Feature – Robot humanoid dikerahkan di lini perakitan presisi di China

Robot humanoid bekerja di lini perakitan di sebuah fasilitas produksi tablet di Nanchang, Provinsi Jiangxi, China timur, pada 14 April 2026. (Xinhua/Li Haiwei)

Nanchang, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di sebuah fasilitas produksi tablet di Kota Nanchang, China timur, empat robot humanoid telah menyelesaikan sif kerja selama delapan jam yang disiarkan langsung di sebuah lini perakitan riil yang membutuhkan operasi presisi, menandai lompatan besar lainnya dalam teknologi kecerdasan buatan berwujud (embodied AI) yang mendukung sektor manufaktur di negara tersebut.

Selama jam kerja pada Selasa (14/4), mesin-mesin mirip manusia berwarna hitam dan putih ini, dengan torso ramping menyerupai logam yang dipoles, melakukan pemeriksaan kualitas akhir sebelum tablet-tablet tersebut keluar dari lini perakitan.

Di ruangan yang sempit, Genie G2 dari AgiBot mengidentifikasi dan mengambil material-material dari konveyor dengan tepat pada kecepatan yang hampir setara dengan pekerja manusia, lalu berputar untuk memasukkannya ke dalam kotak pengujian, serta menempatkan barang yang tidak sesuai di jendela untuk diambil oleh staf. Rangkaian tindakan yang tampak sederhana ini sebelumnya secara teknis mustahil dilakukan oleh peralatan automasi yang diprogram.

Rekaman langsung menunjukkan bahwa robot-robot ini, yang dirancang di Shanghai serta didukung persepsi visual terintegrasi dan kontrol gaya, mampu beradaptasi secara otomatis terhadap penyimpangan posisi hingga 1 sentimeter serta gangguan dinamis di lini produksi. Kemampuan ini memungkinkan robot tersebut menyelesaikan kalibrasi hanya dalam waktu lima menit saat menghadapi berbagai model produk, dengan pergantian lini produksi dan pelatihan ulang memakan waktu tidak lebih dari empat jam.

Data lapangan menunjukkan bahwa model G2 menyelesaikan setiap operasi dalam 18 hingga 20 detik, memproses 310 unit per jam dengan tingkat keberhasilan keseluruhan melampaui 99,9 persen.

Perkembangan ini mewakili lompatan baru dalam visi besar China untuk manufaktur yang didukung AI. Dengan membangun siklus umpan balik yang saling memperkuat antara strategi digital dan industri, negara tersebut kini menciptakan roda penggerak inovasi yang saling terhubung dan mendorong kemajuan di seluruh industri terkait.

"Kecerdasan berwujud bukan lagi sekadar konsep di laboratorium, tetapi pendorong produktivitas nyata yang dapat masuk ke lini produksi dan menciptakan nilai riil," ujar Yao Maoqing, wakil presiden senior AgiBot.

Penerapan yang sukses pada lini produksi manufaktur berkecepatan tinggi dan presisi ini telah memberikan pengalaman eksplorasi yang berharga untuk penerapan robot selanjutnya dalam industri, kata Zhong Junhao, sekretaris jenderal Asosiasi Industri AI Shanghai (Shanghai AI Industry Association).

Pada Juli tahun lalu, AgiBot menguji robot-robot beroda dengan dua lengan di sebuah pabrik suku cadang otomotif di Kota Mianyang, China barat daya, di mana mereka menjalani uji stres dunia nyata tanpa rekayasa, seperti mengidentifikasi palet dan wadah di lantai pabrik, merencanakan rute mereka secara otonomos, dan mengangkut wadah ke rak yang ditentukan. Sebelumnya, perusahaan robotika cerdas China seperti UBTECH, yang berbasis di Shenzhen, China selatan, telah melakukan sesi pelatihan pabrik mobil.

Saat ini, robot-robot humanoid telah resmi memasuki dunia kerja, melakukan operasi kompleks alih-alih tugas kasar seperti mengangkat beban berat.

Li Long, manajer umum divisi bisnis robotika di produsen tablet Shanghai Longcheer, mengatakan bahwa hanya dalam waktu empat bulan, G2 berhasil diintegrasikan ke dalam lini produksi massal produk elektronik konsumen dan kini telah menjalani 140 jam operasi tanpa henti. Li menambahkan bahwa penggunaan robot-robot ini di Longcheer diperkirakan akan meningkat menjadi 100 unit per kuartal ketiga 2026.

Penerapan yang cepat ini serta potensi pengembalian investasinya akan mendorong implementasi skala besar di sektor elektronik konsumen, otomotif, semikonduktor, dan energi, kata Yao.

Secara khusus, perusahaan-perusahaan robotika China muncul sebagai produsen terbesar robot humanoid di dunia pada 2025.

AgiBot yang berbasis di Shanghai mencapai volume pengiriman tahunan lebih dari 5.100 unit, menguasai 39 persen pangsa pasar robot humanoid global dan menempati peringkat pertama di dunia baik dalam volume pengiriman maupun pangsa pasar, menurut laporan bulan Januari yang dirilis Omdia, perusahaan konsultan teknologi di London. Posisi berikutnya ditempati oleh Unitree dan UBTECH.

"Dalam lanskap kompetitif global di bidang embodied AI, China semakin menunjukkan keunggulannya dengan memanfaatkan banyaknya skenario penerapan di jalur produksi serta peluang sebagai pelopor dalam pengerahannya," kata Zhong.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait