BRIN ‘sulap’ sampah plastik jadi minyak diesel, biaya produksi hanya Rp5.000 per liter

Ilustrasi. (Marc Newberry on Unsplash)

Proses pemanasan tanpa oksigen memecah polimer yang terkandung dalam sampah plastik menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih sederhana.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Sepanjang 2024, timbulan sampah nasional mencapai 38 juta ton, sekitar 19 hingga 20 persen berupa sampah plastik. Dari jumlah tersebut, sekitar 45 persen masih dibakar secara terbuka.

Kondisi ini menjadi sorotan dalam BRIN EnviroTalk #55 yang digelar secara daring, Jumat (22/5), dikutip dari situs jejaring BRIN, Senin.

Peneliti di Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Heru Susanto, menyatakan bahwa sampah plastik bernilai rendah, seperti kemasan sachet, plastik multilapis, kantong tipis, dan residu kotor, belum tertangani optimal oleh fasilitas TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) maupun bank sampah, karena nilai ekonominya rendah.

Sebagai solusi, BRIN mengembangkan teknologi pirolisis multikondensor untuk mengolah sampah plastik bernilai rendah, termasuk dalam kondisi kotor dan basah, menjadi bahan bakar minyak setara diesel atau solar yang disebut petasol.

Proses ini merupakan pemanasan tanpa oksigen yang memecah polimer menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih sederhana.

“Setiap kilogram sampah plastik menghasilkan rata-rata 0,8 liter petasol, bahkan dapat mencapai 1 liter. Proses berlangsung sekitar delapan jam pada suhu 250–350 derajat Celsius tanpa distilasi ulang, melainkan melalui tahap pemurnian,” jelas Heru.

Petasol yang dihasilkan telah melalui proses karakterisasi dan memenuhi standar bahan bakar minyak jenis solar sesuai ketentuan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 146 Tahun 2020, dengan seluruh parameter terpenuhi.

“Bahan bakar tersebut telah diterapkan pada kendaraan berbasis diesel, perahu nelayan, serta alat pertanian selama lebih dari 4 tahun dan hingga kini terbukti aman. Selain itu, pengguna merasakan performa yang lebih baik karena nilai kalor petasol lebih tinggi dibandingkan biosolar,” ungkap Heru.

Teknologi ini telah direplikasi di lebih dari 60 lokasi di Indonesia, di antaranya Cimahi (Jawa Barat), Yogyakarta, dan Semarang (Jawa Tengah), dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan bank sampah setempat.

Dari sisi teknis, teknologi pirolisis tersebut memperoleh skor 83 dari 95 dalam penilaian Indeks Kinerja Teknologi (IKT) sehingga dikategorikan sangat baik dan layak diterapkan pada pengelolaan sampah plastik bernilai rendah skala kawasan.

Dari sisi ekonomi, biaya produksi petasol berkisar 5.000 rupiah hingga 6.160 rupiah per liter dengan asumsi harga bahan baku plastik 1.800 rupiah per kilogram. Jika bahan baku diperoleh dari bank sampah sekitar 200 rupiah per kilogram, biaya produksi dapat ditekan menjadi 4.000 rupiah – 5.000 rupiah per liter.

“Karena belum terdapat regulasi jual beli di pasar domestik, harga petasol ditetapkan 10.000 rupiah per liter. Selisih harga tersebut menghasilkan keuntungan 4.000 rupiah – 5.000 rupiah per liter. Dengan kapasitas 100 kilogram per hari, laba bersih sekitar 8,6 rupiah juta per bulan dan titik impas dicapai dalam sekitar 2,5 tahun,” urai Heru.

BRIN menilai teknologi ini layak diterapkan sebagai solusi pengelolaan sampah plastik. Selain terbukti layak secara teknis, teknologi tersebut juga menguntungkan secara ekonomi dan ramah lingkungan.

BRIN juga mendorong penguatan regulasi untuk memperluas pemanfaatan teknologi ini di dalam negeri.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait