Bali bakal pasok listrik untuk 100.000 rumah tangga dari pengolahan 500.000 ton sampah per tahun

Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan pidato saat upacara peletakan batu pertama proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pertama Bali, di Denpasar, Provinsi Bali, pada 8 Juli 2026. (Xinhua/Zhang Yisheng)

Bali (Xinhua/Indonesia Window) – Bali, yang merupakan destinasi wisata terkenal di dunia, pada Rabu (8/7) menggelar peletakan batu pertama fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya, menandai tonggak penting dalam upaya pulau tersebut untuk meningkatkan pengelolaan sampah sekaligus memperluas pembangkitan energi terbarukan.

Fasilitas tersebut, yang diinvestasikan dan dibangun oleh Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. dari China, dirancang untuk mengolah lebih dari 500.000 ton sampah perkotaan setiap tahun, dan diperkirakan mampu menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga di seluruh Bali, menurut perusahaan tersebut, yang juga merupakan operator PSEL itu.

Dalam upacara peletakan batu pertama yang digelar di Denpasar, Pandu Sjahrir, chief investment officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, mengatakan bahwa fasilitas tersebut diproyeksikan mampu mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir hingga 80 persen, memangkas emisi karbon dioksida sekitar 640.000 ton per tahun, serta menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja ramah lingkungan.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan pembangunan PSEL tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu dua tahun.

Setelah rampung, proyek ini tidak hanya akan menciptakan ekosistem lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat, tetapi juga semakin meningkatkan citra Bali sebagai destinasi wisata unggulan, ujarnya.

Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan bahwa proyek PSEL Bali akan menjadi contoh yang baik bagi pembangunan fasilitas serupa di seluruh Indonesia.

Dia menekankan bahwa teknologi pengolahan sampah harus disesuaikan dengan kondisi setempat, dengan beberapa daerah menghasilkan listrik dari sampah, sementara daerah lain memproduksi bahan bakar turunan sampah untuk keperluan industri.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait