
Asia berpotensi jadi pemimpin global dalam teknologi hijau yang sedang berkembang

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 19 Juli 2024 ini menunjukkan ladang angin di Tongliao, Daerah Otonom Mongolia Dalam, China. (Xinhua/Lian Zhen)
Asia dengan cepat mengalami kemajuan dalam sektor teknologi hijau yang sedang berkembang (emerging), memposisikan diri sebagai pemimpin potensial dalam hal material baterai canggih, plastik yang dapat terurai secara hayati, dan lain sebagainya, yang didorong oleh kemampuan industri dan dukungan kebijakan yang kuat.
Boao, Hainan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Asia dengan cepat mengalami kemajuan dalam sektor teknologi hijau yang sedang berkembang (emerging), memposisikan diri sebagai pemimpin potensial dalam hal material baterai canggih, plastik yang dapat terurai secara hayati, dan lain sebagainya, yang didorong oleh kemampuan industri dan dukungan kebijakan yang kuat. Demikian menurut sebuah laporan dari Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) yang dirilis pada Selasa (25/3).Bertajuk ‘Pembangunan Berkelanjutan: Laporan Tahunan Asia dan Dunia 2025, Mengatasi Perubahan Iklim: Asia Menjadi Hijau’ (Addressing Climate Change: Asia Going Green), laporan itu menyoroti kemajuan kawasan ini dalam hal energi terbarukan.Laporan tersebut menyebutkan bahwa China kini mendapatkan 85 persen kapasitas energi barunya dari energi terbarukan, sementara Indonesia dan Singapura memimpin upaya-upaya penangkapan dan penyimpanan karbon, menurut laporan itu.China, Jepang, dan Korea Selatan (Korsel) mendominasi rantai pasokan global untuk teknologi baterai lithium, yang merupakan pendorong penting elektrifikasi transportasi, papar sorotan laporan tersebut.Sementara itu, China memimpin dalam pengembangan industri hidrogen hijau di Asia. Kawasan ini kini menyumbang hampir 70 persen dari kapasitas elektroliser hidrogen dunia.Negara-negara penghasil emisi terbesar di Asia, termasuk China, India, Indonesia, Jepang, dan Arab Saudi, telah menetapkan target iklim yang ambisius, ungkap laporan tersebut.Sebagai contoh, sebagian besar negara ASEAN telah mengembangkan sejumlah strategi aksi iklim nasional dan rencana aksi yang komprehensif untuk mengimplementasikan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (Nationally Determined Contributions) dan Rencana Adaptasi Nasional (National Adaptation Plans).Kendati ada kemajuan yang signifikan, laporan tersebut menekankan bahwa sementara beberapa negara telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap keberlanjutan, masih ada negara lain yang perlu melakukan banyak upaya untuk mencapainya.Peran Asia dalam mitigasi perubahan iklim sangat krusial karena Asia merupakan rumah bagi lebih dari separuh populasi dunia, menghasilkan sekitar separuh produk domestik bruto (PDB) global, dan menyumbang lebih dari separuh emisi CO2 global.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

OPEC+ pangkas tipis ‘output’ minyak pada Oktober di tengah penurunan harga
Indonesia
•
06 Sep 2022

Rasio elektrifikasi nasional 99,20 persen pada 2020
Indonesia
•
14 Jan 2021

Minyak reli setelah stok minyak mentah AS jatuh dan permintaan kuat
Indonesia
•
10 Feb 2022

Spring Airlines buka rute Guangzhou dan Shenzhen-Jakarta, Kemenpar optimistis dongkrak pariwisata nasional
Indonesia
•
23 Jun 2026


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
