
Kantor Investigasi Korupsi Korsel akan minta perpanjangan surat perintah penangkapan Yoon Suk-yeol

Orang-orang berkumpul untuk memprotes penangkapan Presiden Yoon Suk-yeol yang dimakzulkan di dekat kediaman kepresidenan di pusat kota Seoul, Korea Selatan, pada 3 Januari 2025. (Xinhua/Yao Qilin)
Badan investigasi antikorupsi Korea Selatan akan meminta perpanjangan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Korsel Yoon Suk-yeol yang dimakzulkan, setelah upaya penangkapan Yoon pekan lalu gagal.
Seoul, Korea Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Badan investigasi antikorupsi Korea Selatan (Korsel) pada Senin (6/1) akan meminta perpanjangan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Korsel Yoon Suk-yeol yang dimakzulkan, setelah upaya penangkapan Yoon pekan lalu gagal, menurut laporan sejumlah media berita.Kantor Investigasi Korupsi untuk Pejabat Tinggi (Corruption Investigation Office for High-ranking Officials/CIO) Korsel berencana meminta perpanjangan surat perintah tersebut setelah menyerahkan tanggung jawab tugas pelaksanaan surat perintah itu kepada Kantor Investigasi Nasional (National Office of Investigation/NOI) pada Ahad (5/1).Media mengutip pernyataan CIO yang menyebutkan bahwa pihaknya akan tetap memegang wewenang penyelidikan dan menyerahkan kewenangan pelaksanaan surat perintah tersebut kepada NOI, sembari mempertimbangkan untuk melimpahkan kasus tersebut ke kantor kejaksaan pada tahap tertentu.Unit badan investigasi antikorupsi dan kepolisian telah melakukan penyelidikan gabungan bersama markas besar investigasi Kementerian Pertahanan Korsel terkait pemberlakuan darurat militer oleh Yoon.Tim penyelidik CIO dan petugas kepolisian berusaha menangkap presiden yang dimakzulkan tersebut di kediaman kepresidenan pada 3 Januari lalu, tetapi gagal karena dinas keamanan presiden menggagalkan eksekusi surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh pengadilan Seoul. Surat perintah tersebut dijadwalkan berlaku selama sepekan hingga Senin ini.
Sejumlah anggota kepolisian terlihat bertugas di dekat kediaman kepresidenan di pusat kota Seoul, Korea Selatan, pada 3 Januari 2025. (Xinhua/Yao Qilin)
Petugas kepolisian berjaga di dekat lokasi pertemuan yang digelar oleh para pendukung Presiden Yoon Suk-yeol yang dimakzulkan di dekat kediaman kepresidenan di pusat kota Seoul, Korea Selatan, pada 3 Januari 2025. (Xinhua/Yao Qilin)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Barat manfaatkan Ukraina untuk cegah kebangkitan geopolitik Rusia
Indonesia
•
16 Jul 2022

Saudi bersihkan 1.257 ranjau Houthi di Yaman dalam satu pekan
Indonesia
•
28 Aug 2020

Kamp pengungsi di desa Rohingya mengenaskan
Indonesia
•
10 Sep 2019

Palestina kecam UU Hukuman Mati Israel yang incar warga Palestina di Tepi Barat
Indonesia
•
01 Apr 2026


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
