehatan vaskular berinteraksi dengan cara yang sangat dipengaruhi oleh etnis dan daerah."
"CSVD bukanlah penyakit yang sama di setiap populasi," papar Husein, seraya mendorong penelitian yang lebih beragam dan strategi pencegahan yang spesifik berdasarkan etnis saat melakukan skrining terhadap pasien untuk risiko strok atau demensia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peningkatan kadar CO2 terdeteksi dalam darah manusia
Indonesia
•
06 Mar 2026

Studi: Hanya 15 persen wilayah pesisir dunia yang tetap utuh
Indonesia
•
08 Feb 2022

Flu burung ancam koloni penguin di Afrika Selatan
Indonesia
•
19 Sep 2022

Anak 5 tahun terima cangkok jantung buatan, pertama di dunia
Indonesia
•
28 Sep 2025


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
