
Awak Artemis II akan kembali ke Bumi

Foto yang diabadikan pada 6 April 2026 ini memperlihatkan Bulan yang terlihat dari pesawat luar angkasa Orion. (Xinhua/NASA)
Misi Artemis II akan mengonfirmasi sistem yang diperlukan untuk mendukung astronaut dalam eksplorasi luar angkasa dalam (deep-space) dan menyiapkan landasan untuk kehadiran berkelanjutan di Bulan.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Awak Artemis II, yang merupakan misi badan antariksa nasional Amerika Serikat (AS) NASA, pada Selasa (7/4) memulai fase perjalanan pulang dari penerbangannya ke Bulan selama 10 hari setelah menyelesaikan penerbangan melintasi Bulan.
Sementara itu, NASA merilis foto-foto pertama yang diabadikan saat mendekatnya misi Artemis II dengan permukaan Bulan pada Senin (6/4) dan mengumumkan pendaratan tertarget di laut (splashdown) yang dijadwalkan pada 10 April di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego, California.

Diabadikan melalui jendela pesawat luar angkasa Orion, foto pertama memperlihatkan Bumi berwarna biru redup dengan awan putih cerah yang tampak di balik permukaan Bulan yang berkawah-kawah.
NASA mengatakan bahwa bagian gelap Bumi yang terlihat dalam foto tersebut sedang mengalami malam hari, sementara formasi awan berputar terlihat di atas Australia dan kawasan Oseania di sisi yang terang.
Di latar depan, NASA mengidentifikasi Kawah Ohm, menggambarkan tepinya yang bertingkat dan dasar datar yang terputus oleh puncak-puncak di bagian tengah. NASA menjelaskan bahwa puncak-puncak di bagian tengah tersebut terbentuk ketika permukaan Bulan, yang mencair akibat energi tumbukan, memercik ke atas selama proses pembentukan kawah.

Foto kedua memperlihatkan Bulan yang sepenuhnya menutupi Matahari sebagaimana diamati dari kapsul Orion, dengan NASA melaporkan bahwa fase totalitas itu berlangsung selama hampir 54 menit.
NASA mengatakan bahwa dari sudut pandang awak, Bulan tampak cukup besar untuk sepenuhnya menutupi Matahari, sehingga durasi totalitas berlangsung jauh lebih lama dibandingkan yang dapat diamati dari permukaan Bumi.
NASA juga merilis foto sisi jauh Bulan yang diabadikan selama penerbangan melintasi Bulan, termasuk foto close-up Kawah Vavilov di tepi cekungan tumbukan Hertzsprung, yang keduanya tidak dapat terlihat dari Bumi.
Foto-foto lain menunjukkan cekungan Orientale dengan hamparan gelap lava purba yang menurut NASA telah menembus kerak Bulan miliaran tahun yang lalu, serta wilayah di tepi timur Cekungan Kutub Selatan-Aitken (South Pole-Aitken/SPA), yang memperlihatkan batas yang tertutup bayangan antara siang dan malam di Bulan.

Awak astronaut NASA Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, bersama astronaut Badan Antariksa Kanada (Canadian Space Agency/CSA) Jeremy Hansen, diberangkatkan pada 1 April dari Kennedy Space Center di Florida.
Misi Artemis II akan mengonfirmasi sistem yang diperlukan untuk mendukung astronaut dalam eksplorasi luar angkasa dalam (deep-space) dan menyiapkan landasan untuk kehadiran berkelanjutan di Bulan, kata NASA, seraya menambahkan bahwa tujuan utama Artemis II adalah penerbangan uji coba berawak di luar angkasa Bulan.
Awak ‘Integrity’, sebutan yang diberikan para astronaut untuk kapsul mereka, telah melampaui rekor sebelumnya yaitu 400.171 km yang dicatatkan oleh awak Apollo 13 pada 15 April 1970, pada pukul 13.57 EDT (00.57 WIB), menurut NASA.
Selesai
Penulis: Wen Tsui
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China bangun jaringan cip distribusi kunci kuantum dengan cakupan jarak 3.700 km
Indonesia
•
13 Feb 2026

Sistem ‘Haijing’ China hadir di Indonesia dengan teknologi baru dan catatkan terobosan internasional
Indonesia
•
28 May 2025

Baterai ion hibrida simpan hidrogen lebih mudah dan efisien
Indonesia
•
16 May 2026

Alkohol bisa bikin orang kalap makan keripik dan pizza, ini penyebabnya
Indonesia
•
04 Jun 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
