
Bank Sentral Australia peringatkan guncangan ekonomi global bakal makin sering terjadi

Seorang pelanggan memilih sayuran di sebuah pusat perbelanjaan di Canberra, Australia, pada 3 September 2025. (Xinhua/Zhang Na)
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Kepala ekonom bank sentral Australia pada Rabu (8/7) memperingatkan bahwa ekonomi global akan menghadapi guncangan pasokan yang semakin sering berdampak limpahan yang luas terhadap aktivitas ekonomi serta permintaan.
Berbicara dalam Konferensi Ekonom Australia (Australian Conference of Economists) di Canberra, kepala ekonom sekaligus wakil gubernur bidang ekonomi di Reserve Bank of Australia (RBA), Sarah Hunter, mengatakan bahwa guncangan pasokan yang merugikan dan berskala besar belakangan ini semakin sering terjadi, sehingga memaksa bank sentral untuk terus menghadapi trade-off dalam penetapan kebijakan moneter.
Hunter mengatakan model-model ekonomi lama berasumsi bahwa guncangan pasokan sementara hanya memiliki "dampak kecil" terhadap aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Namun, "semakin banyak" penelitian terbaru menunjukkan bahwa guncangan yang terjadi pada sektor-sektor tertentu dapat menimbulkan efek limpahan terhadap aktivitas dan permintaan dalam perekonomian yang lebih luas.
"Seperti yang telah kita lihat belakangan ini, guncangan ekonomi yang besar dapat menciptakan ketidakpastian, mengurangi kepercayaan, dan bagi sebagian pihak, membatasi pengeluaran untuk barang dan jasa lainnya. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat menekan belanja rumah tangga, serta mendorong perusahaan untuk menunda keputusan investasi dan meninjau kembali rencana perekrutan mereka," kata Hunter.
Merujuk pada gejolak harga minyak yang dipicu oleh konflik Timur Tengah, Hunter mengatakan beberapa jenis guncangan akan membuat sasaran mandat RBA dalam kebijakan moneter "saling bertentangan" karena mendorong inflasi naik sekaligus menekan permintaan dan aktivitas ekonomi, menciptakan dilema bagi para pembuat kebijakan moneter.
"Prospek inflasi yang terus berada pada tingkat yang lebih tinggi menunjukkan bahwa suku bunga seharusnya dinaikkan. Namun pada saat yang sama, aktivitas ekonomi yang lebih lemah dan kapasitas ekonomi yang menganggur semakin besar menunjukkan bahwa suku bunga seharusnya diturunkan," tutur Hunter.
"Trade-off ini tidak dapat dihindari. Bank sentral hanya dapat memutuskan cara untuk menyeimbangkan dampaknya terhadap inflasi dan aktivitas ekonomi, sembari memastikan bahwa guncangan yang bersifat sementara tidak berubah menjadi inflasi yang persisten."
Pada pertengahan Juni, Dewan Kebijakan Moneter RBA memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, cash rate target, di angka 4,35 persen setelah tiga kali kenaikan beruntun masing-masing sebesar 0,25 poin persentase pada periode Februari hingga Mei.
Menurut data terbaru yang dirilis pada Juni, laju inflasi utama (headline inflation) tahunan Australia melambat dari 4,2 persen pada April menjadi 4,0 persen pada Mei. Namun, laju inflasi inti (underlying inflation) tahunan justru meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen.
Dewan Kebijakan Moneter RBA dijadwalkan menggelar pertemuan berikutnya pada pertengahan Agustus.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Rusia hadapi pergolakan ekonomi, butuh 2 tahun untuk capai target inflasi
Indonesia
•
18 Apr 2022

Wawancara – Dirjen WTO sebut ekonomi China akan bantu dorong pertumbuhan global
Indonesia
•
21 Jan 2024

Tesla akan bangun megapabrik penyimpanan energi di Shanghai
Indonesia
•
10 Apr 2023

Investasi Rp1,25 triliun mengalir ke IKN, investor China mulai bangun kawasan terpadu
Indonesia
•
16 Jul 2026


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
